Mutiara Hikmah

icon

icon

Minggu, 08 Desember 2013

TARTIBUL ADILLAH

Ushul Fiqh
Tartibul Adillah




Tartibul Adillah[1]
Pembicaraan tentang ini akan dibahas selanjutnya:
1.      Yang dimaksud tartibul adillah yaitu: menjadikan seluruh dalil pada beberapa tingkatannya yang tepat, menurut suatu pendangan dengan beberapa pandangan lainnya.
2.      Adillah Syar’iyyah terbagi menjadi: sepakat terhadapnya dan perselisihan atasnya, qath’iyyah dan dhanniyyah, dan naqliyyah dan aqliyyah.
Dan dari kebaikan pengertian tentang ini adalah:
a)       Bahwasanya dalil yang telah disepakati adalah ada 4(empat), yaitu:
 1) Al Kitab
2) As Sunnah
3) Al Ijma’, dan
4) Qiyas.
b)       Bahwasanya dalil yang masih diperselisihkan adalah dikembalikan kepada dalil yang telah disepakati dari pandangan asalnya dan dalil tetapnya. Dengan sebab itu bisa diketahui.
c)       Bahwasanya dalil syar’iyyah, yaitu yang telah disepakati dan yang masih diperselisihkan adalah dikebalikan kepada dalil 4(empat) yang telah disepakati.
d)      Bahwasanya dalil yang 4(empat) adalah dikembalikan kepada al kitab dan as sunnah, dan semuanya dikembalikan kepada al kitab.
e)      Bahwasanya dalil yang 4(empat) telah disepakati dan tidak ada yang memperselisihkan, selalu dan tidak terpisah, semuanya adalah haq, dan yang haq tidak akan bertentangan tetapi membenarkan sebagian atas sebagian lainnya.
  1. Adillah Syar’iyyah dipandang dari wajibnya pengamalannya pada satu derajat atau tingkatan,  jika seluruhnya mewajibkan untuk mengikutinya dan berhujjah dengannnya.

Jumat, 29 November 2013

DAKWAH KEPADA KELUARGA



PRIORITAS DAKWAH KELUARGA SEBELUM MASYARAKAT UMUM
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasalllam memulai dakwah sirriyah (dakwah secara sembunyi), terutama kepada keluarga Nabi Muhammad SAW sendiri. ”Dan berilah peringatan kepada keluargamu terdekat.” – QS Asy-Syu’ara (26): 214.
Keluarga adalah yag paling berhak untuk di dakwahi dikarenakan mereka hidup di tengah-tengah kita dan yang paling tahu keadaan kita, dan juga berdasarkan dari ayat diatas Rasulullah tauladan kita juga diperintahkan dengan hal tersebut.
Wahyu pertama yang diterima Nabi di Gua Hira kemudian disusul dengan wahyu kedua, yang berbunyi, ”Hai orang yang berselimut, bangunlah dan berilah peringatan!” – QS Al-Mudatsir (74): 1-2. Dengan turunnya wahyu tersebut, maka mulailah dilakukan dakwah sirriyah (dakwah secara sembunyi), terutama kepada keluarganya sendiri. ”Dan berilah peringatan kepada keluargamu terdekat.” – QS Asy-Syu’ara (26): 214.
Menurut M. Yunan Yusuf dalam makalah berjudul Strategi Dakwah Rasulullah, Dari Kerabat Menuju Kesatuan Umat, dalam buku Kajian Tematik Al-Quran tentang Fiqih Ibadah, keluarga terdekat Rasulullah bila ditelurusi dari silsilah berawal dari Qushai. Qushai mempunyai tiga orang anak, masing-masing bernama Abdul Uzza, Abdul Manaf, dan Abdul Darr. Dari ketiga anak ini, silsilah Rasulullah berkaitan dengan Abdul Manaf, yang mempunyai empat anak. Yaitu Muthalib, Hasyim, Naufal, dan Abd Syams. Hasyim mempunyai seorang anak bernama Abdul Muthalib. Selanjutnya, Abdul Muthalib mempunyi sepuluh anak, tetapi yang disebut namanya hanya enam orang, yaitu Abdullah, Abbas, Abu Lahab, Abu Thalib, Haris, Hamzah. Abdullah adalah ayah Rasulullah.

Kamis, 28 November 2013

LELAH DALAM DAKWAH

 
 

          Terkadang kita merasa lelah dan putus asa ketika cobaan selalu mendera seakan tiada habisnya, ingatlah kawan semua itu adalah ujian untuk menentukan siapa yang terbaik diantara hamba-Nya. The True Fighting for Me and You All. La Tahzan Innallaha Ma'anaa. ( Q.S. At Taubah : 40 )


By:
Ca' Hur

Sabtu, 31 Agustus 2013

BIOGRAFI IMAM MUSLIM



IMAM MUSLIM

Penghimpun dan penyusun hadits terbaik kedua setelah Imam Bukhari adalah Imam Muslim. Nama lengkapnya ialah Imam Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim bin Kausyaz al-Qusyairi an-Naisaburi. Ia juga mengarang kitab As-Shahih (terkenal dengan Shahih Muslim). Ia salah seorang ulama terkemuka yang namanya tetap dikenal hingga kini. Ia dilahirkan di Naisabur pada tahun 206 H. menurut pendapat yang shahih sebagaimana dikemukakan oleh al-Hakim Abu Abdullah dalam kitabnya ‘Ulama’ul-Amsar.

Kehidupam Dan Perjalanannya Mencari Ilmu
Ia belajar hadits sejak masih dalam usia dini, yaitu mulaii tahun 218 H. Ia pergi ke Hijaz, Iraq, Syam, Mesir dan negara-negara lainnya.
Dalam lawatannya Imam Muslim banyak mengunjungi ulama-ulama kenamaan untuk berguru hadits kepada mereka. Di Khurasan, ia berguru kepada Yahya bin Yahya dan Ishak bin Rahawaih; di Ray ia berguru kepada Muhammad bin Mahran dan Abu ‘Ansan. Di Irak ia belajar hadits kepada Ahmad bin Hambal dan Abdullah bin Maslamah; di Hijaz belajar kepada Sa’id bin Mansur dan Abu Mas’Abuzar; di Mesir berguru kepada ‘Amr bin Sawad dan Harmalah bin Yahya, dan kepada ulama ahli hadits yang lain.
Muslim berkali-kali mengunjungi Baghdad untuk belajar kepada ulama-ulama ahli hadits, dan kunjungannya yang terakhir pada 259 H. di waktu Imam Bukhari datang ke Naisabur, Muslim sering datang kepadanya untuk berguru, sebab ia mengetahui jasa dan ilmunya. Dan ketika terjadi fitnah atau kesenjangan antara Bukhari dan Az-Zihli, ia bergabung kepada Bukhari, sehingga hal ini menjadi sebab terputusnya hubungan dengan Az-Zihli. Muslim dalam Shahihnya maupun dalam kitab lainnya, tidak memasukkan hadits-hadits yang diterima dari Az-Zihli padahal ia adalah gurunya. Hal serupa ia lakukan terhadap Bukhari. Ia tidak meriwayatkan hadits dalam Shahihnya, yang diterimanya dari Bukhari, padahal iapun sebagai gurunya. Nampaknya pada hemat Muslim, yang lebih baik adalah tidak memasukkan ke dalan Shahihnya hadits-hadits yang diterima dari kedua gurunya itu, dengan tetap mengakui mereka sebagai guru.

Senin, 22 Juli 2013

PELOPOR MAULUD NABI



Sejarah Munculnya Peringatan Maulud Nabi
Disebutkan para ahli sejarah bahwa kelompok yang pertama kali mengadakan maulid adalah kelompok Bathiniyah, mereka menamakan dirinya sebagai Bani Fatimiyah dan mengaku sebagai keturunan ahli bait (keturunan Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam). Disebutkan bahwa kelompok Batiniyah memiliki 6 peringatan maulid, yaitu maulid Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, maulid Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, maulid Fatimah, maulid Hasan, maulid Husain dan maulid penguasa mereka. Daulah Bathiniyah ini baru berkuasa pada awal abad ke-4 H. Oleh karena itu, para ulama sepakat bahwa maulid Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam baru muncul di zaman belakangan, setelah berakhirnya massa tiga abad yang paling utama dalam umat ini (al quruun al mufadholah). Artinya peringatan maulid ini belum pernah ada di zaman Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dan para sahabat, tabi’in dan para tabi’ tabi’in. Al Hafizh As Sakhawi mengatakan: “Peringatan maulid Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam belum pernah dinukil dari seorang pun ulama generasi terdahulu yang termasuk dalam tiga generasi utama dalam Islam. Namun peringatan ini terjadi setelah masa itu.”

Pada hakikatnya, tujuan utama daulah ini mengadakan peringatan maulid Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam adalah dalam rangka menyebarkan aqidah dan kesesatan mereka. Mereka mengambil simpati kaum muslimin dengan kedok cinta ahli bait Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam. (Dhahiratul Ihtifal bil Maulid An Nabawi, Abdul Karim Al Hamdan)

Rabu, 17 Juli 2013

BIOGRAFI IMAM BUKHARI






IMAM BUKHARI 

Tokoh Islam penghimpun dan penyusun hadits itu banyak, dan yang lebih terkenal di antaranya seperti yang disebut diatas. Adapun urutan pertama yang paling terkenal diantara enam tokoh tersebut di atas adalah Amirul-Mu’minin fil-Hadits (pemimpin orang mukmin dalam hadits), suatu gelar ahli hadits tertinggi. Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn al-Mughirah ibn Bardizbah. Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail, terkenal kemudian sebagai Imam Bukhari, lahir di Bukhara pada 13 Syawal 194 H (21 Juli 810 M), cucu seorang Persia bernama Bardizbah. Kakeknya, Bardizbah, adalah pemeluk Majusi, agama kaumnya. Kemudian putranya, al-Mughirah, memeluk Islam di bawah bimbingan al-Yaman al Ja’fi, gubernur Bukhara. Pada masa itu Wala dinisbahkan kepadanya. Kerana itulah ia dikatakan “al-Mughirah al-Jafi.”
Mengenai kakeknya, Ibrahim, tidak terdapat data yang menjelaskan. Sedangkan ayahnya, Ismail, seorang ulama besar ahli hadits. Ia belajar hadits dari Hammad ibn Zayd dan Imam Malik. Riwayat hidupnya telah dipaparkan oleh Ibn Hibban dalam kitab As-Siqat, begitu juga putranya, Imam Bukhari, membuat biografinya dalam at-Tarikh al-Kabir.
Ayah Bukhari disamping sebagai orang berilmu, ia juga sangat wara’ (menghindari yang subhat/meragukan dan haram) dan taqwa. Diceritakan, bahawa ketika menjelang wafatnya, ia berkata: “Dalam harta yang kumiliki tidak terdapat sedikitpun wang yang haram maupun yang subhat.” Dengan demikian, jelaslah bahawa Bukhari hidup dan terlahir dalam lingkungan keluarga yang berilmu, taat beragama dan wara’. Tidak hairan jika ia lahir dan mewarisi sifat-sifat mulia dari ayahnya itu.
Ia dilahirkan di Bukhara setelah salat Jum’at. Tak lama setelah bayi yang baru lahr itu membuka matanya, iapun kehilangan penglihatannya. Ayahnya sangat bersedih hati. Ibunya yang saleh menagis dan selalu berdo’a ke hadapan Tuhan, memohon agar bayinya bisa melihat. Kemudian dalam tidurnya perempuan itu bermimpi didatangi Nabi Ibrahim yang berkata:
“Wahai ibu, Allah telah menyembuhkan penyakit putramu dan kini ia sudah dapat melihat kembali, semua itu berkat do’amu yang tiada henti-hentinya.”
Ketika ia terbangun, penglihatan bayinya sudah normal. Ayahnya meninggal di waktu dia masih kecil dan meninggalkan banyak harta yang memungkinkan ia hidup dalam pertumbuhan dan perkembangan yang baik. Dia dirawat dan dididik oleh ibunya dengan tekun dan penuh perhatian.

RETORIKA DAKWAH (Persiapan)






Retorika Dakwah
(Persiapan)

*Semangat dalam menyampaikan materi
*Buat kesan pertama jama’ah terkesan

Retorika Dalam Praktek:

1.      Pentingnya Persiapan
 
Dalam menyampaikan materi didepan jama’ah sangat perlu diadakannya persiapan, dan menganggap bahwa audien adalah orang-orang yang alim. Setiap akan melakukan sesuatu kegiatan apapun perlu adanya persiapan, persiapan merupakan sesuatu yang amat penting. Dalam berceramah dan khutbah, persiapan menjadi lebih penting lagi bagi pemula atau siapa saja yang belum berpengalaman. Plato pernah mengatakan, ”jika seseorang berbicara didepan khalayak tanpa persiapan bagaikan telanjang didepan umum”.

Imam Jalaluddin Abdurrahman ibnu Abi bakar As suyuthi menyebutkan dalam kitabnya;

الفتح الكبير في ضم الزيادة إلى الجامع الصغير (3/ 23)
لِكُلِّ شَيْءٍ طَرِيقٌ وَطَرِيقُ الجَنَّةِ الْعِلْمُ عن ابن عمر

“setiap sesuatu itu ada caranya, dan cara menuju surga adalah ilmu”.(dari Ibnu Umar)

Jumat, 17 Mei 2013

IMAM AL GHAZALI


BIOGRAFI IMAM AL GHAZALI

“Siapa yang tak kenal dengan nama Imam Al Ghazali, yang namanya sudah mengudara dan terang benderang meng-udara dilangit bagai bintang gejora yang menerangi malam gelap gulita, jasanya kepada agama islam tak akan padam karena sinaran karyanya yang sudah menyebar menerangi seluruh alam”
a.         Kelahiran Imam Al Ghazali
Imam Al Ghazali nama lengkap beliau adalah Abu Hamid Muhammad Ibnu Muhammad Al Ghazali At-Thusi, yang terkenal dengan hujjatul Islam (argumentator islam), beliau sangat di hormati dan di segani oleh para ulama’ dan umat islam pada zamannya hingga sekarang, hal ini dikarenakan jasa beliau yang sangat besar terhadap islam, melalui dengan dakwah dan karyanya yang menyebar keseluruh penjuru dunia termasuk di indonesia. Beliau lahir pada tahun 450 H, di Ghazalah suatu kota kecil yang terlelak di Thus wilayah Khurasah yang waktu itu merupakan salah satu pusat ilmu pengetahuan didunia islam.[1]
Keluarga Imam Al Ghazali sangat sederhana, ayahnya adalah seorang pengrajin wol sekaligus sebagai pedagang hasil tenunannya, dan taat beragama, mempunyai semangat keagamaan yang tinggi, seperti terlihat pada ketertarikannya kepada ‘ulama dan mengharapkan anaknya menjadi ‘ulama yang selalu memberi nasehat kepada umat. Itulah sebabnya, ayahnya sebelum wafat menitipkan anaknya (Imam Al Ghazali) dan saudarnya (Ahmad), ketika itu masih kecil dititipkan pada teman ayahnya, seorang ahli tasawuf untuk mendapatkan bimbingan dan didikan.[2] Meskipun dilahirkan dikalangan keluarga yang sederhana, hal ini tidak menjadikan beliau malas namun justru menjadi penyemangat beliau dalam menuntut ilmu pengetahuan, sehingga kita dapat mempelajari karya-karyanya yang sangat banyak dalam hal keislaman dan ilmu lainnya.

Selasa, 30 April 2013

KEBANGKITAN DAN DAKWAH



KEBANGKITAN DAN DAKWAH

Kebangkitan dan dakwah adalah sesuatu yang sangat penting dalam islam bagaikan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain, dengan dua hal tersebut ummat ini akan menuju perubahan yang lebih baik jika benar-benar bisa bangkit dan mendakwahkan ajarannya kepada seluru alam, sehingga hukum yang telah ditetapkan oleh Rabbil’izzati bisa diaplikasikan dalam kehidupan seluruh ummat manusia. Dengan begitu diharapkan bagi ummat ini untuk menuju derajat yang lebih tinggi dalam stratata kehidupan manusia baik di dunia maupun di akhirat, dalam hal ini kita akan membahas dulu tentang pengertian kebangkitan dan dakwah.
Pengertian kebangkitan (ash-shahwah) yang langsung terlintas di dalam benak kita adalah kata: shaha-yashhu; artinya bangun(Sadar tidak tidur)[1]. Melihat realita saat ini, keadaan umat adalah bagaikan orang yang sedang tidur, yang terlena dari kesadarannya(sebagaimana yang disebutkan syaikh ‘Utsamin dalam kitabnya”Ash Shahwah Al Islamiyah”).
Ash-shaha, artinya lenyap mabuknya. Orang Arab membandingkan mabuk dengan as-Shahwah, yakni antara berakal dan tidak berakal.[2] Di antara contohnya: dia ingin mengambilnya antara as-sukrah dan as-shahwah. Ini misalnya seorang pelajar yang merasa bodoh, sementara ia mengetahui.
Shaha dalam bahasa Arab – jika untuk menyifati manusia – juga diartikan dengan kesadaran, kesembuhan dan kebangunan. Hal itu diketahui dari lawan katanya, yaitu tidur atau mabuk. Dikatakan: Shaha min nawmih aw min sukrih (Dia bangkit dari tidurnya atau sadar dari mabuknya). Maknanya: bangkit/sadar.[3] Dengan kata lain, kesadarannya telah kembali yang sebelumnya lenyap dari dirinya sebagai akibat dari sesuatu yang alami, yaitu tidur, atau suatu rekayasa, yaitu mabuk.
Ash-Shahwah (kebangkitan) pada asalnya untuk menyatakan kekuatan kesadaran pada diri manusia yang diungkapkan dengan hati atau kesadaran atau akal[4], Sesuatu yang membuat limbung umat adalah sama dengan apa yang membuat limbung individu, yaitu hilangnya kesadaran baik jangka panjang maupun pendek akibat tidur dan terlenanya umat dari dalam diri umat sendiri atau dari luar akibat tidur yang dipaksakan kepadanya oleh pihak lain. Jadi ash-shahwah (kebangkitan) artinya adalah kembalinya kesadaran dan kembalinya kewaspadaan umat yang sebelumnya telah hilang.
Inilah pengertian etimologis dari kata bangkit dan kebangkitan. Adapun makna istilah kata kebangkitan (ash-shahwah) sebagaimana diketahui adalah kebangkitan dari keterpurukan dan keterlenaan serta dari ketiadaan pemahaman terhadap realita hakiki yang menjadi realita hidup umat. Hal itu akibat dari banyak faktor yang menutupi umat dari kebenaran; memalingkan umat dari memahami realita; dan kewaspadaan umat terhadap realita ini serta upaya umat untuk mengubah dan membebaskan diri darinya menuju realita yang lebih mulia.
Sedangkan makna dakwah adalah Secara bahasa perkataan da’wah berasal dari kata kerja دعا يدعو دعوة    (da’â – yad’û, da’watan), yang berarti mengajak, menyeru, memanggil.[5] Disebutkan juga dalam kamus al munjid dengan arti yang serupa yaitu  دعا يدعو دعوة   artinya memanggil/mengajak atau panggilan/ajakan.[6] Syaikh Abdurrahman ibnu Nashir As Sa’di menyebutkan dalam tafsirnya pada penafsiran dari surat Al Baqarah ayat 186, bahwa; Panggilan itu dibagi menjadi dua(2):
a.       Panggilan kepada ibadah
b.      Panggilan kepada masalah[7]
Dari dua pengertian dakwah yang disampikan oleh Syaikh Abdurrahman ibnu Nashir As Sa’di, tentu saja dakwah yang kita dimaksudkan adalah dakwah kepada ibadah. Yaitu mengajak manusia kepada ibadah kepada Allah Ta’ala saja. Dan dengan dakwah ini pula diharapkan bisa membangkitkan ummat yang sedang terpuruk dari berbagai segi kehidupannya, dari segi agama ummat ini sangat kurang dan dari segi harta juga masih banyak yang berada pada garis kemiskinan. Dan cara untuk membangkitkan mereka adalah dengan mendakwahkan ajaran agama ini sehingga ummat faham betul hakikat hidup dan mereka diciptakan oleh Allah Ta’ala, dengan kefahaman yang mereka miliki diharapkan menimbulkan kesadaran untuk bangkit dan turut andil dalam perjuangan dan dakwah ini.

Selasa, 16 April 2013

AL-WALA' WAL BARA' MENURUT AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH




AL-WALA' WAL BARA'
MENURUT AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH

Salah satu dari prinsip ‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah, yaitu mencintai dan memberikan wala' (loyalitas) kepada kaum Mukminin, membenci kaum musyrikin dan orang-orang kafir serta berpaling (bara') dari mereka.[1]
Al-Wala' dalam bahasa Arab mempunyai beberapa arti, antara lain; mencintai, menolong, mengikuti dan mendekat kepada sesuatu. Selanjutnya, kata al-muwaalaah (لْمُوَالاَةُ) adalah lawan kata dari al-mu'aadaah(الْمُعَادَاةُ) atau al-‘adawaah(الْعَدَوَاةُ) yang berarti permusuhan. Dan kata al-wali (الْوَلِى) adalah lawan kata dari al-‘aduww (الْعَدُوُّ) yang berarti musuh.[2] Kata ini juga digunakan untuk makna memantau, mengikuti, dan berpaling. Jadi, ia merupakan kata yang mengandung dua arti yang saling berlawanan.
Dalam terminologi syari'at Islam, al-Wala' berarti penyesuaian diri seorang hamba terhadap apa yang dicintai dan diridhai Allah berupa perkataan, perbuatan, kepercayaan, dan orang yang melakukannya. Jadi ciri utama wali Allah adalah mencintai apa yang dicintai Allah dan membenci apa yang dibenci Allah, ia condong dan melakukan semua itu dengan penuh komitmen. Dan mencintai orang yang dicintai Allah, seperti seorang mukmin, serta membenci orang yang dibenci Allah, seperti orang kafir.[3]
Sedangkan kata al-bara' dalam bahasa Arab mempunyai banyak arti, antara lain menjauhi, membersihkan diri, melepaskan diri dan memusuhi. Kata bari-a (بَرِيءَ) berarti Bebas,[4] atau membebaskan diri dengan melaksanakan kewajibannya terhadap orang lain.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
بَرَاءَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِه.....
“(Inilah pernyataan) pemutusan hubungan dari Allah dan Rasul-Nya.... ” [At-Taubah: 1]
Maksudnya, membebaskan diri, menjauh, menganggap selesai dengan peringatan terhadapnya.[5]
Maka, Kesimpulan makna al-wala' adalah apa yang dicintai Allah, sedangkan Kesimpulan makna al-bara' adalah apa yang dibenci Allah. 

A. Definisi ‘Aqidah al-Wala' dan al-Bara'
Dari penjelasan diatas: ‘aqidah al-wala' wal-bara' dapat didefinisikan sebagai penyesuaian diri seorang hamba terhadap apa yang dicintai dan diridhai Allah serta apa yang dibenci dan dimurkai Allah, dalam hal perkataan, perbuatan, dan kepercayaan. Dari sini kemudian kaitan-kaitan al-wala' wal bara' dibagi menjadi empat:

Rabu, 10 April 2013

TAUJIHAT SHAHWAH ISLAMIYAH





Panduan Kebangkitan Islam Syaikh 'Utsaimin 73-81



ORIENTASI SYABABUSH SHAHWAH

Tidak Diperbolehkan Bagi Seseorang Berbicara Tentang Agama Tanpa Ilmu
73. Nasihat apa yang diberikan kepada kaum supaya mereka menegakkan dakwah Ilallah dengan mendatangi serta mengajaknya kemasjid, sebagian dari mereka tidak mengerti ilmu sedikitpun?
Adapun metode meng-ishlah yang tepat adalah melihat  dan mengikuti dengan media(perantara) yang sesuai selama media itu bukanlah sesuatu yang dilarang, karena media terbatas dengan dzatnya dan tidak disebut sebagai hukum, tetapi pada media itu adanya adalah ahkamul maqasid(maksud dari hukum) tersebut.
Adapun media yang terlarang tidaklah diperbolehkan mengikutinya, seperti; seseorang yang menjadikan menari dan menyanyi sebagai media untuk mengumpukan manusia, kemudian mengajak mereka kepada Allah, karena yang seperti itu adalah haram dan tidak bermanfaat, karena Allah tidak menjadikan obat bagi umat dari apa-apa yang diharamkannya.
Maka perantara dalam berdakwah kepada Allah adalah sesuatu yang diperbolehkan selama itu bukan perkara yang dilarang, karena media perantara pada batasan dzatnya bukanlah termasuk ibadah tetapi metode untuk mencapai tujuan yang dimaksud, seperti; mengunjungi masyrakat, membacakan Al Quran kepada meraka dan apa-apa yang mudah dari hadits-hadits Rosulullah dan mengeluarkan  meraka dengannya bersama mereka untuk mengajari dan mencerdaskan mereka maka hal ini adalah kebaikan tanpa diragukan lagi.
Dengan sebab itulah, tidak diperbolehkan seseorang berbicara tentang agama tanpa ilmu. Sebagaimana firman Allah;
قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ } [الأعراف: 33
33. Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui."(Q.S. Al A’raf: 33)
Juga firman Allah;
{وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا} [الإسراء: 36]
36. dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (Q.S. Al Isra’: 36)
Ibnu ‘Abbas menjelaskan bahwa [walaa taqfu] artinya [walaa taqul] (jangan berkata).[1]
Ibnu Katsir menerangkan ayat di atas berkata:
“Sesungguhnya Allah melarang perkataan tanpa ilmu, juga perkataan dengan dhan (persangkaan).”[2]
Itu semua adalah sangat sesuai, lebih di sukai dan sebagai peringatan, karena kebanyakan dari da’i mereka menyampaikan hadits-hadits yang tidak jelas asalnya dalam ceramah meraka. Diantaranya hadits dho’if, maupun hadits maudhu’, mereka berdakwah dengan begitu bertujuan memikat manusia dengan hadits-hadits tersebut, dan itu adalah termasuk kesalahan yang besar. Sedangkan masih banyak hadits-hadits shohih dari Rosul Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, juga dalil dari kitabullah, maka dari itu kita tinggalkan menggunakan hadits-hadits yang maudhu’ dan dho’if.[3]
Sebagai seorang da’i harus selalu jujur dalam menyampaikan risalah dakwah dengan cara menyampaikan yang sesuai dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah. Jujur adalah sifat yang harus dimiliki oleh semua orang terkhusus lagi bagi seorang da’i, dan Rasul-pun mewajibkan kepada ummatnya untuk selalu berlaku jujur sebagaimana sabdanya yang diriwayatkan dari ‘Abdullah ibnu Mas’ud;
وعن عبد الله بن مسعود قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : " عليكم بالصدق فإن الصدق يهدي إلى البر وإن البر يهدي إلى الجنة وما يزال الرجل يصدق ويتحرى الصدق حتى يكتب عند الله صديقا . وإياكم والكذب فإن الكذب يهدي إلى الفجور وإن الفجور يهدي إلى النار وما يزال الرجل يكذب ويتحرى الكذب حتى يكتب عند الله كذابا " . متفق عليه
“Wajib bagi kalian untuk bersikap jujur, kerana kejujuran akan membawa  kepada kebaikan, dan kebaikan itu akan membawa ke syurga. Apabila seseorang terus menerus bersikap jujur dan berusaha untuk sentiasa jujur maka di sisi Allah dia akan dicatat sebagai orang yang Siddiq. Dan jauhilah kedustaan, kerana kedustaan itu akan membawa kepada kefajiran[4], dan kefajiran akan menjerumuskan ke dalam neraka. Apabila seseorang terus menerus berdusta dan mempertahankan kedustaannya maka di sisi Allah dia akan dicatat sebagai seorang pendusta.”(Muttafaqun ‘Alaih).[5]

TELA'AH MAJALAH SABILI


TELA’AH MAJALAH SABILI


1.    PENDAHULUAN
Seiring dengan perkembangan zaman, media massa tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan masyarakat, kehadiran media masa memberikan kemudahan pada masyarakat dalam memperoleh informasi dengan mudah diakses melalui televisi, radio, internet, majalah, Koran, dll.
Secara garis besar, media masa dapat dibagi menjadi dua yaitu, media masa cetak (majalah, Koran, dll). dan media masa  eletronik (televisi, radio, internet). Media masa ini terus berkembang hingga saat ini, perkembangannya dapat kita lihat melalu banyaknya atau bertambahnya media masa sekarang ini. Salah satu media cetak yang mengalami perkembangan pada saat ini adalah majalah.
Perkembangan majalah dengan konsep Islami sangatlah menarik untuk dicermati, selain memberikan informasi kondisi Islam, juga merupakan sebagai media dakwah. Majalah Islami ini yang menyuguhkan informasi berdasarkan kaidah Islam tentunya dengan desain yang menarik.

2.    LATAR BELAKANG BERDIRI
Pada awal zaman 1980 an, muncullah gerakan Islam, Yang paling menonjol lahirnya kelompok-kelompok pengajian usroh (dirumah-rumah). Pengajian usroh tersebut dikembangkan di masjid-masjid hingga kemudian berganti nama menjadi gerakan tarbiyah.
Salah satu bentuk strategi dakwah atau penyebaran ide-ide dalam pergerakan ini dengan membuat media masa. kemudian pada pertengan zman 1980 an dibuatlah majalah baru dengan nama SABILI. Kata Sabili itu sendiri berasal dari kata arab yang artinya “jalanku”. Majalah ini secara gotong royong dibangun oleh aktivis muslim yang tergabung Tela’ah dan Amalia Islam (TAI)

Rabu, 03 April 2013

DEWAN DAKWAH ISLAMIYAH INDONESIA


Berdirinya Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia

Masa Orde Lama (1959-1965) tercatat sebagai masa paling gelap dalam sejarah kehidupan kebangsaan Indonesia. Persiden Sukarno mencanangkan Konsepsi Presiden yang secara operarional terwujud dalam bentuk Demokrasi Terpimpin. Demokrasi terpimpin memusatkan seluruh kekuasaan ditangan Presiden. Para pemimpin nasional Mochtar Lubus, K.H. Isa Anshari, Mr. Assaat, Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Boerhanoeddin Harahap, S.H., M. Yunan nasution, Buya Hamka, Mr, Kasman Singodimedjo dan K.H E.Z. Muttaqin yang bersikap kritis terhadap politik Demokrasi terpimpin, ditangkap dan dipenjarakan tanpa proses pengadilan. Puncak dari masa penuh kegelapan itu ialah pecahnya peberontakan berdarah G.30.S/PKI.
Sesudah seluruh kekuatan bangsa yang anti komunis bangkit menghancurkan pemberontakan tersebut, datanglah zaman baru yang membawa banyak harapan. Yaitu era Orde Baru yang bertekad melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Pada masa  inilah, para pemimpin bangsa yang dipenjarakan oleh rezim Orde Lama dibebaskan.

Senin, 18 Maret 2013

HUKUM BAGI LAKI-LAKI MEMAKAI CELAK



Hukum Memakai Celak Bagi Laki-Laki
Celak biasanya berupa bubuk untuk memalit bulu mata atau disapukan di sekeliling mata. Telah diketahui banyak orang bahwa celak adalah perhiasan yang dipakai wanita untuk berhias. Walaupun terdapat perbedaan diantara para ulama tentang boleh-tidaknya wanita bercelak di depan lelaki non-mahram. Namun yang menjadi bahasan dalam artikel singkat ini adalah tentang bagaimana hukum memakai celak bagi laki-laki. Dalam artikel singkat ini hanya akan dibawakan beberapa hadits tentang celak dan fatwa para ulama abad ini tentang masalah tersebut.
HADITS-HADITS TENTANG MEMAKAI CELAK
Hadits 1:

اكْتَحِلُوا بِالْإِثْمِدِ فَإِنَّهُ يَجْلُو الْبَصَرَ وَيُنْبِتُ الشَّعْرَ

“Bercelaklah kalian dengan itsmid, karena dia bisa mencerahkan mata dan menumbuhkan rambut” (HR. At Tirmidzi no.1679 dalam Sunan-nya bab Maa jaa-a fil iktihaal, Ahmad no.15341 dalam Musnad-nya)
Status hadits:
At Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan gharib”. Al Mubarakfuri berkata dalam Tuhfatul Ahwadzi: “Dikeluarkan juga oleh Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban”.
Hadits 2:

عَلَيْكُمْ بِالْإِثْمِدِ عِنْدَ النَّوْمِ فَإِنَّهُ يَجْلُو الْبَصَرَ وَيُنْبِتُ الشَّعَرَ

“Bercelaklah memakai itsmid ketika hendak tidur, karena ia dapat mencerahkan pandangan dan menumbuhkan rambut” (HR. Ibnu Majah dalam Sunan-nya no.3846 bab Al Kahlu Bil Itsmid)
Status hadits:
Dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan Ibni Majah (2/263/2818).
Hadits 3:
Dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi bersabda:

وَإِنَّ خَيْرَ أَكْحَالِكُمُ الْإِثْمِدُ يَجْلُو الْبَصَرَ وَيُنْبِتُ الشَّعْرَ

“Celak yang paling baik bagi kalian adalah istmid, ia bisa mencerahkan pandangan dan menumbuhkan rambut” (HR. Abu Daud no.3380 dan 3539, Ibnu Majah no. 3488, Ahmad no. 2109)
Status Hadits:
Dalam Aunul Ma’bud dijelaskan bahwa Imam At Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan shahih”. Di shahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud (2/766/3426).
Hadits 4

عليكم بالإثمد ؛ فإنه منبتة للشعر ، مذهبة للقذى ، مصفاة للبصر

“Bercelaklah dengan itsmid. Karena ia menumbuhkan rambut, mengilangkan kotoran yang masuk ke mata, dan mencerahkan pandangan”
(HR. ‘Abu Ashim, Ath Thabrani. Lihat Aunul Ma’bud syarah hadits no. 1679)
Status hadits:

Dihasankan oleh Al Albani dalam Silsilah Ahaadits Shohihah (2/270/665)
 

Sample text