Mutiara Hikmah

icon

icon

Jumat, 29 November 2013

DAKWAH KEPADA KELUARGA



PRIORITAS DAKWAH KELUARGA SEBELUM MASYARAKAT UMUM
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasalllam memulai dakwah sirriyah (dakwah secara sembunyi), terutama kepada keluarga Nabi Muhammad SAW sendiri. ”Dan berilah peringatan kepada keluargamu terdekat.” – QS Asy-Syu’ara (26): 214.
Keluarga adalah yag paling berhak untuk di dakwahi dikarenakan mereka hidup di tengah-tengah kita dan yang paling tahu keadaan kita, dan juga berdasarkan dari ayat diatas Rasulullah tauladan kita juga diperintahkan dengan hal tersebut.
Wahyu pertama yang diterima Nabi di Gua Hira kemudian disusul dengan wahyu kedua, yang berbunyi, ”Hai orang yang berselimut, bangunlah dan berilah peringatan!” – QS Al-Mudatsir (74): 1-2. Dengan turunnya wahyu tersebut, maka mulailah dilakukan dakwah sirriyah (dakwah secara sembunyi), terutama kepada keluarganya sendiri. ”Dan berilah peringatan kepada keluargamu terdekat.” – QS Asy-Syu’ara (26): 214.
Menurut M. Yunan Yusuf dalam makalah berjudul Strategi Dakwah Rasulullah, Dari Kerabat Menuju Kesatuan Umat, dalam buku Kajian Tematik Al-Quran tentang Fiqih Ibadah, keluarga terdekat Rasulullah bila ditelurusi dari silsilah berawal dari Qushai. Qushai mempunyai tiga orang anak, masing-masing bernama Abdul Uzza, Abdul Manaf, dan Abdul Darr. Dari ketiga anak ini, silsilah Rasulullah berkaitan dengan Abdul Manaf, yang mempunyai empat anak. Yaitu Muthalib, Hasyim, Naufal, dan Abd Syams. Hasyim mempunyai seorang anak bernama Abdul Muthalib. Selanjutnya, Abdul Muthalib mempunyi sepuluh anak, tetapi yang disebut namanya hanya enam orang, yaitu Abdullah, Abbas, Abu Lahab, Abu Thalib, Haris, Hamzah. Abdullah adalah ayah Rasulullah.
Abd Syams, saudara kakek buyut Rasulullah, mempunyai anak bernama Umayyah. Umayyah mempunyai anak bernama Harb, dan Harb memiliki anak bernama Abu Sufyan. Dari keturunan Abu Sufyan inilah kemudian lahir Mu’awiyah sebagai bapak Bani Ummayyah. Demikian pula, paman Rasullah, Abbas, di kemudian hari menurunkan para khalifah Bani Abbasiyyah.
Saudara kakek buyut Rasulullah yang lain, yaitu Abdul Uzza, menurunkan keluarga Asad dan Khuwailid. Khuwailid mempunyai dua orang anak, yaitu Awwam dan Khadijah. Khadijah, sesudah ditinggal mati oleh suaminya yang pertama, kemudian menikah dengan Rasulullah.
Ketika turunnya ayat tersebut, yang dimaksud dengan keluarga dekat Rasulullah adalah mereka yang hidup semasa dengan beliau. Bila disebut satu per satu, mereka adalah Abbas, Abu Lahab, Abu Thalib Haris, dan Hamzah. Untuk melaksanakan perintah Allah tersebut, Rasulullah pun menyeru kaum kerabatnya ini.
Imam Bukhari meriwayatkan hal tersebut dalam kitab Shahih-nya sebagai berikut;
”Wahai putra-putri Fihr, Adi, dan seluruh anggota suku Quraisy”, sehingga mereka berkumpul, sampai tak dapat hadir pun mengirimkan wakilnya untuk mengetahui apa yang disampaikan Muhammad SAW. Abu Lahab bersama tokoh Quraisy lainnya datang.
Nabi bersabda, ”Bagaimana kalau aku kabarkan kepada kalian bahwa di lembah ini ada sepasukan berkuda yang akan menyerang kalian, apakah kalian percaya kepadaku?”
Mereka menjawab, ”Kami tidak pernah melihat engkau berdusta.”
Nabi bersabda, ”Sesungguhnya akan ada yang memperingatkan kalian tentang bahaya besar di hari kemudian.”
Abu Lahab berkata, ”Celakalah engkau. Untuk hal inikah engkau mengumpulkan kami?”
Lalu turunlah ayat Tabbat yada Abi Lahabiw wa tabba (HR Bukhari).
Selanjutnya, Rasulullah mengundang kaum kerabat anggota keluarga terdekat untuk makan bersama-sama di rumah beliau sendiri. Diriwayatkan bahwa yang hadir ketika itu sampai mencapai 40 orang, termasuk Abu Lahab.
Setelah selesai jamuan makan, Rasulullah bersiap-siap untuk memulai membicarakan maksud yang akan di­sampaikan kepada para tamunya. Namun, sebelum beliau sempat berdiri untuk maksud tersebut, Abu Lahab memotong jalan mendahului berdiri ter­lebih dahulu, lalu berpidato dengan lantang penuh nafsu. ”Mereka (yang hadir) ini adalah saudara-saudara bapakmu dan anak-anak keturunan dari saudara-saudara bapakmu. Maka (sekarang) berbicaralah! Dan hentikanlah penyelewenganmu (dari agamamu) itu. Jangan engkau menyerang agama kaummu. Jangan kamu serahkan mereka kepada kemarahan bangsa Arab, sebab sesungguhnya kaummu tidak akan sanggup melawan mereka bangsa Arab keseluruhannya. Mereka (kaummu) tidak sanggup berperang dengan mereka.
Kaummu sudah tahu maksudmu, hendak mengubah agama mereka. Tidak tersembunyi bagi mereka apa urusanmu (yang sebenarnya) dan bahwa engkau mengajak mereka kepada penyelewengan, (mengajak mereka) supaya keluar dari tradisi nenek moyang (kita). Awaslah, jagalah keselamatan dirimu dan keselamatan keluargamu. Tidak sukar bagi mereka untuk menyerangmu dan membunuhmu. Kembalilah kepada agama dan bapak nenek moyangmu. Itulah lebih baik bagimu. Kalau tidak, kami akan penjarakan engkau sampai engkau sehat kembali dari penyakit itu, sehingga dapat melindungimu dari bangsa Arab. Kami lebih patut dan pantas mendidikmu sampai pikiranmu sehat kembali, sehingga engkau bebas dari penyakitmu. Keluargamu lebih wajar mendidikmu dan berhak untuk menangkapmu dan memenjarakanmu, bila engkau terus bertahan pada pendirianmu itu, dan itu lebih memudahkan bagimu dan bagi mereka, daripada apabila kaum Quraisy menerkammu dengan bantuan bangsa Arab (lainnya). Aku tidak pernah melihat seseorang yang mendatangkan malapetaka kepada keluarga bapakmu seperti yang engkau lakukan ini.”

Tetap Sabar dan Tawakal
Baru saja Rasulullah memulai dakwah untuk keluarga terdekat, beliau sudah dihadang oleh anggota keluarga sendiri. Ini menunjukkan, setiap pendukung dakwah haruslah menyadari bahwa tantangan dakwah bisa muncul bukan saja dari luar, tetapi juga dari dalam, yakni dari orang dekat, bahkan dari kalangan keluarga sendiri. Meskipun Rasulullah mendapat celaan pedas dari Abu Lahab dan dikatakan sebagai penyeleweng, beliau tetap sabar dan tawakal. ”Segala puji bagi Allah, aku puji Dia, aku mohon pertolongan kepada-Nya, aku beriman kepada-Nya dan aku berserah diri kepada-Nya. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang layak disembah melainkan Dia satu-satu-Nya dan tiada sekutu bagi-Nya. Kemudian dari itu, sesungguhnya seorang perintis dakwah tidak akan menipu keluarganya. Andai kata menipu semua manusia, aku tidak akan menipu keluargaku. Demi Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu khususnya, dan kepada umat manu­sia umumnya.
Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepadaku supaya aku memanggil kalian kepada-Nya, dengan fir­man-Nya, ‘Berilah peringatan kepada kaum kerabatmu yang terdekat.’ – QS Asy-Syu’ara (26): 214.
Aku panggil kalian kepada kalimat yang ringan di lidah, berat di timbangan, yakni penyaksian bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, dan bahwa sesungguhnya aku adalah utusan Allah. Dan demi Allah, kalian pasti akan mati, sebagaimana tertidur, dan akan bangkit kembali sebagaimana kalian terbangun, dan pasti kalian akan dimintai pertanggungjawaban kalian atas apa yang kalian perbuat, dan kalian akan diberi ganjaran yang baik atas amal yang baik, dan yang buruk atas perbuatan yang buruk. Sesungguhnya (di sana) ada surga yang kekal dan ada neraka yang kekal.
Wahai keturunan Abdul Muthalib, demi Allah, aku tidak pernah melihat seorang pemuda membawa sesuatu yang lebih tinggi nilainya daripada apa yang aku bawakan kepada kalian (sekarang ini). Sesungguhnya kubawakan kepada kalian kebaikan dunia dan kebaikan akhirat. Maka siapa (di antara yang hadir) yang bersedia menyambut seruanku kepada urusan (penting) ini dan bersedia mendampingku untuk menegakkannya?”
Mendengar ucapan Rasulullah itu, hadirin pun terdiam seketika. Terjadilah pro dan kontra.
Namun dalam keheningan itu, seorang pemuda berdiri, dia adalah Ali bin Abi Thalib. Dengan suara lantang dia berkata, ”Aku, ya Rasulullah! Aku membelamu. Aku adalah musuh bagi siapa yang memusuhimu.”
Hadirin menengok ke arah Ali bin Abi Thalib, dan kemudian berkata kepada Abu Thalib, dengan makna ”mengapa kau biarkan anakmu terpengaruh Muhammad!”
Karena semua mata memandang kepadanya dan ingin minta penjelasan kepadanya, Abu Thalib angkat bicara, ”Dan (lihatlah), itu semua kaum kerabat keturunan ayahmu, yang sedang berkumpul. Aku hanyalah seorang dari mereka, tetapi aku tidak akan mendahului mereka untuk memenuhi apa yang kau kehendaki. Teruskanlah menjalankan tugasmu yang diperintahkan. Demi Allah, aku akan tetap melindungimu dan membelamu. Hanya, aku sendiri tidak sanggup berpisah dari agama Abdul Muthalib.”

Empat Kelompok
Kerabat Rasulullah terbagi dalam 4(empat) sikap menghadapi dakwah beliau;
Kelompok pertama yaitu mereka yang langsung menerima Islam dan meninggalkan agama nenek moyang. Yakni Khadijah Khuwalaid, istri Rasulullah, dan Ali bin Abi Thalib, sepupunya.
Kelompok kedua yaitu mereka yang menolak dakwah Rasulullah dan bahkan memusuhi Rasulullah secara terus-menerus. Kelompok ini diwakili oleh Abu Lahab, paman Rasul, dan istrinya, Ummu Jamil. Bibinya ini adalah kakak Abu Sufyan. Keduanya dikutuk Allah sebagaimana termaktub dalam surah Al-Lahab (111): 1-5.
Kelompok ketiga yaitu mereka yang menolak dakwah Rasulullah tetapi membela beliau dalam situasi apa pun. Sebagian ulama mengatakan bahwa Abu Thalib termasuk kelompok ini. Tetapi ada yang berpendapat bahwa Abu Thalib juga beriman meski tidak terang-terangan menyatakannya. Karena pembelaan Abu Thalib inilah kebanyakan kaum kerabat Nabi tidak memusuhinya.
Sedang kelompok keempat yaitu mereka yang menerima dakwah Rasulullah tetapi tidak seketika, memerlukan waktu yang relatif agak lama. Kelompok ini diwakili oleh Hamzah bin Abdul Muthalib. Kemudian disusul Abu Sufyan dan istrinya, Hindun.

Wallahu A’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Sample text