Mutiara Hikmah

icon

icon

Jumat, 15 Februari 2013

PESAN DA’WAH DIBALIK KISAH PERANG UHUD



PESAN DA’WAH DIBALIK KISAH PERANG UHUD
Oleh: Ibnu Abdul Qodir Al Ishlahy

A.    Latar Belakang
Kisah sebelum terjadinya perang uhud ini adalah bermula dari perang badar yang mana merupakan pertempuran yang sangat penting antara kaum Musyrikin Quraisy dengan kaum Muslimin, yang mana peperangan ini dimenangkan secara muthlak di pihak kaum muslimin, padahal kaum musyrikin lebih diunggulkan dalam peperangan ini. kemenangan ini bisa di saksikan seluruh bangsa arab atas keunggulan kaum muslimin. Ada pihak lain yang melihat keperkasaan kaum muslimin sehingga mereka menganggap bahwa ini adalah  ancaman besar bagi posisi agama dan perekonomian mereka. Mereka adalah kaum yahudi. Setelah kemenangan kaum muslimin pada perang badar, kedua golongan ini merasa terbakar api kebencian dan kedengkian terhadap kaum muslimin. Dalam hal ini Allah berfirman:

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا
82. Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik...(Q.S Al Maidah: 82)
Pelajaran: Hal ini mengingatkan kita, bahwa dalam memperjuangkan dan menegakkan agama Allah sangatlah berat dan banyak rintangannya, serta musuh-musuh da’wah selalu berusaha untuk merintangi dan menggagalkan gerakan da’wah yang kita tempuh ini. Diantara musuh-musuh da’wah yang perlu kita waspadai adalah orang-orang yahudi, nasrani dan orang-orang musyrik yang mereka tidak akan pernah ridha dengan jalan yang kita tempuh ini sehingga kita mengikuti agama mereka sebagaimana yang Allah sebutkan dalam firman-Nya Q.S Surat Al Baqarah Ayat 120, yang artinya; “orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)". dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”.

B.     Persiapan Kaum Quraisy untuk Perang Pembalasan
Kaum musyrikin yang dipimpin oleh Abu Sufyan melakukan persiapan sebelum mereka menyerang kaum muslimin, diantaranya adalah mereka mempersiapkan perbendaharaan hingga terkumpul seribu(1000) unta dan limapuluh ribu(50.000) dinar. Berkaitan dengan peristiwa ini, Allah Menurunkan ayat:  

لِيَمِيزَ اللَّهُ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ وَيَجْعَلَ الْخَبِيثَ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ فَيَرْكُمَهُ جَمِيعًا فَيَجْعَلَهُ فِي جَهَنَّمَ أُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ (37)
36. Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan.(Q.S Al Anfal: 36)
Pelajaran: yang bisa kita ambil dari peristiwa ini adalah, bahwa musuh-musuh islam selalu berusaha untuk merintangi tersebar dan berkembangnya agama ini. Sehingga mereka pun berlomba-lomba menginfaqkan harta mereka, bahkan mereka juga memerangi agama ini dengan mengangkat senjata secara langsung  di medan perang. Dan dalam memerangi islam mereka tidak asal-asalan, tetapi mereka sudah mengadakan persiapan yang matang dan menggunakan banyak strategi. Untuk itu kita diperintah untuk selalu bersiap menghadapi mereka, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ
60. dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)(Q.S. Al Anfal: 60).
Pelajaran: Dari ayat ini bisa kita ketahui bahwa untuk menghadapi kaum musyrikin, kita kaum muslimin juga perlu adanya persiapan sehingga kita bisa mengalahkan kaum musyrikin ataupun musuh-musuh islam. Selain itu kita juga perlu pendukung dari bidang finansial, jadi kaum muslimin juga perlu berkorban harta, jiwa dan raga dalam memperjuangkan Din ini. Hal ini secara jelas menggambarkan bahwa perjalan da’wah tidaklah mudah sebagaimana membalikkan telapak tangan, yang mana perjalanan da’wah ini perlu adanya perjuangan yang gigih dan pengorbanan yang tidak sedikit.

C.    Kekuatan Pasukan Quraisy
Setelah mereka mengadakan persiapan genap satu tahun, dan merasa persiapan mereka benar-benar sudah matang. Tidak kurang dari tiga ribu prajurit Quraisy bersatu dengan sekutu-sekutunya dan kabilah-kabilah kecil. Para pemimpin Quraisy membawa juga para wanita karena dianggap bisa memompa semangat mereka.
Mereka menggunakan hewan pengangkut dalam peperangan ini sebanyak tiga ribu unta. Penunggang kudanya sebanyak dua ratus, sedangkan pasukan yang dilengkapi dengan baju besi sebanyak tujuh ratus orang. Komando tertinggi dipegang oleh Abu Sufyan bin Harits, Komandan pasukan penunggang kuda dipimpin oleh Khalid bin Walid dengan Ikrimah bin Abu Jahal sebagai asistennya. Sedangkan bendera perangnya diserahkan kepada Bani Abdud Dar.
Setelah itu, mereka-pun merasa persiapan sudah cukup dan pasukan Quraisy mulai berangkat menuju Madinah dengan keadaan hati yang bergejolak oleh api kebencian dan dendam yang siap meledak.
Pelajaran: Dengan mengetahui kekuatan lawan kita bisa memperkirakan kemampuan yang kita miliki dalam menghadapi musuh. Selain itu juga di zaman sekarang ini bagi kita seorang da’i harus mengetahui mad’u yang kita hadapi, sehingga bisa menda’wahkan dengan tepat dan langkah apa yang pertama kali harus ditempuh dalam menda’wahi mad’u.



D.    Mata-mata Nabi dan Persiapan Kaum Muslimin Menghadapi Kafir Quraisy
Mata-mata Nabi yang masih menetap di makkah Adalah sahabat Al Abbas bin Abdul Muththalib, yang terus memata-matai setiap gerak-gerik kaum Quraisy dalam masa persiapan militer mereka. Setelah kaum musyrikin berangkat menuju Madinah, Al Abbas mengirim surat kilat kepada Nabi yang berisi kabar secara rinci tentang pasukan Quraisy.
Utusan Al Abbas segera berangkat menyampaikan surat tersebut dan mampu menempuh perjalanan antara Makkah dan Madinah hanya dalam waktu tiga hari. Nabi menerima surat itu tatkala beliau berada di masjid Quba’. Beliau menyuruh Ubay bin Ka’ab untuk membacakan surat itu dan memerintahkan untuk merahasiakan isi surat tersebut. Setelah itu beliau kembali ke Madinah.
Madinah dalam keadaan siaga satu. Tak seorang-pun lepas dari senjatanya, sekalipun dalam shalat. Mereka tetap siaga untuk menghadapi segala kemungkinan yang bakal terjadi. Setiap pintu gerbang Madinah pasti dijaga oleh sejumlah orang, di khawatirkan musuh menyerang secara mendadak.
Kabar tentang pasukan Quraisy terus menerus disampaikan oleh mata-mata, termasuk  kabar bahwa mereka sudah tiba di dekat bukit uhud, tepatnya di lokasi yang disebut Ainain, disebelah utara Madinah pada hari jum’at, 6 syawal 3 Hijriyah.
Pelajaran: Pentingnya intel ataupun pemberi khabar tentang perkembangan kekuatan musuh. Dalam berda’wah kita harus mengetahui kondisi yang ada disekitar kita sehingga bisa bertindak dengan tepat.


E.     Majlis Musyawarah Dalam Menentukan Strategi Perang
Setelah mendengar kabar bahwa kaum musyrikin dan tiba di bukit uhud, Rasulullah mengajak para shahabatnya bermusyawarah[1], untuk menampung berbagai pendapat dan menentukan sikap. Dalam kesempatan itu juga beliau menceritakan mimpi yang dialaminya. Beliau bersabda, “Demi Allah, aku telah bermimpi yang bagus. Dalam  mimpi itu kulihat beberapa ekor lembu yang disembelih. Aku melihat pedangku ada yang rampal dan aku memasukkan tanganku kedalam baju besiku yang kokoh.”
Beberapa ekor sapi ditafsirkan dengan beberap orang shabat yang gugur syahid, mata pedang beliau yang rampal ditafsirkan dengan anggota keluarga beliau yang terkena musibah, dan baju besi ditafsirkan dengan kota Madinah. Dengan mimpinya itu beliau mengusulkan untuk tetap bertahan dimadinah dan membiarkan kaum Quraisy bertahan diluar Madinah tanpa melakukan serangan, dan hal ini disetujui oleh Abdullah bin Ubay yang saat itu hadir sebagai perwakilan dari pemuka khazraj. Dia menyetujui ini adalah agar dia bisa untuk menjauhi peperangan.
Namun, sejumlah shahabat yang tidak ikut serta dalam perang badar sebelumnya mengusulkan kepada Nabi agar keluar dari Madinah. Bahkan, mereka bersikukuh dengan usulan ini. Salah seorang diantara mereka berkata, “Wahai Rasulullah, sejak dahulu kami sudah mengharapkan kdatangan hari seperti ini dan kami selalu berdo’a kepada Allah. Dia sudah menuntun kami dan tempat yang dituju sudah dekat. Keluarlah unutk menghadapi musuh-musuh kita, agar mereka tidak menganggap kita takut.
Salah satu tokoh terdepan diantara orang-orang yang antusias untuk keluar adalah Hamzah bin Abdul Muththalib yang sebelumnya tidak ikut diperang badar. Akhirnya Rasulullah mengabaikan pendapat beliau sendiri kerena mengikuti pendapat mayoritas. Beliau-pun memutuskan untuk  keluar kota Madinah dan bertempur di medan terbuka.
Pelajaran: Pentingnya musyawarah sebelum menentukan langkah lebih lanjut, hal ini dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Jadi dalam da’wah jama’i perlu adanya musyawarah dalam menentukan langkah da’wah supaya lebih maju dan diterima dimasyarakat, dan tidak mendahulukan sifat egoisme. Melalui musyawarah juga berguna untuk menggali ide-ide brilian dari seluruh peserta musyawarah[2].

F.    Keberangkatan Pasukan Rasulullah
Sebelum berangkat Rasulullah membagi pasukannya menjadi tiga kelompok:
1.      Kelompok Muhajirin, benderanya diserahkan kepada mus’ab bib Umair Al abdari.
2.      Kelompok Aus, benderanya diserahkan kepada Usaid bin Hudhair.
3.      Kelompok Khazraj, benderanya diserahkan kepada Al Hubab bin Al Mundzir Al Jamuh.
Pasukan ini terdiri dari seribu prajurit: Seratus prajurit memakai baju besi, lima puluh mengendarai kuda. Dan ada yang berpendapat bahwa tak seorangpun menunggang kuda.
Madinah diserahkan kepada Ibnu Ummi Maktum terutama untuk mengimami shalat bersama orang-orang yang masih berada di Madinah. Namun akhirnya dia diperbolehkan untuk turut serta.
Setelah melewati Tsaniyyatul Wada’, di kejauhan terlihat ada pasukan bersenjata lengkap. Setelah ditanya, dikhabarkan bahwa mereka adalah yahudi yang sudah menjadi sekutu khazraj yang ingin ikut perang melawan orang-orang musyrik. Beliau bertanya apakah mereka telah  masuk islam ? setelah diketahui bahwa mereka belum masuk islam maka beliau menolak untuk meminta bantuan kepada orang kafir untuk memerangi orang-orang musyrik.
Pelajaran: Pentingnya mengatur strategi dan membagi tugas dalam berda’wah menyerukan kepada agama Allah dan memerangi musuh Allah, karena tidak mungkin tugas ini dikerjakan hanya satu orang saja, sehingga seluruh permasalahan dapat terselesaikan secara maximal dengan koordinasi yang baik antar anggota da’wah.

G.    Abdullah bin Ubay dan Komplotannya Membelot
ketika fajar menyingsing, dan shalat shubuh hampir dilaksanakan, sementara itu musuh sudah dapat dilihat dan musuhpun dapat melihat mereka. Tepatnya berada di Syauth(antara Madinah dan uhud)[3], tiba-tiba Abdullah bin Ubay membelot, tidak kurang dari sepertiga pasukan menarik diri. Abdullah bin Ubay beralasan bahwa Nabi mengabaikan pendapatnya dan lebih suka mendengar pendapat orang lain. Namun tujuan yang sebenarnya adalah ingin menimbulkan keguncangan dan keresahan ditengah kaum muslimin. Dan terbukti setelah banyak orang yang mundur sisa pasukan yang bersama beliau mengalami penurunan mental. Berkaitan dengan hal ini Allah menurunkan ayat yang menegarkan hati mereka kembali. Allah berfirman,  
122. ketika dua golongan dari padamu[223] ingin (mundur) karena takut, Padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu. karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.(Q.S Ali Imran: 122)
[223] Yakni: Banu Salamah dari suku Khazraj dan Banu Haritsah dari suku Aus, keduanya dari barisan kaum muslimin.
Saat itulah Abdullah bin Haram, berupaya mengingatkan orang munafiq tersebut tentang apa yang harus mereka kerjakan dalam situasi yang kritis ini yaitu untuk berperang dijalan Allah. Mereka menjawab,” Seandainya dari awal kita tahu bahwa kalian hendak berperang, maka kami tidak akan bergabung”.
Sehubungan dengan sikap orang munafiq ini Allah berfirman:  
167. dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik. kepada mereka dikatakan: "Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu)". mereka berkata: "Sekiranya Kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah Kami mengikuti kamu".. mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran dari pada keimanan. mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. dan Allah lebih mengetahui dalam hatinya. dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan.(Q.S. Ali Imran: 167)
Pelajaran: Dalam perjuangan da’wah tak akan lepas dari yang namanya cobaan, baik dari dalam(kaum muslimin) maupun dari luar, yang mana hal ini dapat menimbulkan kelemahan, keresahan dan keguncangan bagi seorang da’i dalam memperjuangkan agama Allah. Maka dari itu perlu adanya peneguh dan pemompa semangat, sehingga da’wah ini tetap bisa berjalan dengan baik. Dengan ini pula Allah menampakkan mana orang-orang yang munafiq dan mana orang-orang yang benar-benar beriman kepada-Nya, jadi peperangan ini selain menjadi ujian juga menjadi sebuah penyaringan umat Rasulullah Shallallahu ‘Alaih Wasallam yang benar-benar berjuang karena Allah[4]. Maka orang-orang munafiq sangat berbahaya karena mereka suka mengambil yang enak-enak saja.[5]

H.  Terjadinya Peperangan
Peristiwa perang uhud terjadi pada hari Sabtu tanggal 7 Syawal[6] tahun ke tiga(3) Hijriyah[7]. Sesampainya perjalanan dikaki bukit uhud, Rasulullah membagi  tugas pasukannya dan membariskan mereka sebagai persiapan untuk menghadapi peperangan. Diantaranya adalah ditempatkannya pasukan pemanah diatas bukit yang disertai dengan perintah-perintah militer yang keras sebagai langkah untuk menyumbat celah yang memungkinkan bagi kaum musyrikin untuk menyusup, menyerang, dan mengacaukan barisan kaum muslimin dan dari belakang[8].

I.       Syahidnya Hamzah bin Abdul Muththalib
Hamzah bin Abdul Muththalib adalah paman Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang dikenal dengan julukan Asadullah(Singa Allah), hal ini dikarenakan keberanian beliau menghadapi musuh-musuh Allah. Dan dalam peperangan uhud ini beliau syahid terkena serangan tombak dari  Wahsyi bin Harb budak dari Jubair bin Muth’im.
Pelajaran: Dengan syahidnya Hamzah, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sangat sedih dan inilah bentuk dari beberapa cobaan yang menimpa dalam berda’wah yaitu hilangnya orang yang kita sayangi. Maka dari itu bekal sabar bagi seorang da’i yang memperjuangkan agama Allah adalah bekal wajib diantara beberapa bekal lainnya.

J.     Kisah Khandhalah bin Abu Amir
Diantara pahlawan yang tidak mengenal rasa takut adalah Khandhalah bin Abu Amir, yang mana khandhalah baru saja melakukan pernikahan. Saat itu dia berada dipelukan istri dan dia mendengar gemuruh peperangan, seketika itu dia melepaskan pelukan istrinya dan bangkit untuk berjihad di medan perang yang akhirnya syahid karena ditikam oleh Syaddad bin Al Aswad.
Pelajaran: Jalan da’wah yang kita lalui tidaklah mudah, perlu adanya pengorbanan dan perjuangan jiwa raga serta harta benda, sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya.

K.  Penyebab Kekalahan dan Kegagalan
Pada peperangan ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sudah membagi beberapa bagian untuk menjaga bagiannya masing-masing selama perang berlangsung. Setelah pasukan muslimin hampir meraih puncak kemenangan, ada sebagian pasukan yang tidak mengikuti apa yang telah diperintahkan karena menganggap bahwa peperangan telah usai, yang akhirnya mereka meninggalkan pos bagian yang seharusnya mereka(Tim Pemanah)  jaga, yang mana pada saat itu mereka turun untuk mengambil harta rampasan perang(Ghanimah), padahal mereka sudah di ingatkan oleh komandannya(Abdullah bin Jubair) supaya tidak meninggalkan posisi mereka. Dengan sebab itulah terjadi kekalahan yang mana Khalid bin Al Walid mengambil jalan memutar hingga tiba dibelakang kaum muslimin yang dengan mudah menyerang dan menguasai keadaan.
Pelajaran: Kemaksiatan kepada Allah dan Rasul-Nya[9] salah satu faktor dari kekalahan dan kegagalan dalam berda’wah dan memperjuangkan agama Allah, fitnah harta[10], dan cerdiknya musuh-musuh Allah[11] adalah beberapa penyebab dari kegagalan dalam da’wah, yang mana itu semua harus kita selesaikan.

L.   Rasulullah Mengobarkan Semangat Patriotik
Pada saat pertempuran sudah genting keadaan kaum muslimin maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengobarkan semangat kaum muslimin dengan bersabda,” Siapakah yang ingin mengambil pedang ini beserta haknya” Abu Dujanah Simak bin Kharasyah maju dan bertanya”Apakah haknya, wahai Rasulullah”, “Hendaknya engkau membabatkan pedang ini kewajah-wajah musuh hingga bengkok.!” jawab Beliau. Aku akan mengambilnya sesuai haknya, wahai Rasulullah. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-pun menyerahkan pedang itu kepadanya. Setelah itu ia berjalan dengan gagah untuk menghadapi musuh[12]. Dan juga sikap patriotik Shahabat Mush’ab bin Umair, ia bertempur dengan gagah berani dalam melindungi Nabi sambil memegang bendera sampai kedua tangannya putus tertebas oleh pedangya Ibnu Qami’ah dan akhirnya syahid.
Pelajaran: Perlunya dorongan semangat dalam berda’wah, keberanian dalam menghadapi musuh, dan tawakkal kepada Allah.

M. Isu Kematian Rasulullah dan Dampaknya
Ditengah sengitnya peperangan tersiar khabar dari teriakan Ibnu Qami’ah dikalangan kaum muslimin dan orang-orang musyrik bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam syahid dalam peperangan tersebut, sehingga khabar ini meluruhkan semangat para shahabat yang tidak jauh dari tempat itu. Hal ini menyebabkan mental mereka langsung anjlok dan barisan mereka kocar-kacir.
Selain itu hal ini juga menurunkan kualitas serangan kaum musyrikin, karena mereka mengira telah mewujudkan tujuan yang paling pokok dalam perang tersebut, mereka-pun sangat senang dengan hasil peperangan itu karena merasa bahwa dendam kekalahan mereka di perang badar telah terbalaskan.
Palajaran: Perlunya klarifikasi khabar yang datang, dan apalagi jika berita-berita itu berasal dari musuh-musuh Allah, maka harus lebih teliti dalam menerima berita tersebut. Sebagaimana Firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا...
6. Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti....( Q.S. Al Hujurat: 6).
Hilangnya atau wafatnya orang yang berpengaruh bisa saja melemahkan semangat da’wah yang sebelumnya telah memuncak tinggi, maka dari itu kita harus menata niat lagi bahwa perjuangan da’wah ini ikhlas hanyalah untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala.

N.   Paska Perang
Setelah perang selesai, Rasul dan para shahabatnya mengumpulkan jasad para Syuhada’ yang telah syahid dan menguburkannya. Di tengah pengumpulan jasad tersebut Rasul merasa sangat sedih ketika melihat keadaan jasad Hamzah, paman dan saudara sesusuan beliau. Setelah itu Rasul memerintahkan untuk menguburkan jasad Hamzah satu liang dengan Abdullah bin Jahsy, keponakan dan saudaranya sesusuan.
Selain itu, pemandangan para syuhada’ sangat mengenaskan dan membuat hati terisak tangis, karena jenazah-jenazahnya hanya ditutup dengan mantel karena tidak ada kain kafan. Jika mantel itu ditarik kebagian kepala maka kakinya kelihatan, dan jika ditarik kebagian kaki maka kepalanya kelihatan. Akhirnya Rasul memerintahkan mantel itu ditarik menutupi kepala dan bagian kaki ditutupi dengan daun.[13]
Pelajaran: Perlu adanya penyelesaian dalam berda’wah walau apapun yang terjadi, dan cobaan itu banyak bentuknya, Seperti: Kehilangan Anggota keluarga, orang yang disayang dan pengorbanan harta, jiwa dan raga.

O.  Rasulullah Memanjatkan Pujian dan Do’a Kepada Allah
Setelah proses pengurusan jenazah selesai dan orang-orang musyrik telah kembali, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “berbarislah yang lurus. Aku akan memuji Allah dan berdo’a kepada-Nya.” Maka mereka berjajar dalam beberapa shaf dibelakang beliau. Kemudian beliau membaca do’a:
روي الإمام أحمد : لما كان يوم أحد وانكفأ المشركون، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( استووا حتى أثني على ربي عز وجل ) ، فصاروا خلفه صفوفاً، فقال :
( اللهم لك الحمد كله، اللهم لا قابض لما بسطت، ولا باسط لما قبضت، ولا هادي لمن أضللت، ولا مضل لمن هديت، ولا معطي لما منعت، ولا مانع لما أعطيت، ولا مقرب لما باعدت، ولا مبعد لما قربت . اللهم ابسط علينا من بركاتك ورحمتك وفضلك ورزقك ) .
( اللهم إني أسألك النعيم المقيم، الذي لا يحُول ولا يزول . اللهم إني أسألك العون يوم العيلة، والأمن يوم الخوف . اللهم إني عائذ بك من شر ما أعطيتنا وشر ما منعتنا . اللهم حبب إلينا الإيمان وزينه في قلوبنا، وكره إلينا الكفر والفسوق والعصيان، واجعلنا من الراشدين . اللهم توفنا مسلمين، وأحينا مسلمين، وألحقنا بالصالحين، غير خزايا ولا مفتونين . اللّهم قاتل الكفرة الذين يكذبون رسلك، ويصدون عن سبيلك، واجعل عليهم رجزك وعذابك . اللهم قاتل الكفرة الذين أوتوا الكتاب، إله الحق )[14] .
Ya Allah, segala puji hanya bagi-Mu. Ya Allah, tidak ada yang bisa menahan apa yang Engkau lepaskan, tidak ada yang bisa melepas apa yang Engkau tahan. Tidak ada yang bisa memberi petunjuk kepada orang yang Engkau sesatkan  dan tidak ada yang bisa menyesatkan orang yang Engkau beri petunjuk. Tidak ada yang bisa memberi apa yang Engkau tahan dan tidak ada yang bisa menahan apa yang Engkau berikan. Tidak ada yang bisa mendekatkan apa yang Engkau jauhkan dan tidak ada yang bisa menjauhkan apa yang Engkau Dekatkan. Ya Allah, karuniakan kepada kami sebagian dari berkah, rahmat, karunia, dan rezeki-Mu. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kenikmatan yang kekal kepada-Mu, yang tidak berubah dan habis. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon pertolongan kepada-Mu saat lemah dan keamanan pada saat ketakutan. Ya Allah, Sesungguhnya aku berlimdung kepada-Mu dari kejahatan yang Engkau berikan kepada kami dan kejahatan yang Engkau tahan dari kami. Ya Allah, Jadikanlah kami mencintai iman dan buatlah iman itu bagus didalam hati kami. Jadikanlah kami membenci kekufuran, kefasikan dan kedurhakaan. Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mengikuti jalan kebenaran. Ya Allah, matikanlah kami dalam keadaan berserah diri dan hidupkanlah kami dalam keadaan berserah diri. Kumpulkanlah kami bersama orang-orang yang shalih tanpa ada kehinaan dan bukan dalam keadaan mendapat cobaan. Ya Allah, Perangilahlah orang-orang kafir yang mendustakan rasul-rasul-Mu dan menghalangi manusia dari jalan-Mu. Berikanlah siksa dan adzab-Mu kepada mereka. Ya Allah Perangilah orang-orang kafir yang telah diberi Al-Kitab, wahai Ilah yang haq. Amiin
Wallahu A’lam Bish-Shawab Walhamdulillahi Rabbil ‘Alamiin.

Daftar Pustaka
Al Quran Al karim                  
Abdullah bin, Muhammad Al khatib At Tibrizi, Misykatul Mashabih, Bairut: Maktabah Islami, 1985
Abdullah bin, Sami al Maghlouth, ATLAS Perjalanan Hidup Nabi Muhammad, Jakarta: Al Mahira, 2008
Al Mubarakfuri, Shafiyyurrahman, Ar Rahiq al Makhtum, Maktabah Syamilah, Multaqa Ahlul Hadits, tt
Al Mubarakfuri, Shafiyyurrahman, Ar Rahiq al Makhtum, Terjemah. Jakarta: Ummul Qura, 2011
Haryanto, Rasulullah Way of Managing People, Jakarta: Khalifa, 2009
Imran (Imam wa Khatib Masjid al Yaman), Durus wa Ibrah min Ghazwati Uhud, Maktabah Syamilah, tt
Lajnah Ilmiyah bi Ma’had al-Aimmah wa al-Khuthaba, Al Sirah al Nabawiyah al Da’wah, Terjamah, Jakarta: WAMY Jakarta, 2004
Roham, Abu Jamin, Kronologi Sirah Nabawiyah, Jakarta: Pustaka Emral, 2005
Umar bin, Ismail bin Katsir, Al Fushuul Fi Siratir Rasul, Terjemah. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i, 2010


[1] Ibn Katsir, Al Fushuul Fi Siratir Rasul, Terjemah. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i, 2010, hal.127
[2] Haryanto, Rasulullah Way of Managing People, Jakarta: Khalifa, 2009, hal. 194
[3] Sami bin Abdullah al Maghlouth, ATLAS Perjalanan Hidup Nabi Muhammad, Jakarta: Al Mahira, 2008, hal. 238
[4] Lajnah Ilmiyah bi Ma’had al-Aimmah wa al-Khuthaba, Al Sirah al Nabawiyah al Da’wah, Terjamah, Jakarta: WAMY Jakarta, 2004, hal. 35
[5] Haryanto, Rasulullah Way of Managing People, Jakarta: Khalifa, 2009, hal. 194
[6] Shafiyyurrahman al Mubarakfuri, Ar Rahiq al Makhtum, Terjemah. Jakarta: Ummul Qura, 2011, hal. 469
[7] Ibn Katsir, Al Fushuul Fi Siratir Rasul, Terjemah. hal.127  “dalam kitab ibnu katsir ini hanya disebutkan bulan dan tahunnya saja tanpa menyebutkan tanggal”
[8] Shafiyyurrahman al Mubarakfuri, Ar Rahiq al Makhtum, Terjemah., hal. 468-469
[9] Imran (Imam wa Khatib Masjid al Yaman), Durus wa Ibrah min Ghazwati Uhud, Maktabah Syamilah, Hal. 2
[10] Abu Jamin Roham, Kronologi Sirah Nabawiyah, Jakarta: Pustaka Emral, 2005, hal.151
[11] Shafiyyurrahman al Mubarakfuri, Ar Rahiq al Makhtum, terjemah, hal. 459
[12] Shafiyyurrahman al Mubarakfuri, Ar Rahiq al Makhtum, Maktabah Syamilah, Multaqa Ahlul Hadits, hal. 221
[13] Muhammad bin Abdullah Al khatib At Tibrizi, Misykatul Mashabih, Bairut: Maktabah Islami, 1985,  juz. 2, hal. 353
[14] Shafiyyurrahman al Mubarakfuri, Ar Rahiq al Makhtum, hal. 255

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Sample text