Mutiara Hikmah

icon

icon

Selasa, 30 April 2013

KEBANGKITAN DAN DAKWAH



KEBANGKITAN DAN DAKWAH

Kebangkitan dan dakwah adalah sesuatu yang sangat penting dalam islam bagaikan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain, dengan dua hal tersebut ummat ini akan menuju perubahan yang lebih baik jika benar-benar bisa bangkit dan mendakwahkan ajarannya kepada seluru alam, sehingga hukum yang telah ditetapkan oleh Rabbil’izzati bisa diaplikasikan dalam kehidupan seluruh ummat manusia. Dengan begitu diharapkan bagi ummat ini untuk menuju derajat yang lebih tinggi dalam stratata kehidupan manusia baik di dunia maupun di akhirat, dalam hal ini kita akan membahas dulu tentang pengertian kebangkitan dan dakwah.
Pengertian kebangkitan (ash-shahwah) yang langsung terlintas di dalam benak kita adalah kata: shaha-yashhu; artinya bangun(Sadar tidak tidur)[1]. Melihat realita saat ini, keadaan umat adalah bagaikan orang yang sedang tidur, yang terlena dari kesadarannya(sebagaimana yang disebutkan syaikh ‘Utsamin dalam kitabnya”Ash Shahwah Al Islamiyah”).
Ash-shaha, artinya lenyap mabuknya. Orang Arab membandingkan mabuk dengan as-Shahwah, yakni antara berakal dan tidak berakal.[2] Di antara contohnya: dia ingin mengambilnya antara as-sukrah dan as-shahwah. Ini misalnya seorang pelajar yang merasa bodoh, sementara ia mengetahui.
Shaha dalam bahasa Arab – jika untuk menyifati manusia – juga diartikan dengan kesadaran, kesembuhan dan kebangunan. Hal itu diketahui dari lawan katanya, yaitu tidur atau mabuk. Dikatakan: Shaha min nawmih aw min sukrih (Dia bangkit dari tidurnya atau sadar dari mabuknya). Maknanya: bangkit/sadar.[3] Dengan kata lain, kesadarannya telah kembali yang sebelumnya lenyap dari dirinya sebagai akibat dari sesuatu yang alami, yaitu tidur, atau suatu rekayasa, yaitu mabuk.
Ash-Shahwah (kebangkitan) pada asalnya untuk menyatakan kekuatan kesadaran pada diri manusia yang diungkapkan dengan hati atau kesadaran atau akal[4], Sesuatu yang membuat limbung umat adalah sama dengan apa yang membuat limbung individu, yaitu hilangnya kesadaran baik jangka panjang maupun pendek akibat tidur dan terlenanya umat dari dalam diri umat sendiri atau dari luar akibat tidur yang dipaksakan kepadanya oleh pihak lain. Jadi ash-shahwah (kebangkitan) artinya adalah kembalinya kesadaran dan kembalinya kewaspadaan umat yang sebelumnya telah hilang.
Inilah pengertian etimologis dari kata bangkit dan kebangkitan. Adapun makna istilah kata kebangkitan (ash-shahwah) sebagaimana diketahui adalah kebangkitan dari keterpurukan dan keterlenaan serta dari ketiadaan pemahaman terhadap realita hakiki yang menjadi realita hidup umat. Hal itu akibat dari banyak faktor yang menutupi umat dari kebenaran; memalingkan umat dari memahami realita; dan kewaspadaan umat terhadap realita ini serta upaya umat untuk mengubah dan membebaskan diri darinya menuju realita yang lebih mulia.
Sedangkan makna dakwah adalah Secara bahasa perkataan da’wah berasal dari kata kerja دعا يدعو دعوة    (da’â – yad’û, da’watan), yang berarti mengajak, menyeru, memanggil.[5] Disebutkan juga dalam kamus al munjid dengan arti yang serupa yaitu  دعا يدعو دعوة   artinya memanggil/mengajak atau panggilan/ajakan.[6] Syaikh Abdurrahman ibnu Nashir As Sa’di menyebutkan dalam tafsirnya pada penafsiran dari surat Al Baqarah ayat 186, bahwa; Panggilan itu dibagi menjadi dua(2):
a.       Panggilan kepada ibadah
b.      Panggilan kepada masalah[7]
Dari dua pengertian dakwah yang disampikan oleh Syaikh Abdurrahman ibnu Nashir As Sa’di, tentu saja dakwah yang kita dimaksudkan adalah dakwah kepada ibadah. Yaitu mengajak manusia kepada ibadah kepada Allah Ta’ala saja. Dan dengan dakwah ini pula diharapkan bisa membangkitkan ummat yang sedang terpuruk dari berbagai segi kehidupannya, dari segi agama ummat ini sangat kurang dan dari segi harta juga masih banyak yang berada pada garis kemiskinan. Dan cara untuk membangkitkan mereka adalah dengan mendakwahkan ajaran agama ini sehingga ummat faham betul hakikat hidup dan mereka diciptakan oleh Allah Ta’ala, dengan kefahaman yang mereka miliki diharapkan menimbulkan kesadaran untuk bangkit dan turut andil dalam perjuangan dan dakwah ini.

Umat Islam sesungguhnya telah banyak memperhatikan kebangkitan, sementara realita tersebut telah raib dan hilang dari kesadaran umat selama tahun-tahun yang panjang akibat beberapa faktor, baik internal maupun eksternal umat. Sehingga banyak terjadi perpecahan dikalangan ummat islam sendiri, dan mengabaikan untuk mengaplikaasikan makna kebangkitan islam ini, dan yang terjadi kebangkitan hanya menjadi sesuatu yang semu dan samar dalam dunia islam ini.
faktor-faktor yang mengantarkan kepada kebangkitan di antara yang terpenting adalah;[8]
Pertama, kita harus mengimani dan tidak boleh ada keraguan sedikitpun bahwa pertolongan itu semata-mata di tangan Allah Ta’ala. Kita pun harus mengetahui dengan keyakinan pasti bahwa pertolongan Allah Ta’ala kepada kita bergantung pada pertolongan kita kepada agama-Nya. Sebagaimana Firman-Nya;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”.(Q.S Muhammad: 7)

Kedua, pertolongan pada tahap akhir itu akan diberikan kepada Islam dan penganutnya yaitu kaum Mukmin yang benar serta melaksanakan amal salih. Ini sesuai dengan Firman Allah Ta’ala;
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik. (Q.S An Nur: 55)

Ketiga, kebangkitan Islam ini akan datang buahnya, baik dalam waktu yang cepat maupun lambat. Namun, semua itu bukan berarti akan terwujud dengan hanya duduk-duduk dan menunggu tercapainya pertolongan. Sebab, yang demikian itu menafikan adanya kewajiban beramal salih. Maka Rasulullah mensinyalir akan adanya kelompok yang akan selalu istiqomah berada dia atas sunnah hingga Allah mendatangkan perkara-Nya. Sebagaimana sabdanya;
لا تزال طائفة من أمتي ظاهرين على الحق لا يضرهم من خذلهم حتى يأتي أمر الله وهم كذلك
 “Terus menerus ada sekelompok dari ummatku yang mereka tetap nampak di atas kebenaran, tidak membahayakan mereka orang mencerca mereka sampai datang ketentuan Allah (hari kiamat) dan mereka dalam keadaan seperti itu”.[9]

Keempat: Yakin akan keberuntungan yang akan datang walaupun jumlah orang-orang yang  berjalan diatas menuju kebangkitan ummat sangat sedikit. Sebagaimana sabda Rasulullah:
بَدَأَ الْإِسْلاَمُ غَرِيْبًا وَسَيَعُوْدُ غَرِيْبًا كَمَا بَدَأَ فَطُوْبَى لِلْغُرَبَاءِ
“Islam mulai muncul dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana awal munculnya maka beruntunglah orang-orang asing itu”.(H.R Muslim)[10] dan Hadits ini di shahihkan oleh Al Imam Muhamad Nashiruddin Al Albani.[11]
Berkata Imam Al-Ajurry Kitab Al-Ghuraba` Minal Mu’minin: “Dan perkataan (Nabi) Shallallahu ‘Alaihi Wa Alihi Wasallam “Dan akan kembali asing” maknanya Wallahu A’lam sesungguhnya hawa nafsu yang menyesatkan akan menjadi banyak sehingga banyak dari manusia tersesat karenanya dan akan tetap ada Ahlul Haq yang berjalan diatas syari’at islam dalam keadaan asing di mata manusia, tidakkah kalian mendengar perkataan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Alihi Wasallam : “Akan terpecah ummatku menjadi 73 golongan semuanya masuk neraka kecuali satu, maka dikatakan siapa mereka yang tertolong itu? maka kata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Alihi Wasallam : “Apa-apa yang saya dan para shahabatku berada di atasnya pada hari ini”[12]
Dari beberapa keterangan diatas untuk mengaplikasikan kebangkitan ummat ini sangatlah sulit, kita harus benar-benar mempunyai cara yang jitu dan tepat untuk mengajak(mendakwahkan) kebangkitan kepada ummat. Mulai dari membangunkan ummat yang masih tertidur, yang mana meraka masih belum sadar akan pentingnya menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya, juga akan adanya perpecahan dalam ummat ini, dan yang paling dahsyat adalah serangan dari luar yaitu yahudi dan nashrani, yang mereka tidak akan rela dan puas untuk menyerang kita hingga kita keluar dari agama ini dan mengikuti mereka. Dan perlu kita kilas balik sejarah juga bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Alihi Wasallam, juga tak lepas dari rintangan dalam dakwahnya, beliau mendapat cacian dan tuduhan-tuduhan yang sangat keji dari mereka yang membenci dan memusuhi dakwah beliau, Sungguh pekerjaan dakwah bukanlah sesuatu yang mudah namun menyeru ummat manusia kepada Allah adalah perintah langsung dari Allah Ta’ala kepada para Rasul dan kita semua sebagaimana termaktub dalam kitab-Nya, agar ummat manusia selamat di dunia dari kenistaan hawa nafsu dan selamat di akhirat dengan terhindar dari api neraka dan dimasukkan ke surganya Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kita tahu bahwa sudah menjadi sunnatullah dalam kehidupan setiap hamba teriring dengan ujian dan cobaan hidup yang silih-berganti. Hal ini Allah Ta’ala jamin keberlangsungannya dalam firman-Nya,
Artinya, “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. al-Baqarah:155)
Serupa pula dengan firman-Nya,
Artinya, “Dan Sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu.” (QS. Muhammad: 31)
Hidup kita adalah mendakwahkan islam(dakwah yang haq) yaitu dakwah yang didasari oleh petunjuk Yang maha pembuat syari’at dengan bertujuan mentauhidkan-Nya dan mengenyahkan segala bentuk kesyirikan. Maka bentuk dakwah ini senantiasa tidak akan terlepas daripada ujian, rintangan, dan ancaman, baik secara mental maupun fisik. Laksana kata, dakwah yang haq tanpa dibarengi ujian dan rintangan, seperti sebuah hal yang patut dipertanyakan—dakwah seperti apakah itu? Oleh karena beratnya beban yang harus diterima, maka sedikitlah yang mampu melaksanakan dakwah haq ini karena takut akan konsekuensinya. Sebaliknya, mereka yang mampu dan tetap istiqomah menopang ujian dan rintangan demi tersebar dan tegaknya syari’at Allah di muka bumi ini, mereka akan tegar dan berjiwa besar, karena mereka hanyalah mengharap balasan dari sisi Allah saja diakhirat kelak, sehingga tidak termasuk golongan orang-orang yang merugi pada hari pembalasan nantinya.
Berikut ini adalah beberapa ujian dan rintangan para du’at (penyampai dakwah) dalam mendakwahkan yang haq:

a.    Dibenci dan dimusuhi

Mendakwahkan yang haq merupakan kewajiban bagi setiap pribadi muslim dari Rabb-nya, terutama kepada yang memiliki kemampuan dakwah semisal para du’at. Namun tugas ini sungguhlah berat karena akan mendapat perlawanan dari hizbusy-syaithan(kelompok/pembela syaitan) yang tidak akan tinggal diam jika kebenaran yang hakiki ditebarkan di muka bumi. Perlawanan ini telah ada sejak zaman para nabi dahulu dan berkekalan hingga akhir zaman. Akan hal ini, Allah Ta’ala berfirman,
Artinya, “Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa” (QS. al-Furqon: 31)
Lalu firman-Nya,
Artinya, “Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin.” (QS. al-An’am:112)
Dan juga firman-Nya,
Artinya, “Dan Demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya” (QS. al-An’am:123)
Melalui tiga ayat ini, Allah Ta’ala telah menggariskan sebentuk ujian keimanan bagi para hamba pilihan-Nya melalui adanya sekelompok penentang kebenaran dan para penyeru kekafiran yang tak hentinya membuat makar.
Dari Anas bin Malik ra bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Alihi Wasallam bersabda,
الْمُؤْمِنُ بَيْنَ خَمْسِ شَدَائِدَ: مَؤْمِنٌ يَحْسُدُهُ, وَ مُنَافِقٌ يُبْغِضُهُ, وَ كَافِرٌ يُقَاتِلُهُ, وَ نَفْسٌ يُنَازِعُهُ, وَ شَيْطَانٌ يُضِلِّهُ.
Artinya, “Orang mu’min senantiasa berhadapan dengan lima ujian yang menyusahkan, yaitu: orang mu’min yang mendengkinya, orang munafik yang selalu membencinya, orang kafir yang selalu memeranginya, hawa nafsu yang selalu bertarung untuk mengalahkannya, dan Syaithan yang selalu menyesatkannya.”[13]

b.   Diejek dan dipermainkan

Zaman memang telah berubah, namun intrik-intrik setan takkan lekang dimakan roda zaman. Keberadaan ulama rabbani yang merupakan pewaris para nabi dan sejatinya dimuliakan lagi diikuti, mereka-pun tak jauh berbeda dengan nasib para ulama di masa lalu. Seruan mereka mengajak umat kepada kebenaran yang hakiki, dianggap lelucon yang pantas ditertawakan. Ancaman mereka yang bersumber al-Qur’an dan as-Sunnah bagi yang menolak dan berpaling untuk mengikuti syari’at, disikapi dingin seolah ancaman itu hanya ‘gertak sambal’ semata. Hujjah orang-orang penolak kebenaran di masa ini hanya terpaut kepada dua hal saja, yaitu setia mengikuti agama nenek-moyang dengan mengatakan ( حَسْبُنَا مَا وَ جَدْنَا عَلَيْهِ أَبَاءَنَا ) “cukuplah bagi kami apa yang kami dapati nenek-moyang kami mengerjakannya…” (QS. al-Maidah: 104) dan berpendapat bahwa al-Qur’an dan as-Sunnah sudah tak sejalan lagi dengan perkembangan zaman. Pribadi-pribadi berwatak seperti ini akan selalu eksis dan menjadi batu ujian bagi para du’at. Allah Ta’ala menyebutkan karakter seperti ini dalam firman-Nya,
Artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang berdosa adalah mereka yang dahulu menertawakan orang-orang yang beriman.” (QS. al-Mutaffifin: 29)
Dan firman-Nya,
Artinya, “Alangkah besarnya penyesalan terhadap para hamba itu, tiada datang seorang rasulpun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya.” (QS. Yasin: 30)
Perhatikan juga perkataan mereka di ayat berikut,
Artinya, “Demikianlah tidak seorang Rasulpun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan, “Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila. Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu? Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas.” (QS. adz-Zariyat: 52-53)
Namun demikian, hamba-hamba-Nya yang terpilih akan terus gencar menyampaikan risalah kenabian meski mental mereka senantiasa dilemahkan pihak-pihak yang memusuhinya.

c.    Dituduh sesat

Rintangan lainnya yang lazim dihadapi para du’at adalah dengan mengalami tuduhan menyebarkan pemahaman sesat. Hal ini merupakan ‘lagu lama’ yang diputar-balikkan umat yang masih awam namun tak berusaha keluar dari kejahiliaannya kepada para du’at tersebut. Terlebih para du’at yang menjalani medan dakwah dengan menyambangi umat ke pelosok-pelosok wilayah yang hampir tak terjamah pemerataan pembangunan pemerintah.
Sulitnya menjangkau keberadaan mereka, ditambah ‘proyek’ pemerintah yang telah menjadikan mereka sebagai ‘cagar alam’ yang harus dijaga kelestarian budayanya, adat-istiadatnya, beserta ‘keunikan’ cara beragamanya. Tak ayal lagi menambah rentang jarak yang harus dilalui para du’at untuk melakukan dakwahnya. Namun tak hanya umat yang tersebar di pelosok, keadaan umat di perkotaan pun tak beda mirisnya. Mereka terkontaminasi kebudayaan luar yang tak kalah bahayanya.
Akibatnya, mereka menolak dalil haq dengan HAM, mencurigai para ulama bak perintang kebebasan berekspresi mereka, dan menuduh petunjuk dinullah sebagai sebuah kesesatan. Dalam sejarah, kaum Syu’aib pun melaungkan kebenaran sebagai suatu kesesatan yang pantas dijauhi.
Artinya, “Pemuka-pemuka kaum Syu’aib yang kafir berkata (kepada sesamanya), “Sesungguhnya jika kamu mengikuti Syu’aib, tentu kamu jika berbuat demikian (menjadi) orang-orang yang merugi.” (QS. al-A’raf: 90)
Demikian juga yang dilakukan Fir’aun laknatullah kepada rasul-Nya, Musa as.
Artinya, “Dan berkata Fir’aun (kepada pembesar-pembesarnya), “Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi.” (QS. al-Mu’min: 26)

d.   Dituduh memecah-belah umat

Ujian berupa tuduhan sebagai pemecah-belah umat juga ‘lazim’ diterima para ulama Rabbani. Mereka yang mengusung dakwah yang bersumber dalil al-Qur’an dan as-Sunnah harus menerima resiko berupa penolakan umat yang awam dan kaum munafik. Isi dakwahan yang banyak meluruskan kesalahan umat disalah-artikan umat sebagai upaya dalam menghapus bentuk peribadahan yang sudah terbiasa dilaksanakan oleh orang-orang terdahulu mereka.
 yang ingin diubah para du’at menjadi kefaqihan, malah dipertahankan demi menjaga warisan nenek-moyang dalam beragama. Dalam firman-Nya, Allah menceritakan hal serupa yang dilakukan oleh Fir’aun berikut dengan cara antisipasi kejinya,
Artinya, “Berkatalah pembesar-pembesar dari kaum Fir’aun (kepada Fir’aun), “Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkan kamu serta tuhan-tuhanmu?” Fir’aun menjawab:, “Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup anak-anak perempuan mereka; dan sesungguhnya kita berkuasa penuh diatas mereka.” (QS. al-A’raf: 127)
e. Diancam, ditangkap, dipenjarakan, disiksa, atau dibunuh
Berikut beberapa ayat yang bisa dijadikan contoh beberapa makar hizbusy-syaithan terhadap para utusan Allah, Allah Ta’ala berfirman pada Al Quran surat Ibrahim;
Artinya, “Orang-orang kafir berkata kepada rasul-rasul mereka, “Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu kembali kepada agama kami.” Maka Tuhan mewahyukan kepada mereka, “Kami pasti akan membinasakan orang- orang yang zalim itu.” (QS. Ibrahim: 13)
Firman Allah pada Al Quran surat Al Kahfi;
Artinya, “Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama-lamanya.” (QS. al-Kahfi: 20)
Firman Allah pada Al Quran surat Yasiin;
Artinya, “Mereka menjawab,”Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami.” (QS. Yasiin: 18)
Firman Allah pada Al Quran surat Al Anfal;
Artinya, “Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu-daya dan Allah menggagalkan tipu-daya itu dan Allah sebaik-baik pembalas tipu-daya.” (QS. al-Anfal: 30)
Ditangkap, diusir, dilempari batu, dirajam, hingga dibunuh—itulah beberapa siksaan fisik yang lazim menyertai para pendakwah di jalan Allah. Kerasnya siksaan dan pedihnya penderitaan yang dialami tak jua mengikis kekokohan perjuangannya dalam membumikan kalimat tauhidullah. Tak terbetik sedikitpun bagi mereka untuk sudi mengikuti makar kaum munafikin dalam upaya menyesatkan umat dari petunjuk yang hakiki, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah. Baginya hanya ada dua pilihan; Hidup dalam kemuliaan atau mati dalam kesyahidan.
Itulah beberapa rintangan para du’at dalam mengemban tugas dakwah, yang mana jika semua itu bisa terlewati, sungguh kebangkitan ummat melalui dakwah ini bukanlah sesuatu yang mustahil untuk diwujudkan di tengah kehidupan ummat manusia ini. Mudah-mudahan Allah Ta’ala menjaga keistiqomahan para du’at dalam menjaga kemurnian dinullah serta membimbing para thullabul ‘ilmi untuk ikut-serta mendawamkan kebenaran yang hakiki ini sepenuh kemampuan yang dimiliki.
Wallahul musta’an. Semoga bermanfa’at.
Wallahu’alam bish shawab.


[1] A.W.Munawwir, Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia,pustaka progressif, surabaya, 1997, Hal. 766
[2] Ibnu Mandhur Al Afriqiy, Lisanul Arab, Dar Shadir, Bairut, tt, Juz. 14, Hal. 452
[3] Ibid, Juz. 4, Hal. 372
[4] Yusuf al-Qardhawi, Ash-Shahwah al-Islamiyah wa Humum al Wathan al-‘Arabi wa al-Islami, Mu’assasah ar-Risalah, Beirut. 1988,  Hal. 11-12
[5] A.W.Munawwir, Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia,pustaka progressif, Surabaya, 1997, Hal. 406
[6] Fr. Louis Ma’luf al-Yassu’i dan Fr. Bernard Tottel al-Yassu’i, Kamus Al Munjid, Dar Al Masyruq, Bairut, 2008. Hal.  216
[7] Abdurrahman ibnu Nashir As Sa’di, Taisir Al Karim Ar Rahman fi Tafsiri Kalamil Mannan, Muassasah Ar Risalah, Malik fahd, 2000. Hal. 87
[8] http://insidewinme.blogspot.com/2011/09/kebangkitan-islam-sebagai-harapan-masa.html
[9] Muhammad Nashiruddin Al Albani, As Silsilah Shahihah, Maktabah Ma’arif, Riyadh tt, Juz. 4, Hal.599
[10] Muslim ibnu Hajjaj An Naisaburi, Al Jami’ As Shahih, Dar Al Jail, Bairut,tt. Juz. 1, Hal. 90
[11] Muhammad Nashiruddin Al Albani, As Silsilah Shahihah, Maktabah Ma’arif, Riyadh tt, Juz. 3, Hal.347
[12] Al Ajurry, Kitab Al Ghuraba’, Maktabah Syamilah, Hal. 9
[13] ‘Ali ibn Hussamuddin Al Hindi, Kanzul Ummal fi sunanil Af’al wa Aqwal, Muassasah Ar Risalah, Bairut, 1989. Juz. 1, Hal. 284

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Sample text