Mutiara Hikmah

icon

icon

Jumat, 13 Maret 2015

LEMAH-LEMBUT DALAM DAKWAH




Lemah-lembut Dalam Berda'wah
 
Hati manusia akan condong kepada orang yang bersikap lemah-lembut kepadanya. Oleh karena itulah, di antara kewajiban da’i atau mubaligh adalah memilih kalimat yang lembut dan tidak kasar, agar dakwah sampai kepada manusia. Jangan sampai manusia lari dari agama, padahal dakwah belum sampai kepada mereka.
Seorang da’i bertugas mengajak manusia kepada ketaatan, padahal kebanyakan hawa-nafsu manusia tidak menghendakinya; dia juga berkewajiban memperingatkan dari kemaksiatan, padahal kebanyakan hawa-nafsu manusia menyukainya. Maka jika seorang da’i berdakwah dengan kasar, merupakan perkara yang wajar banyak manusia akan menjauh dari dakwahnya.
Oleh karenanya, banyak bimbingan dari Allah dan RasulNya agar da’i bersikap lembut ketika berdakwah, sehingga dakwah akan sampai kepada mad’u (obyek dakwah) dengan baik.
Namun demikian, bukan berarti seorang da’i selalu bersikap lemah-lembut dalam segala keadaan. Bahkan pada keadaan-keadaan tertentu dia dituntut untuk bersikap tegas dan keras. Sikap lemah-lembut dan keras diletakkan pada tempatnya masing-masing, dan itulah hikmah yang perlu fahami dan dilakukan saat berdakwah.

DALIL LEMAH-LEMBUT DALAM DAKWAH
Banyak ayat dan hadits yang menunjukkan pentingnya sikap lembut dalam dakwah. Inilah diantaranya:
1-      Firman Allah Ta’ala kepada nabi Musa q dan nabi Harun q :
اذْهَبَآ إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى {43} فَقُولاَ لَهُ قَوْلاً لَّيِّنًا لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى
Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah malampaui batas;
maka berbicalah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut mudah-mudahan ia ingat atau takut". (QS. Thaha (20): 43-44)

Imam Al-Quthubi t menyatakan: “Jika (Nabi) Musa q (dan Harun q –pen) diperintahkan untuk mengatakan perkataan yang lemah-lembut kepada Fir’aun, maka orang yang (derajatnya) dibawahnya (Nabi Musa q ) lebih pantas meneladani hal itu di dalam pembicaraannya, dan di dalam perkataannya saat memerintahkan yang ma’ruf”. (Tafsir Al-Qurthubi 11/200)
Ketika kholifah Al-Makmun dinasehati dengan kasar oleh seseorang, beliau berkata: “Hai laki-laki, bersikaplah lemah-lembut, sesungguhnya Allah telah mengutus orang yang lebih baik daripada kamu (yaitu nabi Musa q ), kepada orang yang lebih buruk daripada aku (yaitu Fir’aun), dan Dia memerintahkannya dengan sikap lemah-lembut”. Kemudian beliau membaca ayat di atas! (Min Sifatid Da’iyah Al-Liin war Rifq, hal: 12, karya Syekh Dr.Fadhl Ilahi)


2-      Firman Allah Ta’ala:
اُدْعُ إِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ أَحْسَنُ
Ajaklah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. (QS. An-Nahl (16): 125)

Dan Firman Allah Ta’ala:
وَلاَ تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلاَّ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلاَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا
Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim diantara mereka. (QS. Al-‘Ankabut (29): 46)

Imam Al-Alusi mengatakan: “melainkan dengan cara yang paling baik”, yaitu dengan perangai yang paling baik, seperti membalas kekasaran dengan kelembutan, kemarahan dengan kesabaran, kerusuhan dengan ketulusan, dan emosi dengan santun”. (Tafsir Ruhul Ma’ani 21/2)

3-      Firman Allah Ta’ala:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. (QS. Ali Imron (3): 159)

Sepantasnya seorang da’i benar-benar merenungkan ayat ini! Karena kalau sikap keras dan hati kasar akan menyebabkan manusia menjauhi Nabi Muhammad n -jika kedua sifat itu ada pada beliau-, padahal beliau adalah manusia paling mulia di hadapan Allah, maka bagaimana dengan orang lain yang derajatnya jauh di bawah beliau, jika dia bersikap keras dan berhati kasar?! (Lihat: Min Sifatid Da’iyah Al-Liin war Rifq, hal: 14, karya Syekh Dr.Fadhl Ilahi)

4-      Sabda Rasulullah n :
إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ
Sesungguhnya lemah-lembut tidak berada pada sesuatu kecuali pasti menjadikannya indah, dan tidaklah lemah-lembut dihilangkan dari sesuatu kecuali pasti menjadikannya buruk. (HR. Muslim no. 2594, dari ‘Aisyah)

Para ulama mengatakan: kata “syai’in (sesuatu)” pada kalimat di atas adalah nakirah (kata tidak tertentu) yang berada pada rangkaian peniadaan, sehingga mengenai segala perkara. Maksudnya bahwa lemah-lembut terpuji di dalam segala urusan.
“Oleh karena itulah adanya lemah-lembut di dalam dakwah termasuk perkara yang akan menjadikannya indah, sehingga dakwah itu akan lebih kuat menarik hati (manusia) dan menghasilkan tujuan. Dan ketiadaan lemah-lembut di dalam dakwah termasuk perkara yang akan menjadikannya buruk”. (Lihat: Min Sifatid Da’iyah Al-Liin war Rifq, hal: 15, karya Syekh Dr.Fadhl Ilahi)

5-      Abu Musa Al-Asy’ari berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا بَعَثَ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِهِ فِي بَعْضِ أَمْرِهِ قَالَ بَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا وَيَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا
Kebiasaan Rasulullah n jika mengutus seseorang dari para sahabatnya di dalam sebagian keperluan beliau, beliau bersabda: “Sampaikan berita gembira dan janganlah membuat (orang) lari (menjauhi agama), mudahkanlah dan janganlah membuat susah!” (HR. Muslim no. 1732)

Dalam hadits ini Rasulullah n tidaklah mencukupkan dengan perintah “memudahkan dan menyampaikan kabar gembira” tetapi beliau juga melarang “membuat susah dan membuat lari”, ini menuntut terus-menerusnya (di dalam) memudahkan dan menyampaikan kabar gembira pada seluruh keadaan, dan ketiadaan kebalikan dari itu di pada seluruh keadaan”.
Kemudian, di antara kalimat penuh hikmah dalam masalah ini adalah perkataan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah t : “Maka wajib ada tiga (hal dalam amar ma’ruf dan nahi mungkar): ilmu, lemah-lembut, dan sabar. Ilmu sebelum memerintah dan melarang, lemah-lembut bersamaan dengannya, dan sabar setelahnya. Walaupun ketika hal itu wajib menyertai dalam seluruh keadaan itu”. (Kitab Amar ma’ruf wan nahi mungkar, hal: 30,  karya Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah)

SIKAP TEGAS DAN KERAS DALAM DAKWAH
Dari keterangan di atas telah jelas tentang kewajiban memulai dakwah dengan lemah-lembut, demikian juga dalam menyikapi orang yang tidak berilmu, orang yang tidak meremehkan dan tidak menentang hukum Allah.
Namun demikian, dalam keadaan tertentu seorang da’i perlu menggunakan cara tegas dan keras, jika memang dituntut oleh hikmah. Karena yang disebut hikmah adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya. Keadaan-keadaan yang diperlukan sikap tegas dan keras seorang da’i antara lain pada saat:
1.      Membela larangan Allah yang dilanggar dan saat menegakkan hudud.
2.      Nampak sikap meremehkan terhadap hukum Allah dan penentangan terhadap dakwah.
3.      Di saat nampak penyimpangan dari syari’at dari orang yang tidak sepantasnya muncul penyimpangan tersebut.
Akan tetapi yang perlu diketahui bahwa sikap keras dan tegas yang dilakukan oleh da’i jangan sampai menimbulkan kemungkaran yang lebih besar atau menghilangkan kebaikan yang lebih besar.
(Rujukan: kitab “Min Sifatid Da’iyah Al-Liin war Rifq”, karya Syekh Dr.Fadhl Ilahi]



2 komentar:

  1. Jazakullah Khairan Akhi.. Bagus skali Artikelnya. Membatu Ana.😃👍

    BalasHapus
  2. Barokallahufiik ����

    BalasHapus

 

Sample text