Mutiara Hikmah

icon

icon

Selasa, 30 April 2013

KEBANGKITAN DAN DAKWAH



KEBANGKITAN DAN DAKWAH

Kebangkitan dan dakwah adalah sesuatu yang sangat penting dalam islam bagaikan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain, dengan dua hal tersebut ummat ini akan menuju perubahan yang lebih baik jika benar-benar bisa bangkit dan mendakwahkan ajarannya kepada seluru alam, sehingga hukum yang telah ditetapkan oleh Rabbil’izzati bisa diaplikasikan dalam kehidupan seluruh ummat manusia. Dengan begitu diharapkan bagi ummat ini untuk menuju derajat yang lebih tinggi dalam stratata kehidupan manusia baik di dunia maupun di akhirat, dalam hal ini kita akan membahas dulu tentang pengertian kebangkitan dan dakwah.
Pengertian kebangkitan (ash-shahwah) yang langsung terlintas di dalam benak kita adalah kata: shaha-yashhu; artinya bangun(Sadar tidak tidur)[1]. Melihat realita saat ini, keadaan umat adalah bagaikan orang yang sedang tidur, yang terlena dari kesadarannya(sebagaimana yang disebutkan syaikh ‘Utsamin dalam kitabnya”Ash Shahwah Al Islamiyah”).
Ash-shaha, artinya lenyap mabuknya. Orang Arab membandingkan mabuk dengan as-Shahwah, yakni antara berakal dan tidak berakal.[2] Di antara contohnya: dia ingin mengambilnya antara as-sukrah dan as-shahwah. Ini misalnya seorang pelajar yang merasa bodoh, sementara ia mengetahui.
Shaha dalam bahasa Arab – jika untuk menyifati manusia – juga diartikan dengan kesadaran, kesembuhan dan kebangunan. Hal itu diketahui dari lawan katanya, yaitu tidur atau mabuk. Dikatakan: Shaha min nawmih aw min sukrih (Dia bangkit dari tidurnya atau sadar dari mabuknya). Maknanya: bangkit/sadar.[3] Dengan kata lain, kesadarannya telah kembali yang sebelumnya lenyap dari dirinya sebagai akibat dari sesuatu yang alami, yaitu tidur, atau suatu rekayasa, yaitu mabuk.
Ash-Shahwah (kebangkitan) pada asalnya untuk menyatakan kekuatan kesadaran pada diri manusia yang diungkapkan dengan hati atau kesadaran atau akal[4], Sesuatu yang membuat limbung umat adalah sama dengan apa yang membuat limbung individu, yaitu hilangnya kesadaran baik jangka panjang maupun pendek akibat tidur dan terlenanya umat dari dalam diri umat sendiri atau dari luar akibat tidur yang dipaksakan kepadanya oleh pihak lain. Jadi ash-shahwah (kebangkitan) artinya adalah kembalinya kesadaran dan kembalinya kewaspadaan umat yang sebelumnya telah hilang.
Inilah pengertian etimologis dari kata bangkit dan kebangkitan. Adapun makna istilah kata kebangkitan (ash-shahwah) sebagaimana diketahui adalah kebangkitan dari keterpurukan dan keterlenaan serta dari ketiadaan pemahaman terhadap realita hakiki yang menjadi realita hidup umat. Hal itu akibat dari banyak faktor yang menutupi umat dari kebenaran; memalingkan umat dari memahami realita; dan kewaspadaan umat terhadap realita ini serta upaya umat untuk mengubah dan membebaskan diri darinya menuju realita yang lebih mulia.
Sedangkan makna dakwah adalah Secara bahasa perkataan da’wah berasal dari kata kerja دعا يدعو دعوة    (da’â – yad’û, da’watan), yang berarti mengajak, menyeru, memanggil.[5] Disebutkan juga dalam kamus al munjid dengan arti yang serupa yaitu  دعا يدعو دعوة   artinya memanggil/mengajak atau panggilan/ajakan.[6] Syaikh Abdurrahman ibnu Nashir As Sa’di menyebutkan dalam tafsirnya pada penafsiran dari surat Al Baqarah ayat 186, bahwa; Panggilan itu dibagi menjadi dua(2):
a.       Panggilan kepada ibadah
b.      Panggilan kepada masalah[7]
Dari dua pengertian dakwah yang disampikan oleh Syaikh Abdurrahman ibnu Nashir As Sa’di, tentu saja dakwah yang kita dimaksudkan adalah dakwah kepada ibadah. Yaitu mengajak manusia kepada ibadah kepada Allah Ta’ala saja. Dan dengan dakwah ini pula diharapkan bisa membangkitkan ummat yang sedang terpuruk dari berbagai segi kehidupannya, dari segi agama ummat ini sangat kurang dan dari segi harta juga masih banyak yang berada pada garis kemiskinan. Dan cara untuk membangkitkan mereka adalah dengan mendakwahkan ajaran agama ini sehingga ummat faham betul hakikat hidup dan mereka diciptakan oleh Allah Ta’ala, dengan kefahaman yang mereka miliki diharapkan menimbulkan kesadaran untuk bangkit dan turut andil dalam perjuangan dan dakwah ini.

Selasa, 16 April 2013

AL-WALA' WAL BARA' MENURUT AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH




AL-WALA' WAL BARA'
MENURUT AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH

Salah satu dari prinsip ‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah, yaitu mencintai dan memberikan wala' (loyalitas) kepada kaum Mukminin, membenci kaum musyrikin dan orang-orang kafir serta berpaling (bara') dari mereka.[1]
Al-Wala' dalam bahasa Arab mempunyai beberapa arti, antara lain; mencintai, menolong, mengikuti dan mendekat kepada sesuatu. Selanjutnya, kata al-muwaalaah (لْمُوَالاَةُ) adalah lawan kata dari al-mu'aadaah(الْمُعَادَاةُ) atau al-‘adawaah(الْعَدَوَاةُ) yang berarti permusuhan. Dan kata al-wali (الْوَلِى) adalah lawan kata dari al-‘aduww (الْعَدُوُّ) yang berarti musuh.[2] Kata ini juga digunakan untuk makna memantau, mengikuti, dan berpaling. Jadi, ia merupakan kata yang mengandung dua arti yang saling berlawanan.
Dalam terminologi syari'at Islam, al-Wala' berarti penyesuaian diri seorang hamba terhadap apa yang dicintai dan diridhai Allah berupa perkataan, perbuatan, kepercayaan, dan orang yang melakukannya. Jadi ciri utama wali Allah adalah mencintai apa yang dicintai Allah dan membenci apa yang dibenci Allah, ia condong dan melakukan semua itu dengan penuh komitmen. Dan mencintai orang yang dicintai Allah, seperti seorang mukmin, serta membenci orang yang dibenci Allah, seperti orang kafir.[3]
Sedangkan kata al-bara' dalam bahasa Arab mempunyai banyak arti, antara lain menjauhi, membersihkan diri, melepaskan diri dan memusuhi. Kata bari-a (بَرِيءَ) berarti Bebas,[4] atau membebaskan diri dengan melaksanakan kewajibannya terhadap orang lain.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
بَرَاءَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِه.....
“(Inilah pernyataan) pemutusan hubungan dari Allah dan Rasul-Nya.... ” [At-Taubah: 1]
Maksudnya, membebaskan diri, menjauh, menganggap selesai dengan peringatan terhadapnya.[5]
Maka, Kesimpulan makna al-wala' adalah apa yang dicintai Allah, sedangkan Kesimpulan makna al-bara' adalah apa yang dibenci Allah. 

A. Definisi ‘Aqidah al-Wala' dan al-Bara'
Dari penjelasan diatas: ‘aqidah al-wala' wal-bara' dapat didefinisikan sebagai penyesuaian diri seorang hamba terhadap apa yang dicintai dan diridhai Allah serta apa yang dibenci dan dimurkai Allah, dalam hal perkataan, perbuatan, dan kepercayaan. Dari sini kemudian kaitan-kaitan al-wala' wal bara' dibagi menjadi empat:

Rabu, 10 April 2013

TAUJIHAT SHAHWAH ISLAMIYAH





Panduan Kebangkitan Islam Syaikh 'Utsaimin 73-81



ORIENTASI SYABABUSH SHAHWAH

Tidak Diperbolehkan Bagi Seseorang Berbicara Tentang Agama Tanpa Ilmu
73. Nasihat apa yang diberikan kepada kaum supaya mereka menegakkan dakwah Ilallah dengan mendatangi serta mengajaknya kemasjid, sebagian dari mereka tidak mengerti ilmu sedikitpun?
Adapun metode meng-ishlah yang tepat adalah melihat  dan mengikuti dengan media(perantara) yang sesuai selama media itu bukanlah sesuatu yang dilarang, karena media terbatas dengan dzatnya dan tidak disebut sebagai hukum, tetapi pada media itu adanya adalah ahkamul maqasid(maksud dari hukum) tersebut.
Adapun media yang terlarang tidaklah diperbolehkan mengikutinya, seperti; seseorang yang menjadikan menari dan menyanyi sebagai media untuk mengumpukan manusia, kemudian mengajak mereka kepada Allah, karena yang seperti itu adalah haram dan tidak bermanfaat, karena Allah tidak menjadikan obat bagi umat dari apa-apa yang diharamkannya.
Maka perantara dalam berdakwah kepada Allah adalah sesuatu yang diperbolehkan selama itu bukan perkara yang dilarang, karena media perantara pada batasan dzatnya bukanlah termasuk ibadah tetapi metode untuk mencapai tujuan yang dimaksud, seperti; mengunjungi masyrakat, membacakan Al Quran kepada meraka dan apa-apa yang mudah dari hadits-hadits Rosulullah dan mengeluarkan  meraka dengannya bersama mereka untuk mengajari dan mencerdaskan mereka maka hal ini adalah kebaikan tanpa diragukan lagi.
Dengan sebab itulah, tidak diperbolehkan seseorang berbicara tentang agama tanpa ilmu. Sebagaimana firman Allah;
قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ } [الأعراف: 33
33. Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui."(Q.S. Al A’raf: 33)
Juga firman Allah;
{وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا} [الإسراء: 36]
36. dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (Q.S. Al Isra’: 36)
Ibnu ‘Abbas menjelaskan bahwa [walaa taqfu] artinya [walaa taqul] (jangan berkata).[1]
Ibnu Katsir menerangkan ayat di atas berkata:
“Sesungguhnya Allah melarang perkataan tanpa ilmu, juga perkataan dengan dhan (persangkaan).”[2]
Itu semua adalah sangat sesuai, lebih di sukai dan sebagai peringatan, karena kebanyakan dari da’i mereka menyampaikan hadits-hadits yang tidak jelas asalnya dalam ceramah meraka. Diantaranya hadits dho’if, maupun hadits maudhu’, mereka berdakwah dengan begitu bertujuan memikat manusia dengan hadits-hadits tersebut, dan itu adalah termasuk kesalahan yang besar. Sedangkan masih banyak hadits-hadits shohih dari Rosul Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, juga dalil dari kitabullah, maka dari itu kita tinggalkan menggunakan hadits-hadits yang maudhu’ dan dho’if.[3]
Sebagai seorang da’i harus selalu jujur dalam menyampaikan risalah dakwah dengan cara menyampaikan yang sesuai dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah. Jujur adalah sifat yang harus dimiliki oleh semua orang terkhusus lagi bagi seorang da’i, dan Rasul-pun mewajibkan kepada ummatnya untuk selalu berlaku jujur sebagaimana sabdanya yang diriwayatkan dari ‘Abdullah ibnu Mas’ud;
وعن عبد الله بن مسعود قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : " عليكم بالصدق فإن الصدق يهدي إلى البر وإن البر يهدي إلى الجنة وما يزال الرجل يصدق ويتحرى الصدق حتى يكتب عند الله صديقا . وإياكم والكذب فإن الكذب يهدي إلى الفجور وإن الفجور يهدي إلى النار وما يزال الرجل يكذب ويتحرى الكذب حتى يكتب عند الله كذابا " . متفق عليه
“Wajib bagi kalian untuk bersikap jujur, kerana kejujuran akan membawa  kepada kebaikan, dan kebaikan itu akan membawa ke syurga. Apabila seseorang terus menerus bersikap jujur dan berusaha untuk sentiasa jujur maka di sisi Allah dia akan dicatat sebagai orang yang Siddiq. Dan jauhilah kedustaan, kerana kedustaan itu akan membawa kepada kefajiran[4], dan kefajiran akan menjerumuskan ke dalam neraka. Apabila seseorang terus menerus berdusta dan mempertahankan kedustaannya maka di sisi Allah dia akan dicatat sebagai seorang pendusta.”(Muttafaqun ‘Alaih).[5]

TELA'AH MAJALAH SABILI


TELA’AH MAJALAH SABILI


1.    PENDAHULUAN
Seiring dengan perkembangan zaman, media massa tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan masyarakat, kehadiran media masa memberikan kemudahan pada masyarakat dalam memperoleh informasi dengan mudah diakses melalui televisi, radio, internet, majalah, Koran, dll.
Secara garis besar, media masa dapat dibagi menjadi dua yaitu, media masa cetak (majalah, Koran, dll). dan media masa  eletronik (televisi, radio, internet). Media masa ini terus berkembang hingga saat ini, perkembangannya dapat kita lihat melalu banyaknya atau bertambahnya media masa sekarang ini. Salah satu media cetak yang mengalami perkembangan pada saat ini adalah majalah.
Perkembangan majalah dengan konsep Islami sangatlah menarik untuk dicermati, selain memberikan informasi kondisi Islam, juga merupakan sebagai media dakwah. Majalah Islami ini yang menyuguhkan informasi berdasarkan kaidah Islam tentunya dengan desain yang menarik.

2.    LATAR BELAKANG BERDIRI
Pada awal zaman 1980 an, muncullah gerakan Islam, Yang paling menonjol lahirnya kelompok-kelompok pengajian usroh (dirumah-rumah). Pengajian usroh tersebut dikembangkan di masjid-masjid hingga kemudian berganti nama menjadi gerakan tarbiyah.
Salah satu bentuk strategi dakwah atau penyebaran ide-ide dalam pergerakan ini dengan membuat media masa. kemudian pada pertengan zman 1980 an dibuatlah majalah baru dengan nama SABILI. Kata Sabili itu sendiri berasal dari kata arab yang artinya “jalanku”. Majalah ini secara gotong royong dibangun oleh aktivis muslim yang tergabung Tela’ah dan Amalia Islam (TAI)

Rabu, 03 April 2013

DEWAN DAKWAH ISLAMIYAH INDONESIA


Berdirinya Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia

Masa Orde Lama (1959-1965) tercatat sebagai masa paling gelap dalam sejarah kehidupan kebangsaan Indonesia. Persiden Sukarno mencanangkan Konsepsi Presiden yang secara operarional terwujud dalam bentuk Demokrasi Terpimpin. Demokrasi terpimpin memusatkan seluruh kekuasaan ditangan Presiden. Para pemimpin nasional Mochtar Lubus, K.H. Isa Anshari, Mr. Assaat, Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Boerhanoeddin Harahap, S.H., M. Yunan nasution, Buya Hamka, Mr, Kasman Singodimedjo dan K.H E.Z. Muttaqin yang bersikap kritis terhadap politik Demokrasi terpimpin, ditangkap dan dipenjarakan tanpa proses pengadilan. Puncak dari masa penuh kegelapan itu ialah pecahnya peberontakan berdarah G.30.S/PKI.
Sesudah seluruh kekuatan bangsa yang anti komunis bangkit menghancurkan pemberontakan tersebut, datanglah zaman baru yang membawa banyak harapan. Yaitu era Orde Baru yang bertekad melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Pada masa  inilah, para pemimpin bangsa yang dipenjarakan oleh rezim Orde Lama dibebaskan.
 

Sample text