Mutiara Hikmah

icon

icon

Minggu, 10 Juli 2011

SEPULUH BENCANA DALAM MENUNTUT ILMU

Sepuluh Bencana Dalam Menuntut Ilmu
Keutamaan ilmu tidaklah kita ragukan lagi besarnya. Dengannya, Allah anugerahkan rasa takut kepada para penuntutnya. Karena ketika seorang hamba tahu tentang Rabb-nya, maka ia akan semakin berharap dan takut kepada-Nya.
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah ulama (orang berilmu).” (QS. Fathir: 28)
Dan sesungguhnya kebahagiaan dunia dan akhirat hanya tidak dapat diraih kecuali dengan ilmu. Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّة
“Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Abu Dawud, al-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dan lainnya)
Namun, tidak semua orang lancar dalam menempuh jalan ini. Syetan senantiasa berusaha merusak aktifitas yang agung ini dengan berbagai cara. Di tambah lagi adanya nafsu syahwat para penuntut ilmu yang belum ditundukkan semakin menambah bencana dalam meraih keutamaan agung ini.
Pada tulisan ini kami akan sebutkan sepuluh bencana yang menghalangi seorang murid dalam menuntut ilmu. Kesepuluh bencana ini kami sarikan dari tulisan Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad al-Sadlan dalam kitabnya, Ma’alim Fi Thariq Thalab Al-‘Ilmi sebagai berikut:

1. Salah niat dalam menuntut ilmu
Sesungguhnya niat adalah dasar, rukun, serta penentu suatu amal. Apabila niat salah dan rusak, maka amal yang dikerjakan akan ikut salah dan rusak, sekadar dengan rusaknya niat.
Jika niat menuntut ilmu yang seharusnya untuk mencari wajah Allah tercampur dengan niatan-niatan kotor seperti ingin tampil, terkenal, atau menguasai majlis, pastilah hal ini akan menjadi penghalang baginya dalam menuntut ilmu.
Karenanya, bagi penuntut ilmu hendaknya mengikhlaskan naitnya untuk mencari wajah Allah semata. Namun apabila dalam perjalanan syetan membisikkan niatan-niatan jahat maka ia harus menghilangkannya dan membersihkan kotoran itu dari dirinya.

2. Ingin terkenal dan ingin tampil
Ingin dikenal dan ingin tampil merupakan penyakit ganas yang sering menyerang para menuntut ilmu. Tidak selamat darinya kecuali orang yang dijaga oleh Allah Ta’ala. Imam al-Syatibi dalam al-I’tisham berkata, “Sesuatu yang paling terakhir hilang dari hati orang-orang shalih adalah keinginan untuk berkuasa dan keinginan untuk tampil.”
Apabila niat seorang penuntut ilmu ingin terkenal namanya, ingin disebut-sebut dan ingin selalu dihormati di mana saja ia berada dan berjalan, dan tidak ada yang dia inginkan kecuali hal itu, maka ia telah berada pada posisi yang sangat berbahaya. Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,
“Sesungguhnya orang pertama kali yang akan diadili pada hari kiamat adalah tiga orang: . . . . . (hingga sabda beliau) . . . Dan orang yang mempelajari ilmu, membacakannya dan membaca Al-Qur’an. Ia dihadapkan kepada Allah. Allah memberitahukan kepadanya akan nikmat-nikmat-Nya dan ia pun mengetahui-Nya. Allah bertanya kepadanya, “Apa yang kamu lakukan dengan nikma-nikmat tersebut?” Ia menjawab, “Saya mempelajari ilmu, mengajarkannya dan membaca Al-Qur’an di jalan-Mu.” Allah berkata kepadanya, “Kamu dusta, sesungguhnya kamu mempelajari ilmu agar kamu dikatakan sebagai seorang ulama. Kamu mempelajari Al-Qur’an agar kamu disebut sebagai Qurra’ (Ahli membaca Al-Qur’an), itu semua telah dikatakan untukmu.” Kemudian Allah memerintahkan (untuk mengadzabnya) maka ia pun diseret wajahnya lalu dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim)
Para ulama salaf adalah orang-orang yang paling menjauhi keinginan untuk dikenal lalu dipuji. Bisyr bin Harits berkata, “Tidak bertakwa kepada Allah orang yang ingin dikenal.” (Siyar A’lam Nubala’: 11/216)
Imam Ahmad rahimahullah pernah berkata, “Aku ingin tinggal di pinggiran kota Makkah sehingga saya tidak dikenal. Sesungguhnya aku diuji dengan terkenalnya namaku.” Ketika Imam Ahmad mendengar bahwa orang-orang menyebut-nyebut namanya ia berkata, “Semoga ini bukan merupakan ujian bagiku.” (Siyar A’lam Nubala’: 11/210)
Para ulama salaf adalah orang-orang yang paling menjauhi keinginan untuk dikenal lalu dipuji.

3. Lalai menghadiri majelis ilmu
Para ulama salaf mengatakan bahwa ilmu itu didatangi bukan mendatangi. Namun kini ilmu mendatangi kita dan tidak didatangi kecuali beberapa saja.
Sesungguhnya menghadiri majelis ilmu terdapat dua keberuntungan: Mendapatkan ilmu dan mendapatkan kebahagiaan di akhirat. Karena menuntut ilmu termasuk ibadah yang sangat mulia dan agung. Karenanya Allah Ta’ala menurunkan ketenangan bagi siapa yang gemar menghadiri majelis ilmu dan melimpahkan rahmat kepada mereka. Sementara para malaikat akan menaungkan sayapnya bagi mereka dan memintakan ampun untuk mereka.

4. Beralasan dengan banyaknya kesibukan
Alasan ini dijadikan oleh syetan sebagai sarana menghalangi jalan menuntut ilmu. Berapa banyak orang yang sudah dinasihati dan didorong untuk menuntut ilmu, tapi syetan menggodanya dengan alasan ini.
Orang yang beralasan dengan kesibukannya pada pekerjaan atau yang lainnya sehingga membuat dirinya meninggalkan majelis ilmu adalah termasuk orang-orang yang menyia-nyiakan kesempatan mencari ilmu. Sedangkan orang-orang yang hatinya dibuka oleh Allah, ia akan mengatur waktunya dan menggunakannya sebaik mungkin sehingga kesibukannya untuk mencari kebutuhan hidup tidak sampai memalingkannya dari menuntut ilmu.
Orang yang beralasan dengan kesibukannya pada pekerjaan atau yang lainnya sehingga membuat dirinya meninggalkan majelis ilmu adalah termasuk orang-orang yang menyia-nyiakan kesempatan mencari ilmu.

5. Menyia-nyiakan kesempatan belajar di waktu kecil
Orang yang tidak mampu memanfaatkan waktu kecilnya untuk menuntut ilmu maka ketika sudah besar akan menyesal. Saat sudah tua, akan banyak kesibukan, pekerjaan, dan tamu yang datang ke rumahnya sehingga pikirannya bertumpuk. Pikirannya tidak mampu digunakan untuk focus belajar sebagimana ketika masih kecil, yang saat itu belum banyak kesibukan. Karenanya Imam Al-Hasan al-Bashri berkata, “Belajar hadits di waktu kecil bagai mengukir di atas batu.”
Namun demikian bukan berarti seseorang boleh berputus asa untuk belajar ketika tidak memanfaatkan waktu mudanya untuk mencari ilmu. Imam Al-Bukhari menasihatkan, “Dan (tuntutlah ilmu walaupun) setelah kalian tua, karena para sahabat Nabi belajar pada saat mereka tua.”
Sesungguhnya seluruh umut adalah kesempatan untuk mencari ilmu, karena thalabul ilmi adalah ibadah. Allah Ta’ala berfirman,
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
"Dan beribadahlah kepada Rabb-mu sampai datang kepadamu yang diyakini (maut).” (QS. Al-Hijr: 99)

6. Enggan mencari ilmu
Di antara sebab yang menjadikan seseorang malas dan enggan menuntut ilmu adalah kesibukannya mengikuti informasi terkini dan memantau peristiwa yang sedang terjadi.
Sesungguhnya seluruh problem kehidupan hanya bisa di atasi dengan ilmu. Biar tidak ngawur, maka ilmu harus ada untuk membimbingnya. Sementara orang yang lebih memantau berita dan informasi terkini namun tidak memiliki kematangan ilmu dien, maka dia akan menyelesaikan masalah yang muncul dan yang di hadapinya dengan pandanganya yang pendek, jauh dari ilmu. Karenanya ia akan merugi karena kesalahan-kesalahannya dalam menyikapi segala persoalan yang muncul yang disebabkan kejahilan terhadap kebenaran.
Syaikhul Islam adalah orang yang paling tahu dengan keadaan yang terjadi saat itu dan mengetahui permasalahn yang terjadi di sekitarnya. Namun ia tetap mencari ilmu. Sehinga ketika banyak fitnah dan musibah di kala itu, beliau bisa mengatasi permasalahan yang terjadi di masyarakat dan mendapatkan solusi secara syar’i dan tepat dari Al-Qur’an dan Sunnah serta dari berbagai disiplin ilmu.
Sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit kecuali ada obatnya. Dan tidaklah musibah terjadi kecuali ada jalan keluarnya dan Al-Qur’an dan al-Sunnah. Dan ini adalah perkara pasti yang tidak perlu diragukan lagi.

7. Menilai baik diri sendiri
Maksudnya adalah merasa bangga apabila dipuji dan merasa senang ketika mendengar orang lain memujinya.
Memang, pujian manusia terhadap seorang mukmin merupakan kabar gembira yang Allah segerakan. Abu Hurairah pernah bertanya kepada Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam tentang seseorang yang melakukan suatu kebaikan dan orang-orang melihatnya sehingga memujinya. Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,
“Itu adalah kabar gembira bagi orang beriman yang Allah berikan dengan segera.” (HR. Musli dalam kitab Al-Birr)
Namun hendaknya seorang mukmin berhati-hati dengan rasa gembira dan bangga jika dipuji dengan sesuatu yang tidak ada pada dirinya. Allah menceritakan sifat orang munafikin, “Dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang tidak mereka kerjakan.” (QS. Ali Imran: 188)
Dan sesungguhnya merasa diri hebat dan sempurna adalah perbuatan tercela, kecuali pada beberapa perkara saja yang sesuai dengan syariat. Allah Ta’ala berfirman,
فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى
“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci, karena Dialah yang paling mengetahui siapa orang yang bertakwa.” (QS. Al-Najm: 32)
Allah telah mencela ahli kitab dengan sifat buruk mereka yang sok suci dan hebat,
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih? Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak dianiaya sedikit pun.” (QS. Al-Nisa’: 49)
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda, “Janganlah kalian merasa diri kalian suci. Allah yang lebih tahu akan orang-orang yang berbuat baik di antara kalian.” (HR. Muslim)
Sesungguhnya merasa diri bagus dan suka dipuji termasuk salah satu pintu masuk syetan kepada hamba-hamba Allah. Karenanya, berhati-hatilah agar tidak termasuk orang yang bisa dikuasai syetan karena adanya sifat suka dipuji dan merasa hebat.

8. Tidak mengamalkan Ilmu
Setiap orang yang memiliki ilmu akan dimintai pertanggungjawaban atas ilmunya. Dan siapa yang memiliki ilmu dan tidak mengamalkannya maka keberkahan ilmu yang dimilikinya akan hilang. Dan Allah sangat mencela orang yang tidak mengamalkan ilmunya,
كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
"Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Al-Shaff: 3)

9. Putus asa dan rendah diri diri
Putus asa dan tidak percaya diri merupakan salah satu sebab tidak diperolehnya ilmu. Karenanya janganlah merasa rendah diri jika anda lemah hafalan, lemah pemahaman, lambat dalam membaca dan cepat lupa. Semua penyakit ini akan hilang jika anda meluruskan niat dan bersungguh-sungguh mencurahkan usaha.
Imam Al-Askari menceritakan tentang dirinya, “Ketika pertama kali menuntut ilmu, menghafal itu sangat susah bagiku. Lalu aku membiasakan untuk membaca syair Ru’bah yang berjudul, “Wa Qaaim al-A’maaqi Khaawii al-Mukhtaraqna" (Gelapnya kedalaman yang Tak Tertembus) dalam satu malam. Padahal syair tersebut hamper dua ratus bait.” (Al-Hatsts ‘ala Thalab al-Ilmi, Abu Hilal Al-Askari; 71)
Imam al-Bukhari pernah ditanya tentang obat lupa. Beliau menjawab, “Senantiasa membaca Kitab.”
Di samping niat yang lurus dan bersungguh-sungguh, juga harus dijauhi penyebab lemahnya hafalan, yaitu maksiat. Dan meninggalkan maksiat merupakan sarana terkuat untuk membantu kuatnya hafalan.
Imam Al-Syafi’i rahimahullaah pernah mengadu kepada gurunya, Waqi tentang buruknya hafalan beliau. Maka sang guru member arahan kepada muridnya ini agar meningalkan maksiat. Beliau mengatakan bahwa ilmu adalah cahaya. Dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada ahli maksiat.

10. Terbiasa menunda-nunda
Ibnu Qayyim rahimahullaah pernah menjelaskan tentang menunda-nunda dan berangan-angan, “Sesungguhnya berangan-angan itu adalah senjata utama Iblis (untuk menggoda manusia).” (Madarij Salikin: 1/456-457)
Abu Ishaq pernah berkata, “Dikatakan kepada salah seorang dari Bani Abdil Qais, nasihatilah aku! Maka ia berkata, “Hindarilah menunda-nunda pekerjaan.”
Al-Hasan pernah berkata, “Janganlah kamu menunda-nunda pekerjaan. Sesungguhnya anda adalah orang yang berada pada hari ini, bukan pada hari esok. Seandainya anda mendapati hari esok, maka tetaplah kamu seperti yang kemarin. Karena jika anda tidak mendapatkan hari esok, maka anda tidak akan menyesal dengan waktu yang telah anda gunakan hari ini.”
Karena itu bagi setiap orang yang ingin mendapatkan ilmu dan ingin berkepribadian orang yang berilmu, janganlah menyia-nyiakan sedikitpun dari waktunya. Dan para ulama salaf sangat serius dalam memperhatikan urusan waktu mereka sehingga apabila kita mau membaca tentangnya maka kita akan terheran-heran karena ketatnya mereka dalam memperhatikan waktu. Wallahu Ta’ala a’lam.
Penulis : Ust. Badrul Tamam
Semoga bermanfaat.

Minggu, 03 Juli 2011

ISTRIKU BUKAN BIDADARI, TAPI AKU PUN BUKANLAH MALAIKAT


Istriku Bukan Bidadari, Tapi Aku Pun Bukan Malaikat
Alhamdulillah, salawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan sahabatnya.
Anda telah berkeluarga? Bagaimana pengalaman Anda selama mengarungi bahtera rumah tangga? Semulus dan seindah yang Anda bayangkan dahulu?
Mungkin saja Anda menjawab, “Tidak.”
Akan tetapi, izinkan saya berbeda dengan Anda, “Ya,” bahkan lebih indah daripada yang saya bayangkan sebelumnya.
Saudaraku, kehidupan rumah tangga memang penuh dengan dinamika, lika-liku, dan pasang surut. Kadang Anda senang, dan kadang Anda bersedih. Tidak jarang, Anda tersenyum di hadapan pasangan Anda, dan kadang kala Anda cemberut dan bermasam muka.
Bukankah demikian, Saudaraku?
Berbagai tantangan dan tanggung jawab dalam rumah tangga senantiasa menghiasi hari-hari Anda. Semakin lama umur pernikahan Anda, maka semakin berat dan bertambah banyak perjuangan yang harus Anda tunaikan.
Tanggung jawab terhadap putra-putri, pekerjaan, karib kerabat, masyarakat, dan lain sebagainya.
Di antara tanggung jawab yang tidak akan pernah lepas dari kehidupan Anda ialah tanggung jawab terhadap pasangan hidup Anda.
Sebelum menikah, sah-sah saja Anda sebagai calon suami membayangkan bahwa pasangan hidup Anda cantik rupawan, bangsawan, kaya raya, patuh, pandai mengurus rumah, penyayang, tanggap, sabar, dan berbagai gambaran indah.
Bukankah demikian, Saudaraku?
تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ
“Biasanya, seorang wanita dinikahi karena empat pertimbangan: harta kekayaannya, kedudukannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka, hendaknya engkau lebih memilih wanita yang beragama, niscaya engkau beruntung.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Al-Qurthubi menjelaskan makna hadits ini dengan berkata, “Empat pertimbangan inilah yang biasanya mendorong seorang lelaki untuk menikahi seorang wanita. Dengan demikian, hadits ini sebatas kabar tentang fakta yang terjadi di masyarakat, dan bukan perintah untuk menjadikannya sebagai pertimbangan. Secara tekstual pun, hadits ini menunjukkan bahwa dibolehkan menikahi seorang wanita dengan keempat pertimbangan itu. Akan tetapi, hendaknya pertimbangan agama lebih didahulukan.”
Keterangan al-Qurthubi ini semakna dengan hadits yang diriwayatkan oleh shahabat Abdullah bin Amr al-’Ash radhiyallahu ‘anhu, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَزَوَّجُوا النِّسَاءَ لِحُسْنِهِنَّ فَعَسَى حُسْنُهُنَّ أَنْ يُرْدِيَهُنَّ وَلاَ تَزَوَّجُوهُنَّ لِأَمْوَالِهِنَّ فَعَسَى أَمْوَالُهُنَّ أَنْ تُطْغِيَهُنَّ وَلَكِنْ تَزَوَّجُوهُنَّ عَلَى الدِّينِ وَلَأَمَةٌ خَرْمَاءُ سَوْدَاءُ ذَاتُ دِينٍ أَفْضَلُ
‘Janganlah engkau menikahi wanita hanya karena kecantikan parasnya, karena bisa saja parasnya yang cantik menjadikannya sengsara. Jangan pula engkau menikahinya karena harta kekayaannya, karena bisa saja harta kekayaan yang ia miliki menjadikan lupa daratan. Akan tetapi, hendaklah engkau menikahinya karena pertimbangan agamanya. Sungguh, seorang budak wanita berhidung pesek dan berkulit hitam, tetapi ia patuh beragama, lebih utama dibanding mereka semua.’” (Hr. Ibnu Majah; oleh al-Albani dinyatakan sebagai hadits yang lemah)
Akan tetapi, sekarang, setelah Anda menikah, terwujudkah seluruh impian dan gambaran yang dahulu terlukis dalam lamunan Anda?
Bila benar-benar seluruh impian Anda terwujud pada pasangan hidup Anda, maka saya turut mengucapkan selamat berbahagia di dunia dan akhirat. Bila tidak, maka tidak perlu berkecil hati atau kecewa.
Saudaraku, besarkan hati Anda, karena nasib serupa tidak hanya menimpa Anda seorang, tetapi juga menimpa kebanyakan umat manusia.
عَنْ أَبِى مُوسَى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كَمُلَ مِنَ الرِّجَالِ كَثِيرٌ، وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ إِلاَّ آسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ، وَمَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ، وَإِنَّ فَضْلَ عَائِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيدِ عَلَى سَائِرِ الطَّعَامِ
Abu Musa radhiyallahu ‘anhu menuturkan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Banyak lelaki yang berhasil menggapai kesempurnaan, sedangkan tidaklah ada dari wanita yang berhasil menggapainya kecuali Asiyah istri Fir’aun dan Maryam binti Imran. Sesungguhnya, kelebihan Aisyah dibanding wanita lainnya bagaikan kelebihan bubur daging [1] dibanding makanan lainnya.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Saudaraku, berbahagia dan berbanggalah dengan pasangan hidup Anda, karena pasangan hidup Anda adalah wanita terbaik untuk Anda!
Anda tidak percaya? Silakan Anda membuktikannya. Bacalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini, lalu terapkanlah pada istri Anda.
لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ
“Tidak pantas bagi lelaki yang beriman untuk meremehkan wanita yang beriman. Bila ia tidak menyukai satu perangai darinya, pasti ia puas dengan perangainya yang lain.” (Hr. Muslim)
Saudaraku, Anda kecewa karena istri Anda kurang pandai memasak? Tidak perlu khawatir, karena ternyata istri Anda adalah penyayang.
Anda kurang puas dengan istri Anda yang kurang pandai mengurus rumah dan kurang sabar? Tidak usah berkecil hati, karena ia begitu cantik rupawan.
Anda berkecil hati karena istri Anda kurang cantik? Segera besarkan hati Anda, karena ternyata istri Anda subur sehingga Anda mendapatkan karunia keturunan yang shalih dan shalihah. Coba Anda bayangkan, betapa besar penderitaan Anda bila Anda menikahi wanita cantik akan tetapi mandul.
Demikianlah seterusnya.
Tidak etis dan tidak manusiawi bila Anda hanya pandai mengorek kekurangan istri, namun Anda tidak mahir dalam menemukan kelebihan-kelebihannya. Buktikan Saudaraku, bahwa Anda benar-benar seorang suami yang berjiwa besar, sehingga Anda peka dan lihai dalam membaca kelebihan pasangan Anda.
Dahulu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu peka dan mahir dalam membaca segala hal, termasuk suasana hati istrinya. Aisyah mengisahkan,
قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: إِنِّي لَأَعْلَمُ إِذَا كُنْتِ عَنِّي رَاضِيَةً، وَإِذَا كُنْتِ عَلَيَّ غَضْبَى . قَالَتْ: فَقُلْتُ مِنْ أَيْنَ تَعْرِفُ ذَلِكَ، فَقَالَ: أَمَّا إِذَا كُنْتِ عَنِّي رَاضِيَةً فَإِنَّكِ تَقُولِيْنَ لاَ وَرَبِّ مُحَمَّدٍ، وَإِذَا كُنْتِ غَضْبَى قُلْتِ لاَ وَرَبِّ إِبْرَاهِيمَ. قَالَتْ: قُلْتُ أَجَلْ وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا أَهْجُرُ إِلاَّ اسْمَكَ
“Pada suatu hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, ‘Sungguh, aku mengetahui bila engkau ridha kepadaku, demikian pula bila engkau sedang marah kepadaku.’ Spontan, Aisyah bertanya, ‘Darimana engkau dapat mengetahui hal itu?’ Rasulullah menjawab, ‘Bila engkau sedang ridha kepadaku, maka ketika engkau bersumpah, engkau berkata, ‘Tidak, demi Tuhan Muhammad. Adapun bila engkau sedang dirundung amarah, maka ketika engkau bersumpah, engkau berkata, ‘Tidak, demi Tuhan Ibrahim.’’ Mendengar penjelasan ini, Aisyah menimpalinya dan berkata, ‘Benar, sungguh demi Allah, wahai Rasulullah, ketika aku marah, tiada yang aku tinggalkan, kecuali namamu saja.’” (Muttafaqun ‘alaihi)
Demikianlah teladan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau begitu peka dengan suasana hati istrinya, sehingga beliau bisa membaca isi hati istrinya dari ucapan sumpahnya. Walaupun Aisyah berusaha untuk menyembunyikan isi hatinya, tetap bermanis muka, senantiasa berada di sanding Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan berbicara seperti biasa, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dapat menebak suasana hatinya dari perubahan cara bersumpahnya. Luar biasa, perhatian, kejelian, dan kepekaan yang tidak ada bandingnya.
Tidak mengherankan, bila beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
(خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
“Orang terbaik di antara kalian ialah orang yang terbaik dalam memperlakukan istrinya, dan aku adalah orang terbaik di antara kalian dalam memperlakukan istriku.” (Hr. At-Tirmidzi)
Bagaimana dengan Anda, Saudaraku? Dengan apa Anda dapat mengenali dan meraba suasana hati pasangan Anda?
Saudaraku, tidak ada salahnya bila sejenak Anda kembali memutar lamunan dan gambaran tentang istri ideal dan idaman yang pernah singgah dalam benak Anda. Selanjutnya, bandingkan gambaran istri idaman Anda dengan gambaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kaum wanita berikut ini,
الْمَرْأَةُ كَالضِّلَعِ ، إِنْ أَقَمْتَهَا كَسَرْتَهَا، وَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَفِيهَا عِوَجٌ
“Wanita itu bagaikan tulang rusuk. Bila engkau ingin meluruskannya, niscaya engkau menjadikannya patah, dan bila engkau bersenang-senang dengannya, niscaya engkau dapat bersenang-senang dengannya, sedangkan ia adalah bengkok.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Pada riwayat lain, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَسْتَقِيمُ لَكَ الْمَرْأَةُ عَلَى خَلِيقَةٍ وَاحِدَةٍ وَإِنَّمَا هِيَ كَالضِّلَعُ إِنْ تُقِمْهَا تَكْسِرْهَا وَإِنْ تَتْرُكْهَا تَسْتَمْتِعْ بِهَا وَفِيهَا عِوَجٌ
“Tidak mungkin istrimu kuasa bertahan dalam satu keadaan. Sesungguhnya, wanita itu bak tulang rusuk. Bila engkau ingin meluruskannya, niscaya engkau menjadikannya patah. Adapun bila engkau biarkan begitu saja, maka engkau dapat bersenang-senang dengannya, (tetapi hendaklah engkau ingat) ia adalah bengkok.” (Hr. Ahmad)
Nah, sekarang, silakan Anda mengorek memori Anda tentang wanita pendamping hidup Anda. Temukan berbagai kelebihan padanya, dan selanjutnya tersenyumlah, karena ternyata istri Anda memiliki banyak kelebihan.
Lalu, bila pada suatu hari Anda merasa tergoda oleh kecantikan wanita lain, maka ketahuilah bahwa sesuatu yang dimiliki oleh wanita itu ternyata juga telah dimiliki oleh istri Anda. Maka, bergegaslah untuk membuktikan hal ini pada istri Anda. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا رَأَى أَحَدُكُمُ امْرَأَةً فَأَعْجَبَتْهُ فَلْيَأْتِ أَهْلَهُ فَإِنَّ مَعَهَا مِثْلَ الَّذِي مَعَهَا
“Bila engkau melihat seorang wanita, lalu ia memikat hatimu, maka segeralah datangi istrimu! Sesungguhnya, istrimu memiliki seluruh hal yang dimiliki oleh wanita yang engkau lihat itu.” (Hr. At-Tirmidzi)
Demikianlah caranya agar Anda dapat senantiasa puas dan bangga dengan pasangan hidup Anda. Anda selalu dapat merasa bahwa ladang Anda tampak hijau, sehijau ladang tetangga, dan bahkan lebih hijau.
Selamat berbahagia dengan pasangan hidup yang telah Allah karuniakan kepada Anda. Semoga Allah memberkahi bahtera rumah tangga Anda.
Sebaliknya, sebagai calon istri, Anda juga berhak untuk mendambakan pasangan hidup yang tampan, gagah, kaya raya, pandai, berkedudukan tinggi, penuh perhatian, setia, penyantun, dermawan, dan lain sebagainya.
Betapa indahnya gambaran rumah tangga Anda, dan betapa istimewanya pasangan hidup Anda, andai gambaran Anda ini dapat terwujud. Bukankah demikian, Saudariku?
Saudariku, setelah Anda menikah, benarkah seluruh kriteria suami ideal yang pernah menghiasi lamunan Anda ini terwujud pada pasangan hidup Anda?
Bila benar terwujud, maka saya ucapkan selamat berbahagia di dunia dan akhirat, dan bila tidak, maka tidak perlu berkecil hati.
Besarkan hatimu, wahai Saudariku! Percayalah, bahwa pada pasangan hidup Anda ternyata terdapat banyak kelebihan.
Bila selama ini, Saudari ciut hati karena suami Anda miskin harta, maka tidak perlu khawatir, karena ia penuh dengan perhatian dan tanggung jawab.
Bila selama ini, Saudari kecewa karena suami Anda ternyata kurang tampan, maka percayalah bahwa ia setia dan bertanggung jawab.
Andai selama ini, Saudari kurang puas karena suami Anda kurang perhatian dengan urusan dalam rumah, tetapi ia begitu membanggakan dalam urusan luar rumah.
Juga, andai selama ini, sikap suami Anda terhadap Anda kurang simpatik, maka tidak perlu hanyut dalam duka dan kekecawaan, karena ia masih punya jasa baik yang tidak ternilai dengan harta. Ternyata, selama ini, suami Anda telah menjaga kehormatan Anda, menjadi penyebab Anda merasakan kebahagiaan menimang putra-putri Anda.
Saudariku, Anda tidak perlu hanyut dalam kekecewaan karena suatu hal yang ada pada diri suami Anda. Betapa banyak kelebihan-kelebihan yang ada padanya. Berbahagia dan nikmatilah kedamaian hidup rumah tangga bersamanya.
Berlarut-larut dalam kekecewaan terhadap suatu perangai suami Anda dapat menghancurkan segala keindahan dalam rumah tangga Anda. Bukan hanya hancur di dunia, bahkan berkelanjutan hingga di akhirat kelak.
Saudariku, simaklah peringatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini. Agar anda dapat menjadikan bahtera rumah tangga Anda seindah dambaan Anda.
أُرِيتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ يَكْفُرْنَ، قِيلَ: أَيَكْفُرْنَ بِاللَّهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ، وَيَكْفُرْنَ الإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا، قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ
“Aku diberi kesempatan untuk menengok ke dalam neraka, dan ternyata kebanyakan penghuninya ialah para wanita, akibat ulah mereka yang selalu kufur/ingkar.” Spontan, para shahabat bertanya, “Apakah yang engkau maksud adalah mereka kufur/ingkar kepada Allah?” Beliau menjawab, “Mereka terbiasa ingkar terhadap perilaku baik, dan ingkar terhadap jasa baik. Andai engkau berbuat baik kepada mereka seumur hidupmu, lalu ia mendapatkan suatu hal padamu, niscaya mereka begitu mudah berkata, ‘Aku tidak pernah mendapatkan kebaikan sedikit pun darimu.’” (Muttafaqun ‘alaihi)
Anda mendambakan kebahagian dalam rumah tangga?
Temukanlah bahwa kebahagian hidup dan berumah tangga terletak pada genggaman tangan suami Anda. Pandai-pandailah membawa diri, sehingga suami Anda rela membentangkan kedua telapak tangannya, dan memberikan kebahagian berumah tangga kepada Anda.
Percayalah Saudariku, suami Anda adalah pasangan terbaik untuk Anda.
إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا اُدْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ
“Bila seorang istri telah mendirikan shalat lima waktu, berpuasa bulan Ramadan, menjaga kesucian dirinya, dan taat kepada suaminya, niscaya kelak akan dikatakan kepadanya, ‘Silakan engkau masuk ke surga dari pintu mana pun yang engkau suka.’” (Hr. Ahmad dan lainnya)
Tidakkah Anda mendambakan termasuk orang-orang mukminah yang mendapatkan kebebasan masuk surga dari pintu yang mana pun?
Kunci Keberhasilan Rumah Tangga
Saudaraku, mungkin selama ini Anda bersama pasangan hidup Anda, terus berusaha mencari pola rumah tangga yang dapat mendatangkan kebahagiaan untuk Anda berdua.
Anda berhasil menemukannya?
Bila Anda berhasil, maka saya ucapkan selamat berbahagia. Adapun bila belum, maka segera temukan kunci keberhasilan rumah tangga Anda pada firman Allah berikut,
وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ
“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi, para suami mempunyai kelebihan satu tingkat daripada istrinya.” (Qs. al-Baqarah: 228)
Hak pasangan Anda setimpal dengan kewajiban yang ia tunaikan kepada Anda. Semakin banyak Anda menuntut hak Anda, maka semakin banyak pula kewajiban yang harus Anda tunaikan untuknya.
Shahabat Abdullah bin ‘Abbas memberikan contoh nyata dari aplikasi ayat ini dalam rumah tangganya. Pada suatu hari, beliau berkata, “Sesungguhnya, aku senang untuk berdandan demi istriku, sebagaimana aku pun senang bila istriku berdandan demiku, karena Allah Ta’ala telah berfirman,
وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ
‘Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.’
Aku pun tidak ingin menuntut seluruh hakku atas istriku, karena Allah juga telah berfirman,
وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ
‘Akan tetapi, para suami mempunyai kelebihan satu tingkat daripada istrinya.’” (Hr. Ibnu Abi Syaibah dan ath-Thabari)
Bagaimana dengan dirimu, wahai saudara dan saudariku? Kapankah Anda berdandan? Ketika sedang berada di rumah atau ketika hendak keluar rumah? Selama ini, sejatinya, untuk siapa Anda berdandan? Benarkah Anda berdandan untuk pasangan Anda, ataukah Anda berdandan dan tampil menawan untuk orang lain?
Saudaraku, bahu-membahu, saling melengkapi kekurangan, dan saling pengertian adalah salah satu prinsip dasar dalam membangun rumah tangga. Tidak layak bagi Anda untuk berperan sebagai penonton setia ketika pasangan Anda sedang mengerjakan pekerjaannya. Usahakan sebisa Anda untuk turut menyelesaikan pekerjaannya. Demikianlah, dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan dalam rumah tangga beliau.
Aisyah radhiyallahu ‘anha mengisahkan,
كَانَ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ، فَإِذَا سَمِعَ الأَذَانَ خَرَجَ
“Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan sebagian pekerjaan istrinya, dan bila beliau mendengar suara azan dikumandangkan, maka beliau bergegas menuju ke mesjid.” (Hr. Bukhari)
Constance Gager, ketua studi sekaligus asisten profesor di Montclair State University, Montclair, New Jersey, mengadakan penelitian tentang hubungan perilaku suami-istri dengan keromantisan dalam bercinta. Ia mengelompokkan para suami yang menjadi objek penelitiannya ke dalam dua kelompok.
Kelompok pertama adalah suami-suami yang tidak peduli dan jarang membantu pekerjaan istri. Kelompok kedua adalah suami-suami yang sering turut serta dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga istri.
Hasilnya luar biasa! Suami di kelompok kedua, yaitu yang sering membantu pekerjaan istrinya, terbukti lebih romantis dan lebih sering memadu cinta dengan pasangannya. Hubungan yang harmonis dan indah, begitu kental dalam rumah tangga mereka.
Sejatinya, penemuan ini bukanlah hal baru, karena secara logika, suami yang dengan rendah hati membantu pekerjaan istrinya pastilah lebih dicintai oleh istrinya. Tentunya, ini memiliki hubungan erat dengan keromantisan suami-istri dalam bercinta.
Sebaliknya, istri yang peduli dengan pekerjaan suami, pun akan mengalami hal yang sama.
Nah, bagaimana dengan diri Anda, wahai Saudaraku?
Selamat membuktikan resep manjur ini! Semoga berbahagia, dan hubungan Anda berdua semakin romantis dan harmonis.
Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat bagi Anda. Mohon maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan. Wallahu a’lam bish-shawab.

Penulis: Ustadz Arifin Badri, Lc., M.A.
===

catatan kaki:
[1] Para ulama pensyarah hadits menjelaskan bahwa bubur daging adalah makanan paling istimewa di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, terlebih-lebih bubur daging mudah pembuatannya dan selanjutnya mudah pula menelannya.

Sumber:
PengusahaMuslim.com

Sabtu, 02 Juli 2011

Jilbab Menurut Islam, Kristen dan Yahudi antara Mitos dan Realita




Kaum muslimin rahimakumullah.

Jilbab Menurut Islam, Kristen dan Yahudi antara Mitos dan Realita
Marilah kita buka satu persoalan yang di negara-negara barat dianggap sebagai simbol dari penindasan dan perbudakan wanita, yaitu jilbab atau tudung kepala. Apakah betul tidak terdapat pembahasan mengenai jilbab di dalam tradisi Jahudi-Kristen ? Mari kita lihat bukti catatan yang ada. Menurut Rabbi Dr. Menachem M. Brayer, Professor Literatur Injil pada Universitas Yeshiva dalam bukunya, The Jewish woman in Rabbinic Literature, menulis bahwa baju bagi wanita Yahudi saat bepergian keluar rumah yaitu mengenakan penutup kepala yang terkadang bahkan harus menutup hampir seluruh muka dan hanya meninggalkan sebelah mata saja. Beliau disana mengutip pernyataan beberapa Rabbi (pendeta Yahudi) kuno yang terkenal: "Bukanlah layaknya anak-anak perempuan Israel yang berjalan keluar tanpa penutup kepala" dan "Terkutuklah laki-laki yang membiarkan rambut isterinya terlihat," dan "Wanita yang membiarkan rambutnya terbuka untuk berdandan membawa kemelaratan."

Hukum Rabbi melarang pemberian berkat dan doa kepada wanita menikah yang tidak menutup kepalanya karena rambut yang tidak tertutup dianggap "telanjang". Dr. Brayer juga mengatakan bahwa "Selama masa Tannaitic, wanita Yahudi yang tidak menggunakan penutup kepala dianggap penghinaan terhadap kesopanannya. Jika kepalanya tidak tertutup dia bisa dikenai denda sebanyak empat ratus zuzim untuk pelanggaran tersebut."

Dr. Brayer juga menerangkan bahwa jilbab bagi wanita Yahudi bukanlah selalu sebagai simbol dari kesopanan. Kadang-kadang, jilbab justru menyimbolkan kondisi yang membedakan status dan kemewahan yang dimiliki wanita yang mengenakannya ketimbang ukuran kesopanan. Jilbab atau tudung kepala menandakan martabat dan keagungan seorang wanita bangsawan Yahudi. Jilbab juga diartikan sebagai penjagaan terhadap hak milik suami.

Jilbab menunjukkan suatu penghormatan dan status sosial dari seorang wanita. Seorang wanita dari golongan bawah mencoba menggunakan jilbab untuk memberikan kesan status yang lebih tinggi. Jilbab merupakan tanda kehormatan. Oleh karena itu di masyarakat Yahudi kuno, pelacur-pelacur tidak diperbolehkan menutup kepalanya. Tetapi pelacur-pelacur sering memakai penutup kepala agar mereka lebih dihormati (S.W.Schneider, 1984, hal 237). Wanita-wanita Yahudi di Eropa melanjutkan menggunakan jilbab sampai abad ke sembilan belas hingga mereka bercampur baur dengan budaya sekuler. Tekanan eksternal dari kehidupan di Eropa pada abad sembilan belas memaksa banyak dari mereka pergi keluar tanpa penutup kepala.

Beberapa wanita Yahudi kemudian lebih cenderung menggantikan penutup tradisional mereka dengan rambut palsu sebagai bentuk lain dari penutup kepala. Dewasa ini, wanita-wanita Yahudi yang saleh tidak pernah memakai penutup kepala kecuali bila mereka mengunjungi sinagog (gereja Yahudi) (S.W.Schneider, 1984, hal. 238-239). Sementara beberapa dari mereka. seperti sekte Hasidic, masih menggunakan rambut palsu (Alexandra Wright, 19??, hal 128-129).

Bagaimanakah jilbab menurut tradisi Kristen?
Kita sendiri menyaksikan sampai hari ini bahwa para Biarawati Katolik menutup kepalanya yang suruhannya sebetulnya telah ada semenjak empat ratus tahun yang lalu. Tetapi bukan hanya itu, St. Paul (atau Paulus) dalam Perjanjian Baru, I Korintus 11:3-10, membuat pernyataan-pernyataan yang menarik tentang jilbab sebagai berikut: "Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap laki-laki adalah Kristus, kepala dari perempuan adalah laki-laki dan kepala Kristus adalah Allah. Tiap laki-laki yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang bertudung, menghina kepalanya. Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya. Sebab jika perempuan tidak mau menudungi kepalanya, maka haruslah ia juga mengguting rambutnya. Tetapi jika bagi perempuan adalah penghinaan, bahwa rambutnya digunting atau dicukur, maka haruslah ia menudungi kepalanya. Sebab laki-laki tidak perlu menudungi kepalanya: ia menyinarkan kemuliaan Allah. Tetapi perempuan menyinarkan kemuliaan laki-laki. Sebab laki-laki tidak berasal dari perempuan, tetapi perempuan berasal dari laki-laki. Dan laki-laki tidak diciptakan karena perempuan, tetapi perempuan diciptakan karena laki-laki. Sebab itu, perempuan harus memakai tanda wibawa di kepalanya oleh karena malaikat". (I Korintus 11:3-10).

St. Paul memberikan penalaran tentang wanita yang berjilbab atau berkerudung adalah bahwa jilbab memberikan tanda kekuasaan pada laki-laki, yang merupakan gambaran kebesaran Tuhan, atas wanita yang diciptakan dari dan untuk laki-laki. St. Tertulian di dalam risalahnya "On The Veiling Of Virgins" menulis: "Wanita muda hendaklah engkau mengenakan kerudung saat berada di jalan, demikian pula hendaknya engkau mengenakan di dalam gereja, mengenakannya saat berada di antara orang asing dan mengenakannya juga saat berada di antara saudara laki-lakimu."

Di antara hukum-hukum Canon pada Gereja Katolik dewasa ini, ada hukum yang memerintahkan wanita menutup kepalanya di dalam gereja (Clara M Henning, 1974, hal 272). Beberapa golongan Kristen, seperti Amish dan Mennoties contohnya, mereka hingga hari ini tetap mengenakan tutup kepala. Alasan mereka mengenakan tutup kepala, seperti yang dikemukakan pemimpin gerejanya adalah: "Penutup kepala adalah simbol dari kepatuhan wanita kepada laki-laki dan Tuhan," logika yang sama seperti yang ditulis oleh St. Paul dalam Perjanjian Baru (D. Kraybill, 1960, hal 56).

Dari semua bukti-bukti di atas, nyata bahwa Islam bukanlah agama yang mengada-adakan dan mewajibkan penutup kepala, tetapi Islam telah mendukung hukum tersebut. Al Qur'an memerintahkan kepada laki-laki dan perempuan yang beriman untuk menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya. Juga memerintahkan wanita beriman agar memanjangkan penutup kepalanya sampai menutupi leher dan dadanya.

"Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat..... Katakanlah kepada wanita yang beriman : "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak darinya. Dan hendaklah mereka menutup kain kerudung ke dadanya..." (An Nuur:30,31)

Di dalam Al Qur'an jelas tertulis bahwa kerudung sangat penting untuk menutup aurat. Mengapa aurat itu penting ? Hal itu dijelaskan dalam Al Qur'an surat Al Ahzab 59: "Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu." (Al Ahzab:59)

Pada intinya, kesederhanaan digambarkan untuk melindungi wanita dari gangguan atau mudahnya, kesederhanaan adalah perlindungan.

Jadi, tujuan utama dari jilbab atau kerudung di dalam Islam adalah perlindungan. Kerudung di dalam Islam tidak sama seperti di dalam tradisi Kristen dimana merupakan tanda bahwa martabat laki-laki berada di atas wanita dan merupakan simbolisasi tunduknya wanita terhadap laki-laki. Kerudung di dalam Islam juga bukan seperti di dalam tradisi Yahudi dimana kerudung merupakan tanda keagungan dan tanda pembeda sebagai wanita bangsawan yang menikah. Kerudung di dalam Islam hanya sebagai tanda kesederhanaan dengan tujuan melindungi wanita, tepatnya semua wanita. Pada falsafah Islam dikenali prinsip bahwa selalu lebih baik menjaga daripada menyesal kemudian.
Al Qur'an sangat memperhatikan wanita dengan menjaga tubuh mereka dan kehormatan mereka atas pernyataan laki-laki yang berani menuduh ketidaksucian seorang wanita, mereka akan mendapat balasan;
"Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah (mereka yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik." (QS. An Nuur 4)

Bandingkan sikap Al Qur'an yang sangat tegas, dengan hukuman yang sangat longgar bagi pemerkosa di dalam Injil:

"If a man find a damsel that is a virgin, which is not betrothed, and there was none to save her. Then the man that lay with her shall give unto the damsel's father fifty shekels of silver, and she shall be his wife; because he hath humbled her, he may not put her away all his days" (Deut. 22:28-29).

Terjemahannya:
"Jika seorang laki-laki menemui seorang gadis yang tidak dijanjikan untuk dinikahkan kemudian memperkosanya, dia harus membayar sebesar lima puluh shekels perak kepada ayah gadis itu. Laki-laki itu harus menikahi gadis tersebut karena perbuatannya dan dia tidak boleh menceraikannya selama hidupnya" (Ulangan. 22:28-29).

Patut ditanyakan, siapa yang sebenarnya dihukum dalam hal ini? Orang yang membayar denda karena telah memperkosa ataukah gadis yang dipaksa untuk menikah dengan laki-laki yang memperkosanya dan harus tinggal bersamanya sampai dia mati ? Pertanyaan lainnya: Mana yang lebih melindung seorang wanita sikap tegas Al Qur'an atau sikap kendor moral (lax) daripada Injil ?

Beberapa kalangan, terutama di belahan negara-negara Barat, mungkin cenderung untuk menertawakan bahwa kesederhanaan (modesty) berguna untuk perlindungan. Alasan mereka adalah perlindungan yang terbaik yaitu memperluaskan pendidikan, berperilaku yang sopan, dan pengendalian diri. Kami akan mengatakan: semua itu baik tapi tidak cukup.

Jika tindakan yang ada dipandang perlindungan yang sudah cukup, lalu mengapa wanita-wanita di Amerika Utara saat ini tidak berani berjalan sendirian di kegelapan atau bahkan cemas melewati tempat parkir yang sepi ?. Jika pendidikan adalah suatu penyelesaian lalu mengapa Universitas Queen yang terkenal pelayanan pendidikannya terpaksa harus mengantar pulang para mahasiswi di dalam kampus ?. Jika pengendalian diri adalah jawabannya, lalu mengapa kasus pelecehan sex di tempat kerja diberitakan di media masa nyaris setiap hari ?. Contohnya, yang tertuduh melakukan pelecehan sex dalam beberapa tahun terakhir: para perwira Angkatan Laut, Manager-manager,
Professor-professor, Senators, Pengadilan Tinggi (Supreme Court Justices), dan bahkan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton sendiri !

Saya tercengang saat saya membaca statistik yang ditulis dalam sebuah pamflet yang dikeluarkan oleh Dean of women's office di Universitas Queen berikut :

* Di Canada, setiap 6 menit ada seorang wanita yang mengalami pelanggaran sexual.

* 1 dari 3 wanita di Canada akan mengalami pelanggaran sexual pada suatu saat dalam kehidupannya.

* 1 dari 4 wanita berada dalam resiko diperkosa atau usaha pemerkosaan dalam kehidupannya.

* 1 dari 8 wanita akan mengalami pelanggaran sexual saat menjadi mahasiswi unitersitas.

* Sebuah penelitian menemukan bahwa 60% dari mahasiswa laki-laki mengatakan mereka akan berbuat pelanggaran seksual jika mereka yakin mereka tidak ditangkap.

Ada sesuatu yang secara fundamental amat sangat keliru di masyarakat kita ini [negara Barat, penerjemah] Suatu perubahan yang radikal sangat perlu dilakukan di dalam gaya hidup dan budaya kita ini. Budaya hidup sederhana (modesty) teramat sangat dibutuhkan.Sederhana dalam berpakaian, dalam bertutur kata, dan dalam sopan santun berhubungan antara pria dan wanita. Kalau perubahan tidak dilakukan, maka angka-angka statistik yang kelabu di atas akan makin suram dari hari ke hari hingga benar-benar semuanya terjerembab dalam kegelapan. Dan sialnya, penanggung beban masyarakat yang paling berat adalah para wanita.
Sesungguhnya kita semua menderita sebagaimana Khalil Gibran (sastrawan nasrani dari Libanon, penerjemah) pernah mengatakan: "...for the person who receives the blows is not like the one who counts them." (Khalil Gibran, 1960, hal 56). Oleh sebab itu, sebuah masyarakat seperti Perancis yang pernah mengusir seorang gadis dari sekolahnya lantaran si gadis menampilkan kesederhaan dengan mengenakan tudung, sesungguhnya hanyalah tindakan yang mencelakakan masyarakat itu sendiri.
Adalah sebuah ironi maha besar di dalam dunia yang kita tinggali saat ini. Secarik tudung penutup kepala mereka katakan sebagai simbol 'kesucian' saat dikenakan oleh seorang biarawati Katolik, padahal dalam ajaran Kristiani hal itu untuk menunjukkan kekuasaan pria. Namun apabila secarik tudung kepala tersebut dikenakan oleh seorang muslimah untuk keperluan melindungi diri, justru dituduh sebagai simbol penindasan pria atas wanita! []

Catatan Redaksi: Artikel berikut adalah salah satu bab dari buku kecil karangan Dr. Sherif Abdel Azeem, seorang professor di Queen University, Ontario, Canada. Judul bukunya (terbitan 1996) adalah Women in Islam versus Women in the Judaeo-Christian Tradition; The Myth and The Reality. Hak Cipta ada pada pengarang dimana beliau mengijinkan untuk penyalinan dan terjemahan sepanjang tidak mengurangi isinya.

Terjemahan
ke bahasa Indonesia dilakukan oleh Ria Amirul. Saat diterjemahkan, naskah asli bisa di-download dari situs http://www.stanford.edu/group/issu.

RISALAH UNTUK PARA PENCARI ILMU


Ayyuhal Ahibba' rahimakumullah.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Segala puji bagi Alloh, robb semesta alam. Sholawat dan salam semoga tercurahkan kepada nabi kita Muhammad, kepada keluarga dan shahabat-shahabat beliau, serta orang-orang yang mengikuti jejak dan sunnah-nya hingga hari kiamat.
Amma ba‘d…

Inilah risalah yang kutujukan kepada saudaraku, penuntut ilmu: Assalamualaikum wa rohmatulloh wa barokatuh…

Wahai penuntut ilmu, inilah kalimat-kalimat dan wasiyat-wasiyat, aku menulisnya sebagai peringatan dan nasehat untukmu, serta sebagai pembebasan tanggunganku nanti. Aku memohon kepada Alloh k semoga risalah ini sampai kepadamu ketika engkau dalam kondisi mendapatkan nikmat, kesejahteraan dan kesehatan paling sempurna.

Wahai penuntut ilmu, hati-hati, janganlah engkau mencari ilmu demi meraih jabatan atau tujuan duniawi. Sebab terdapat sebuah hadits shohih dari Nabi SAW, bahwa beliau bersabda,

تَعِسَ عَبْدُ الدِّيْنَارِ تَعِسَ عَبْدُ الدِّرْهَمِ تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيْصَةِ تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيْلَةِ تَعِسَ وَانْتَكَسَ وَإِذَا شِيْكَ فَلاَ انْتَقَشَ

“Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba pakaian, celakalah hamba busana, celaka dan amat buruklah ia, dan bila tertusuk duri tidak bisa tercabut lagi…dst hingga akhir hadits.”

Alloh ta'ala berfirman:

مَنْ كَانَ يُرِيْدُ اْلحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِيْنَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيْهاَ وَهُمْ فِيْهاَ لاَ يُبْخَسُوْنَ

“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, Kami penuhi baginya amal usaha mereka di dalamnya dan mereka tidak dirugikan sama sekali.” (QS. Hud: 15)

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab telah meletakkan sebuah bab dalam Kitab Tauhid beliau kaitannya dengan ayat ini: Bab Termasuk Syirik; Ketika Seseorang Beramal Karena Menginginkan Dunia.

Kemudian, Syaikh Abdurrohman bin Hasan menjelaskan bab ini buku Syarah Kitab Tauhidnya yang berjudul Qurrotu ‘Uyuni `l-Muwahhidin, beliau rohimahulloh berkata, “Contoh dari ini adalah imam-imam masjid, para pengajar, dan mujahidin, yang bekerja dalam rangka memperoleh imbalan dari jihad yang ia lakukan.”

Maka, berhati-hatilah dari ini, semoga Alloh memberi aku dan engkau anugerah berupa keikhlasan.

• Wahai pencari ilmu, ketika engkau mencari ilmu, niatkanlah itu untuk menghilangkan kebodohan dari dalam dirimu, sehingga engkau beribadah kepada Alloh atas dasar ilmu yang terang. Selanjutnya, niatkan untuk menghilangkan kebodohan dari umat ini, supaya nantinya engkau ajarkan kepada mereka agama Alloh ta'ala.

• Wahai penuntut ilmu, ketahuilah, menghafal Al-Quran memang berpahala dan merupakan satu keutamaan. Akan tetapi, mengamalkannya adalah kewajiban yang harus engkau laksanakan. Sesungguhnya kami melihat beberapa kaum di zaman sekarang, yang menganggap menghafal Al-Quran adalah kewajiban, sementara mengamalkannya adalah keutamaan. Maka, hindarilah sikap seperti ini. Sesungguhnya orang-orang seperti ini telah menihilkan banyak sekali nash-nash syar‘i.

Aku ingatkan engkau dengan perkataan seorang shahabat rodloyallohu 'anhu yang mengatakan: “Kami belajar 10 ayat dari Al-Quran, kami tidak melewatinya sebelum kami memahami dan mengamalkannya.”

Sungguh, beruntunglah para shahabat.
• Wahai penuntut ilmu: Hindarilah, sekali lagi hindarilah, hindari betul sikap taklid. Sebab taklid adalah penyakit yang mematikan. Berpeganglah kepada Al-Quran dan sunnah serta pemahaman salafus sholeh, meskipun manusia tidak menerimamu.

Imam Syafi‘i rohimahulloh berkata,

أَجْمَعَ اْلعُلَمَاءُ سَلَفاً وَخَلَفاً أَنَّ مَنِ اسْتَبَانَتْ لَهُ سُنَّةُ رَسُوْلِ اللهِ لاَ يَجُوْزُ أَنْ يَتْرُكَهَا لِقَوْلِ أَحَدٍ

“Para ulama, baik salaf maupun kholaf, sepakat bahwa siapa yang telah mengetahui dengan jelas sebuah sunnah Rosululloh n, maka ia tidak boleh meninggalkannya lantaran perkataan seseorang.”

• Wahai penuntut ilmu, hindarilah sifat mengkultuskan para tokoh atau mengagung-agungkan mereka. Hendaknya pengagungan terhadap Kitab Alloh dan sunnah Rosul-Nya lebih engkau dahulukan daripada orang lain, siapapun dia. Jangan terlalu terpaku dengan nama dan sebutan-sebutan.

• Wahai penuntut ilmu, jauhilah sifat ‘ujub terhadap diri sendiri dan ghurur (besar hati). Sebab itu adalah biang kebinasaan orang-orang sholeh.

• Wahai penuntut ilmu, ketahuilah, tugas paling penting dan kewajiban paling besar adalah tauhid. Maka konsentrasikanlah sebagian besar perhatianmu kepada urusan ini. Pelajari tauhid, baik secara ilmu, amal, dan dakwah. Sebab sebagian besar dakwah panutanmu –Nabi Muhammad shollallohu 'alaihi wa sallam— adalah untuk urusan tauhid.

• Wahai penuntut ilmu, bersikap jujurlah kepada saudara-saudaramu sesama pencari ilmu. Sesungguhnya aku telah menyaksikan ada beberapa orang penuntut ilmu yang sudah terbiasa berdusta dan terkenal suka menipu. Kami melihat mereka menghadapi suatu kaum dengan satu wajah, kemudian menghadapi kaum lain dengan wajah yang lain. Mereka mengatakan suatu perkataan kepadamu, lalu mengatakan kepada saudara-saudaramu yang lain dengan perkataan yang berbeda. Di sini ia mendukung, di sana ia mengingkari. Maka, hindarilah mereka, jangan bermajelis dengan mereka, sebab teman duduk itu akan berpengaruh terhadap dirimu.

• Wahai penuntut ilmu, sesungguhnya medan-medan jihad kehilangan orang sepertimu, kamp-kamp tadrib mencari-cari orang macam dirimu. Lantas, di manakah engkau? Kenapa tidak membela orang-orang tertindas?

• Wahai penuntut ilmu, sesungguhnya orang-orang di sekelilingmu melihatmu sebagai tauladan. Maka jangan sampai sikap dudukmu menjadi penghambat mereka untuk berangkat berjihad.

• Wahai penuntut ilmu, hati-hati, janganlah engkau mengemukakan berbagai alasan untuk tidak berjihad yang itu tidak diterima, di mana kalaulah alasan itu diajukan oleh shahabat Nabi Muhammad shollallohu 'alaihi wa sallam juga tidak diterima. Bersikap jujurlah engkau, sesungguhnya Alloh senantiasa mengawasimu dan mengetahui hal-hal yang tersembunyi.

• Wahai penuntut ilmu, di manakah engkau dari firman Alloh ta'ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا مَا لَكُمْ إِذَا قِيْلَ لَكُمُ انْفِرُوْا فيِ سَبِيْلِ اللهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلىَ اْلأَرْضِ أَرَضِِيْتُمْ بِاْلحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ اْلآخِرَةِ فَمَا مَتَاعُ اْلحَيَاةِ الدُّنْيَا فيِ اْلآخِرَةِ إِلاَّ قَلِيْلٌ إِلاَّ تَنْفِرُوْا يُعَذِّبْكُمْ عَذَاباً أَلِيْماً وَيَسْتَبْدِلْ قَوْماً غَيْرَكُمْ وَلاَ تَضُرُّوْهُ شَيْئاً وَاللهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

“Hai orang-orang yang beriman, mengapakah apabila dikatakan kepada kalian: Berangkatlah berperang di jalan Alloh, kalian malah merasa berat dan condong ke bumi? Apakah engkau lebih suka kehidupan dunia daripada akhirat? Tidaklah kehidupan dunia dibandingkan akhirat itu kecuali sedikit saja. Jika kalian tidak keluar berperang, Alloh akan mengazab kalian dengan azab yang pedih serta mengganti kalian dengan kaum yang lain, dan kalian sama sekali tidak bisa membahayakan mereka. Dan Alloh Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. At-Taubah: 38, 39)

Dan firman Alloh ta'ala:

انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالاً وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللهِ ذَالِكُمْ خَيْرُُ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Keluarlah berperang, baik dalam keadaan ringan ataupun berat, dan berjihadlah di jalan Alloh dengan harta dan nyawa kalian. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui.” (QS. At-Taubah: 41)

• Wahai penuntut ilmu, ketahuilah bahwa keberanian memiliki andil yang besar ketika itu adalah pada diri orang yang berilmu. Maka, jadilah orang yang berani menyatakan kebenaran apa adanya, jangan berkompromi dengan siapapun.

Ketahuilah –semoga Alloh ta'ala senantiasa menjagamu dari apa saja yang tidak menyenangkan—bahwa sekedar menyembunyikan kebenaran dan diam tidak menyampaikannya merupakan perbuatan yang pelakunya mendapat ancaman di sisi Alloh. Bahkan ia divonis mendapatkan laknat, La Haula wa La quwwata illaa bil-Lah. Lantas, bagaimanakah dengan orang yang mengucapkan kebatilan?

Dan aku ingatkan engkau dengan firman Alloh ta'ala:

وَإِذْ أَخَذَ اللهُ مِيْثاَقَ الَّذِيْنَ أُوْتُوْا الْكتِاَبَ لَتُبيِنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلاَ تَكْتُمُوْنَهُ فَنَبَذُوْهُ وَرَاءَ ظُهُوْرِهِمْ وَاشْتَرَوْا بِهِ ثَمَناً قَلِيْلاً فَبِئْسَ مَا يَشْتَرُوْنَ

“Dan ingatlah ketika Alloh mengambil janji dari orang-orang yang diberi kitab: Hendaklah kalian menyampaikannya kepada manusia dan jangan menyembunyikannya. Lantas mereka membuang janji tersebut dan menukarnya dengan harga yang sedikit. Sungguh, teramat buruklah apa yang mereka beli itu.” (QS. Ali Imron: 187)

Kami telah menyaksikan sendiri, orang-orang yang Alloh anugerahi ilmu dan hafalan, dan terkenal di kalangan manusia, tetapi mereka terjangkiti sifat pengecut, lemah nyali, dan penakut. Lantas, apa gunanya ilmu jika tidak diamalkan, padahal banyak sekali orang telah tersesat? Sungguh benarlah apa yang disabdakan Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam:

أَخْوَفُ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ اَلأَئِمَّةُ اْلمُضِلِّيْنَ

“Sesuatu yang paling kukhawatirkan menimpa kalian adalah, imam-imam yang menyesatkan.”

• Wahai penuntut ilmu, janganlah engkau masuk ke tempat para penguasa. Sebab terdapat hadits shohih dari Nabi kita n, bahwa beliau bersabda,

مَنْ دَخَلَ عَلَى السُّلْطَانِ فَقَدِ افْتُتِنَ

“Barangsiapa masuk ke penguasa, maka ia telah tertimpa fitnah.”

Menurutmu, wahai penuntut ilmu, bagaimana kalau penguasa itu adalah thoghut yang bengis dan mengendalikan manusia dengan kekuatan, menjauhi syariat Alloh, dan membantu orang-orang Kristen dalam memerangi kaum muslimin di mana-mana? Mereka juga menjadikan undang-undang buatan manusia sebagai hukum yang berlaku pada leher-leher manusia serta menghapuskan hukum hudud… dan masih banyak lagi perbuatan murtad dan zindiq lain yang mereka lakukan.

Maka, waspadailah mereka. Waspadailah orang yang duduk dengan mereka, baik dari kalangan ulama dan para pejabat-pejabat penguasa, yang telah menajisi ilmunya dengan duduk bersama musuh-musuh Alloh. Bahkan ikut serta dengan mereka dalam mengkaburkan berbagai fakta, menyesatkan rakyat dan menghias-hias kebatilan.

• Wahai penuntut ilmu, jangan jadi orang-orang yang memperhatikan urusan para pemuda dalam halaqoh-halaqoh, acara-acara liburan, mukhoyyam (camping), atau dauroh-dauroh, tetapi kemudian meracuni pemikiran mereka sehingga mereka tidak mau pergi berjihad di jalan Alloh, atau mengakibatkan mereka tidak mau mengatakan kebenaran lantaran suatu alasan atau alasan lain, atau mengakibatkan mereka tidak menyebut orang dzalim: “Hai Dzalim,” atau orang kafir: “Hai kafir.”

Aku nasehati engkau, jika engkau termasuk ketua sekelompok pemuda, kobarkanlah semangat mereka untuk berperang. Baik di sini atau di mana saja. Terangkanlah Islam apa adanya, lalu jelaskan mengapa bisa begitu. Kalau engkau tidak mampu seperti ini, berikan kesempatan orang lain untuk menempati posisimu dan jangan menjadi orang-orang mukhodzil (pelemah semangat) tanpa engkau sadari.

Demi Alloh, engkau mati dengan mempertanggung jawabkan dirimu sendiri, itu lebih baik daripada engkau mati tetapi akan dimintai pertanggung jawaban tentang para pemuda Islam di hadapan Alloh kelak. Baik karena mengkaburkan kebenaran kepada mereka, atau menghalangi mereka dari berjihad. Wa la haula wa la quwwata illa billah.

Aku ingatkan engkau dengan sikap dari suri tauladanmu, Nabi Muhammad n, ketika beliau bertawaf di Ka‘bah sendirian, ketika beliau masih dalam kondisi lemah, ketika kaum musyrikin mengejek dan mengolok-olok beliau, beliau mengatakan:

ياَ مَعْشَرَ قُرَيْشٍ لَقَدْ جِئْتُكُمْ بِالذَّبْحِ

“Wahai orang-orang Quraisy, sungguh aku datang kepada kalian dengan sembelih,”

Kisah ini ada dalam Musnad Imam Ahmad.
• Wahai penuntut ilmu, secara ringkas saya tegaskan kepadamu: Jika engkau benar-benar meneladani Nabimu, Muhammad n, dalam setiap hal, engkau terus terang di dalam melakukan dan menerangkannya, maka pasti engkau akan diuji dengan bala’. Bala’ itu turun sesuai dengan kadar keimanan sebagaimana hal itu diberitakan oleh Rosululloh n. Alloh l berfirman,

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوْا أَنْ يَقُوْلُوْا آمَنَّا وَهُمْ لاَ يُفْتَنُوْنَ

“Apakah manusia mengira akan dibiarkan begitu saja mengatakan: Kami beriman, sementara mereka tidak diuji.” (QS. Al-Ankabut: 2)

Ketahuilah, suatu saat nanti engkau akan dijauhi oleh para penuntut ilmu yang lain, oleh para ulama dan tokoh-tokoh penguasa. Engkau akan dikucilkan, dicaci dan dicela. Engkau akan dikatakan sebagai Khowarij, dan kata-kata semisal yang hari ini dituduhkan kepada para dai tauhid yang tertindas. Kalau engkau mengalaminya, bersabarlah. Sesungguhnya dalam kesusahan ada kemudahan, sesungguhnya dalam kesusahan ada kemudahan.

Wahai penuntut ilmu, waspadailah dai-dai yang hidup sejalan bersama orang-orang kafir. Waspadailah mereka-mereka yang jadi mukhodzil (pelemah semangat) dan kalah di hadapan musuh-musuh Alloh. Hati-hatilah dengan mereka. Jangan terpedaya dengan kata-kata manis bercampur racun mematikan yang mereka lontarkan, jangan terpedaya dengan materi-materi pelajaran yang mereka sampaikan, jangan terpedaya dengan orang-orang yang hadir dalam majelis mereka. Hati-hatilah terhadap mereka, sebab minimla kita harus sikapi mereka sebagaimana kita bersikap terhadap ahli bid‘ah. Para salafus sholeh kita telah mengingatkan kita agar menjauhi ahli bid‘ah. Sebagai contoh, bacalah kitab Al-Bida‘ tulisan Ibnu Widhoh.

• Wahai penuntut ilmu, camkan selalu pandanganmu kepada kitab robb kita dan terhadap sunnah Nabi kita n, renungkanlah dengan baik. Sebab dalam keduanya terdapat banyak kebaikan.

• Wahai penuntut ilmu, berusahalah sebisa mungkin untuk mendialogkan berbagai permasalahan dengan ikhwan-ikhwanmu yang lain. Sebab sesungguhnya kemantaban dalam menguasai berbagai persoalan adalah dengan berdialog.

• Wahai penuntut ilmu, tetapkanlah waktu yang engkau khususkan untuk menyendiri dengan robbmu, yang di sana engkau membaca kalam-Nya, bermunajat dan berdoa kepada-Nya. Karena doa termasuk ibadah terbesar, sebagaimana terdapat dalam sebuah riwayat shohih dari Rosululloh ,

اَلدُّعَاءُ هُوَ اْلعِبَادَةُ

“Doa adalah ibadah itu sendiri.”

• Wahai penuntut ilmu, berhati-hatilah dengan ulama suu’ (ulama jahat), jangan bermajelis atau berhalaqoh bersama mereka. Karena mereka adalah orang-orang jahat dan sesat. Mereka mengkaburkan agama Islam di hadapan kaum muslimin, menyesatkan rakyat, dan ikut serta bersama para penguasa dalam menjual tanah dan tempat suci kaum muslimin.

Lihatlah Al-Quds (Masjid Al-Aqsa), sejak 50 tahun lebih berada dalam cengkraman yahudi, apakah yang telah diperbuat para ulama penguasa tersebut?

Lihat Hai’atu Kibaril Ulama atau Al-Lajnah Ad-Daimah, siapakah yang memprakarsainya, siapa yang memilih dan mengangkat anggotanya? Mereka adalah para penguasa yang khianat.

• Wahai penuntut ilmu, para ulama yang banyak dijadikan rujukan oleh para pemuda itu, ada yang mengatakan bahwasanya tidak ada permusuhan antara kaum muslimin dengan umat lain. Ada juga yang pindah ke negeri orang-orang nashrani untuk mempersatukan anggota parlemen dan di sana disambut oleh wanita-wanita pelacur Eropa, seolah tak terjadi apa-apa.

Ada yang bersumpah atas nama Alloh, bahwa siapa yang terbunuh di Afghanistan, tapi ia ke sana tanpa seizin penguasa –padahal penguasanya membolehkan beredarnya khomer sekalipun—, maka ia bukan syahid. Pemimpin dan pembesar mereka bahkan mengatakan, Amerika adalah orang-orang yang tak berdosa. Yang lain mengatakan, mendonor darah kepada orang-orang Amerika adalah boleh hukumnya. Dan yang lain, dan yang lain, dst.
Ulama lain, ada yang berlomba-lomba berpose bersama para thoghut setiap pekan.

Sungguh, kami telah datangi mereka dan rekan-rekan mereka yang juga ulama besar, kami nasehati mereka, kami ajak dialog dan kami berbincang-bincang dengan mereka. Akan tetapi, la haula wa la quwwata illa billah, tidak ada faedahnya.

Oleh karena itu, wahai penuntut ilmu, aku bertanya kepadamu atas nama Alloh, beginikah sebenarnya keadaan yang mesti dijalan ulama Islam, ataukah ini adalah kondisi para pembantu thoghut dan penjilat penguasa?
Terakhir kalinya, aku memohon kepada Alloh ta'ala agar menjadikan kalimat-kalimat ini tadi bermanfaat bagi pembacanya, serta menjadikannya diterima di bumi.
Aku juga memohon kepada Alloh ta'ala, agar menganugerahi dirimu ilmu yang terang dan kemampuan untuk mengamalkannya, semoga engkau diberkahi selalu di manapun engkau berada dan Alloh menjadikanmu termasuk orang yang mengatakan kebenaran.

Sebagai penutup, aku memohon agar Alloh memberiku kesyahidan, yang dengan itu Dia akan ridho dan tertawa kepada kita. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa, Mahapemurah dan Mahadermawan. Dan doa terakhir kami, Anil hamdulillahi robbil ‘Alamin, segala puji hanya milik Alloh robb seru sekalian alam.

Oleh : Abu Abdurrohman Al-Atsari.

--------------------------------------------
Sumber : Forum Islam At TawbahLihat Selengkapnya

Jumat, 01 Juli 2011

Tujuan Dan Keutamaan Membaca Al-Qur'an



Dalam kesempatan kali ini, saya akan menyampaikan apa yang disampaikan oleh Syaikh DR. Kholid bin Abdil karim dalam kitabnya mafatih tadabburil qur’an tentang 5 tujuan yang harus ada dalam diri kita ketika kita membaca Al Qur’an, % tujuan tersebut terangkum dalam kata Tsumma Sya’’a. Lalu adakah kelima tujuan tersebut dalam diri kita? Huruf apa saja yang terdapat dalam kata tersebut?

Tsa – Mim – Mim – Syin

1. Tsa adalah tsawaab yang artinya pahala. Hal ini wajar jadi tujuan kita karena Rasulullah saw telah bersabda:

عن ابن مسعود رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : “من قرأ حرفا من كتاب الله فله حسنة والحسنة بعشر أمثالها لا أقول الم حرف ولكن ألف حرف ولام حرف وميم حرف. رواه الترمذى

“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka ia akan mendapatkan satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipat. (Rasulullah bersabda) saya tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, Namun alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf” Tirmidzi, hasan shahih.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: الماهر بالقرآن مع السفرة الكرام البررة ، والذي يقرأ القرآن ويتتعتع فيه وهو عليه شاق له أجران. رواه البخارى

“Orang yang mahir membaca Al Qur’an maka ia akan bersama malaikat yang mulia lagi berbakti. Adapun orang yang membaca Al Qur’an dengan terbata-bata, lagi susuah payah maka ia mendapatkan dua pahala” Bukhari

الصيام والقرآن يشفعان للعبد يوم القيامة. رواه احمد وصححه احمد شاكر

“Shaum dan Al Qur’an akan memberikan syafaat lepada seorang hamba pada hari kiamat…”Ahmad. Dishahihkn oleh S.Ahmad Syakir.

2 & 3. Mim dan Mim adalah Munajat dan Masalah yaitu untuk bermunajat dan memohon kepada Allah Ta’ala, Rasulullah Saw bersabda:

الله أشد أُذُناً إلى الرجل الحسن الصوت بالقرآن يجهر به من صاحب القينة إلى قينته. رواه ابن ماجه

“Allah lebih menyimak bacaan Al Qur’an seseorang yang bagus dan keras suaranya daripada pecinta nyanyian yang mendengarkan nyanyiannya.” HR. Ibnu Majah. Ibnul Mubarok pernah bertanya lepada Sufran Ats Tsauri:

سألت سفيان الثوري قلت : الرجل إذا قام إلى الصلاة أي شيء ينوي بقراءته وصلاته ؟ قال : ينوي أنه يناجي ربه

Seseorang yang melaksanakan shalat, apa yang ia niatkan dengan bacaan dan shalatnya? Maka beliau menjawab: “Hendaknya ia berniat bahwa ia sedang bermunajat kepada Rabb-nya”. (Ta’dzimu Qadris shalat). Seorang muslim hendaknya selalu menghadirkan tujuan ini agar ia bisa merasakan kenikmatan dan kelezatan membaca Firman-firman Allah Ta’ala, yaitu dengan menghadirkan perasaan bahwa Allah senantiasa melihatnya, mendengar bacaannya, memujinya dan membanggakannya dihadapan malaikat-Nya yang terdekat. Ia merasa seakan-akan Allah sedang berdailog langsung dengannya.

وعن حذيفة رضي الله عنه قال : ” صليت مع النبي صلى الله عليه وسلم ذات ليلة فافتتح البقرة فقرأها ، ثم النساء فقرأها ، ثم آل عمران فقرأها ، يقرأ مترسلا ، إذا مر بآية فيها تسبيح سبح ، وإذا مر بسؤال سأل ، وإذا مر بتعوذ تعوذ.

Dari Hudzaifah ra ia berkata: “Pada suatu malam saya pernah shalat bersama Nabi saw maka beliau memulai surat al baqarah dan membacanya hingga selesai, kemudian surat an nisa dan membacanya hingga selesai. Lalu surat ali imran dan membacanya hingga selesai. Beliau membacanya dengan perlahan-lahan. Apabila beliau melewati ayat yang mengandung tasbih beliaupun bertasbih. Dan apabila melewati ayat ayat yang mengandung permohonan maka beliaupun berdoa. Dan apabila beliau melewat ayat yang mengandung perlindungan maka beliaupun meminta perlindungan.”

4. Syin: Syifaau, yaitu ketika kita membaca Al Qur’an hendaknya kita bertujuan untuk berobat dengannya, Hal ini karena Allah Ta’ala telah berfirman yang artinya:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاء لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

“Hai manusia, sesungguhnya talah datang kepadamu pelajaran dari Rabb-mu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) didalam dada dan petunjuk serta Ramat bagi orang-orang yang beriman” Yunus:57.

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاء وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ وَلاَ يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إَلاَّ خَسَارًا

“Dan Kami turunkan dari Al Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan Ramat bagi orang-orang beriman. Dan Al Qur’an itu tidaklah menambah bagi orang-orang yang dzalim selain kerugian” Al Israa : 82.

قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاء

“Katakanlah: ‘Al Qur’an itu adalah petunjuk dan obat penawar bagi orang-orang yang beriman” Fushshilat : 44

Al Qur’an adalah obat bagi hati dari berbagai penyakit, baik penyakit syahwat maupun syubhat, dan bahkan Al Qur’an dengan idzin Allah bisa mengobati penyakit-penyakit yang lainnya. Dalam Silsilah al ahadits ash shahihah disebutkan sebuah hadits dari Rasulullah saw:

خير الدواء القرآن

“Sebaik-baik obat adalah Al Qur’an”

وعن عائشة رضي الله عنها أن رسول الله صلى الله عليه وسلم دخل عليها وامرأة تعالجها ، أو ترقيها ، فقال : عالجيها بكتاب الله

Dari Aisyah ra bahwa Rasulullah saw pernah menemuinya saat ia sedang diobati atau diruqyah oleh seorang perempuan. Maka beliau bersabda Obatilah ia dengan Al Qur’an.

Penyembuhan dengan Al Qur’an dapat diperoleh melalui dua hal. Pertama: membacanya ketika shalat, terutama diwaktu malam yang akhir dengan menghadirkan niat berobat. Kedua: Ruqyah dengan menggunakan Al Qur’an. Ludah yang keluar daari bacaan ayat-ayat al Qur’an memiliki pengaruh yang besar bagi kekuatan dan kebugaran, kesehatan dan kesembuhan yang tidak dapat dicapai oleh raciman daun-daunan apapun atau ramuan apotek manapun.

Wallhu A’lam bis-Shawab.

Sumber: Syaikh Dr. Kholid bin Abdil Karim (kitab mafatih tadabburil qur’an)

HIDUP DALAM NAUNGAN AL QUR’AN


HIDUP DALAM NAUNGAN AL QUR’AN

“Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih Lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar” (QS Al Israa 9)

Hidup dalam naungan Al-Qur’an berarti selalu berinteraksi dengan Al-Qur’an baik secara tilawah (membaca), tadabbur (memahami), hifzh (menghafalkan), tanfiidzh (mengamalkan), ta’liim (mengajarkan) dan tahkiim (menjadikannya sebagai pedoman dan rujukan hukum). Rasulullah saw . bersabda: “ Sebaik-baiknya kamu orang yang mempelajari Al-Qur’an dan yang mengajarkannya”

Orang yang mempelajari Al-Qur’an adalah orang yang masuk pada tahapan awal dari interaksi terhadap Al-Qur’an dan orang yang mengajarkan Al-Qur’an adalah orang yang sudah sampai tahapan akhir dari interaksi terhadap Al-Qur’an, Namun secara umum orang-orang yang berjiwa Robbani adalah orang yang senantiasa mengajarkan Al-Qur’an dan pada saat yang sama orang belajar Al-Qur’an dan semuanya masuk orang yang terbaik dari umat Islam.

At-Tilawah (Membaca Al-Qur’an) “Orang-orang yang Telah kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya[84], mereka itu beriman kepadanya. dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, Maka mereka Itulah orang-orang yang rugi” (QS Al-Baqarah 121).

Salah satu interaksi terhadap Al-Qur’an yang harus diperbanyak adalah tilawah Al-Qur’an. Salafu sholih sangat serius dalam masalah tilawah. Utsman bin ‘Affan mengkhatamkan setiap hari Al-Qur’an di bulan Ramadhan. Abdullah bin Amru bin Al-Ash ketika diperintahkan membaca Al-Qur’an sebulan khatam, beliau masih menawar bahwa dirinya masih mampu untuk lebih cepat dari itu. Setelah terjadi tawar-menawar, maka Rasulullah saw. membolehkan membaca Al-Qur’an setiap tiga hari khatam. Sementara imam As-Syafi’i mengkahtamkan 60 kali dalam bulan Ramadhan diluar waktu sholat. Sebagian ada yang setiap pekan khatam dan ada yang sepuluh hari khatam. Demikianlah tilawah Shalafu sholih.

Orang-orang beriman menjadikan Al-Qur’an sebagai buku bacaan hariannya dan tidak pernah bosan dan kenyang dengan Al-Qur’an. Sebagaimana diungkapkan oleh Utsman bin ‘Affan ra,”Kalau hati kita bersih, maka kita tidak akan pernah kenyang dengan Al-Qur’an”. Karena dengan senantiasa membaca Al-Qur’an, akan mendapatkan banyak kebaikan. Rasulullah saw. bersabda,” Al-Qur’an ini adalah hidangan Allah, maka terimalah hidangan itu sekuat kemampuan kalian. Al-Qur’an ini adalah tali Allah, cahaya yang terang, obat yang bermanfaat, terpeliharalah orang yang berpegang teguh dengannya, keselamatan bagi yang mengikutinya. Jika akan menyimpang, maka diluruskan, tidak terputus keajaibannya, tidak lapuk karena banyak diulang. Bacalah karena Allah akan memberikan pahala bacaan kalian setiap huruf sepuluh kebaikan. Saya tidak mengatakan alif lam mim satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf”. (HR Al-Hakim)

At-Tadabbur (Memahami Al-Qur’an) Allah Ta’ala berfirman,” Ini adalah sebuah Kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran” (QS Shaad 29).

Tadabbur Al-Qur’an adalah meneliti lafazh Al-Qur’an untuk sampai pada makna Al-Qur’an. Intinya bahwa tadabbur yaitu memahami Al-Qur’an, mendalami, memikirkan dan memperhatikan agar dapat diamalkan. Inilah tujuan inti dari diturunkan Al-Qur’an, yaitu untuk difahami isinya kemudian diamalkan. Sebab jika orang membaca sesuatu dan tidak memahami maknanya maka tujuan inti dari apa yang dibaca tidak sampai. Orang yang berilmu dan memiliki peradaban adalah orang yang memahami apa yang dibaca. Berkata Ibnu Taimiyah,” Tradisi yang terjadi adalah menolak, jika suatu kaum membaca kitab pada disiplin ilmu tertentu, seperti kedokteran atau matematika kemudian tidak memahaminya. Bagaimana dengan kalam Allah Ta’ala yang merupakan kunci penjagaan, keselamatan, kebahagiaan dan pedoman pada agama dan dunia mereka ?”

Al-Qur’an adalah mu’jizat Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw. dan manusia dapat menikmati mu’jizat tersebut. Seluruh isinya berupa kebenaran, kebaikan, keindahan, ilmu pengetahuan dan mengantarkan manusia pada kebahagiaan. Orang yang hidup dalam naungan Al-Qur’an mereka akan mendapatkan keberkahan. Keberkahan umur, keberkahan harta dan keberkahan sarana lainnya. Sebaliknya manusia yang berpaling dari Al-Qur’an, mereka akan mendapatkan kehidupan yang paling sempit, sengsara dan menderita di dunia dan akhirat. “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku (Al-Qur’an), Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, Mengapa Engkau menghimpunkan Aku dalam keadaan buta, padahal Aku dahulunya adalah seorang yang melihat?" Allah berfirman: "Demikianlah, Telah datang kepadamu ayat-ayat kami, Maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari Ini kamupun dilupakan" (QS Thahaa 124-126).

Sangat disayangkan jika mu’jizat terakhir yang membawa keselamatan dan kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat tidak dapat difahami dan dini’mati oleh mayoritas manusia. Tetapi inilah realitas yang terjadi, mayoritas manusia tidak beriman pada Al-Qur’an dan mayoritas umat muslim tidak mengetahui isinya.

Al-Hifzh wa al-Muhafazhah (Menghafal dan menjaga Al-Qur’an) “Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat kami kecuali orang-orang yang zalim” (QS Al-ankabuut 29).

Maksudnya, bahwa ayat-ayat Al Quran itu terpelihara dalam dada dengan dihapal oleh banyak kaum muslimin turun temurun dan dipahami oleh mereka, sehingga tidak ada seorangpun yang dapat mengubahnya. Dan inilah satu bentuk kemudahan yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya. Bahwa Al-Qur’an mudah dibaca, mudah difahami, mudah dihafalkan dan mudah diamalkan. Surat Al-Qomar menyebutkan empat kali, bahwa Allah telah berjanji untuk memudahkan al-Qur’an untuk dijadikan pelajaran. “Dan Sesungguhnya Telah kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS Al Qomar, 17,22,32, 40). Para ulama tafsir, diantaranya Al-Qurthubi, As-Suyuti dan lainnya, bahwa Allah telah memudah Al-Qur’an untuk dihafalkan.

Banyak orang-orang beriman yang sudah putus asa dalam menghafalkan Al-Qur’an, seolah tidak mampu lagi menambah hafalannya, yang ada mahal berkurang. Apalagi jika umur sudah mulai menginjak 40 tahun. Problematika ini menunjukkan kelemahan iman dan semangat dalam menghafalkan Al-Qur’an. Bahkan ada seorang da’i yang mengatakan bahwa dalam Islam semuanya mudah kecuali menghafal Al-Qur’an. Kondisi seperti ini tentu sungguh sangat memperihatinkan. Padahal jika kita melihat keislaman para sahabat, mayoritas mereka masuk Islam sudah dewasa, sebagiannya sudah melewati usia 40 tahun, tetapi mereka masih terus bersemangat untuk menghafal Al-Qur’an.

Rasulullah saw. bersabda,” Sesungguhnya orang yang dalam dadanya tidak ada (hafalan ) dari al-Qur’an, maka seperti rumah rusak (kosong)” (HR Ahmad, at-Tirmidzi dan Al-Hakim). Rumah rusak atau kosong, berarti mudah dimasuki mahluk lain, seperti syetan atau jin yang senantiasa mengganggu manusia. Dan memang kita mendapati, bahwa orang yang suka diganggu syetan atau jin adalah orang yang hatinya kosong, yaitu kosong dari keimanan dan kosong dari Al-Qur’an.

Rasulullah saw. banyak memberikan keistimewaan bagi orang-orang yang hafal Al-Qur’an, diantaranya, “ Orang yang membaca Al-Qur’an dan dia mahir, bersama malaikat yang mulai dan baik” (Muttafaqun ‘alaihi). “Tidak boleh hasad kecuali pada dua, seorang yang diberikan Al-Qur’an dan diamalkan siang malam. Dan seorang yang diberi harta, dia menginfakkannya siang malam” (Muttafaqun ‘alaihi). “Ahlul Qur’an adalah ahli Allah dan yang diistimewakan-Nya” (HR Ahmad dan Ibnu Majah). “ Yang memimpin (imam) suatu kaum adalah yang paling menguasai Al-Qur’an” (HR Muslim). Pemimpin disini baik dalam shalat dan tentu saja diluar shalat. Karena Rasulullah saw. ketika memberi tugas pada para sahabat, yang diangkat jadi pemimpin adalah yang paling menguasai Al-Qur’an atau yang paling faqih terhadap agama.

At-Tanfidz wa al-‘Amal bihi (Mengamalkan Al-Qur’an) Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, Maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang Telah kamu kerjakan” (QS At-Taubah 105)

Langkah interaksi terhadap Al-Qur’an berikutnya adalah mengamalkannya. Mengamalkan Al-Qur’an berarti mengamalkan ajaran Islam atau beramal shalih. Imam Ali menjelaskan sifat-sifat orang yang bertaqwa, yaitu orang yang beramal sesuai dengan petunjuk Al Qur’an (al-‘amalu bit tanziil). Inilah interaksi yang harus dilakukan oleh setiap orang beriman, menjalankan yang diperintahkan dan meninggalkan yang diharamkan. Mengamalkan Al-Qur’an harus sampai pada tingkat bahwa Al-Qur’an menjadi kepribadian atau akhlaknya. Inilah yang terjadi pada diri Rasulullah saw., sebagaimana diceritakan ‘Aisyah,” Akhlak Rasul adalah Al-Qur’an” (HR Ahmad, Abu Dawud dan An-Nasa’i). Begitu juga para sahabat disebut dengan ‘Generasi Al-Qur’an yang unik’.

Diantara bentuk mengamalkan Al-Qur’an adalah mengikuti sunnah Rasul saw. Karena kita melihat banyak orang yang mengklaim mengikuti Al-Qur’an tetapi tidak mengikuti sunnah bahkan yang menafikan sunnah. ” Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya” (QS Al-Hasyr 7).

Sesuatu yang harus menjadi keprihatinan kita orang-orang beriman adalah bahwa banyak umat Islam yang meninggalkan Al-Qur’an. Hal ini juga yang menjadi keprihatinan Rasulullah saw. Bahkan keprihatinan ini diabadikan dalam Al-Qur’an,” Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan" (QS Al-Furqan 30). Meninggalkan Al-Qur’an ini disebabkan oleh banyak hal, salah satunya karena begitu gencarnya propaganda penyesatan yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam. Begitu juga upaya yang sistematis agar umat Islam jauh dari Al-Qur’an, “ Dan orang-orang yang kafir berkata: "Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Quran Ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka” (QS Al-Fhushilat 41).

Berbagai macam dakwah kebatilan digalakan, berbagai macam hiburan yang melalaikan disemarakkan sehingga banyak umat Islam yang meninggalkan Al-Qur’an. Meninggalkan dari membaca Al-Qur’an, meninggalkan dari memahami Al-Qur’an, meninggalkan dari menghafalkan Al-Qur’an, meninggalkan dari mengamalkan Al-Qur’an dan meninggalkan dari segala macam yang terkait dengan Al-Qur’an. TV mempunyai peran yang sangat besar dalam membuat umat Islam meninggalkan Al-Qur’an.

At-Ta’lim wa ad-Da’wah wa al-Jihad (Mengajarkan dan menda’wahkan Al-Qur’an ) “Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Quran dengan jihad yang besar” (QS Al-Furqaan 52).

Melihat fenomena bahwa umat meninggalkan Al-Qur’an, maka harus ada upaya simultan bagi para da’i, yaitu mengajarkan Al-Qur’an, menda’wahkan dan berjihad dengannya. Inilah bentuk interaksi terakhir orang-orang beriman dengan Al-Qur’an. Inilah sejatinya yang disebut dengan hidup dalam naungan Al-Qur’an. Ta’lim, da’wah dan jihad yang terus-menerus sampai Allah memberikan kemenangan atau mati syahid dijalan perjuangan ini. Inilah kehidupan yang telah dilalui oleh Rasulullah saw. bersama dengan keluarga dan para sahabatnya. Diteruskan oleh generasi salafu shalih berikutnya, perjuangan yang tidak kenal henti.

As-Syahid Sayyid Quttub menceritakan betapa indahnya hidup dalam naungan Al-Qur’an. Beliau berkata dalam muqaddimah Tafsirnya,” Hidup dalam naungan Al-Qur’an adalah ni’mat. Ni’mat yang hanya diketahui oleh siapa yang telah merasakannya. Ni’mat yang akan mengangkat umur, memberkahi dan menyucikannya”.
Oleh : iman santoso
Semoga bermanfaat. Amiin.
 

Sample text