Mutiara Hikmah

icon

icon

Jumat, 15 Maret 2013

RETORIKA DAKWAH



Makalah "Retorika Dakwah"
BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Bahwa setiap bentuk-bentuk komunikasi adalah sebuah drama. Karenanya seorang pembicara hendaknya mampu mendramatisir (membuat jama’ah merasa tertarik) terhadap pembicara, sedangkan menurut Walter Fisher bahwa setiap komunikasi adalah bentuk dari cerita (storytelling). Karenanya, jika seseorang mampu bercerita sesungguhnya maka ia punya potensi untuk berceramah dan untuk menjadi muballigh. Sebagaimana dalam berdakwah itu sendiri dibutuhkan retorika-retorika yang dapat membuat dakwah seseorang lebih mengena, efisien dan efektif. Terutama dalam menyosialisasikan ajaran-ajaran Islam. Maka retorika jitu harus bias dikuasai oleh seseorang yang hendak berdakwah. Dalam kaitan antara retorika dan dakwah, di sini pemakalah akan mencoba membahas mengenai keduanya.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apakah yang dimaksud dengan retorika dakwah?
2.      Apa urgensi retorika dalam dakwah?
3.      Apa kiat-kiat yang dapat membantu seseorang dalam berdakwah dengan menggunakan retorika?

C.     TUJUAN PEMBAHASAN
1.      Mengetahui dan memahami retorika dakwah.
2.      Mengetahui urgensi retorika dakwah.
3.      Mengetahui kiat-kiat yang dapat membantu seseorang dalam berdakwah dengan memakai retorika.


BAB II
PEMBAHASAN

Definisi Retorika

Retorika berasal dari bahasa Yunani “RHETOR” atau bahasa Inggris “ORATOR” yang berarti “kemahiran dalam berbicara dihadapan umum”. I Gusti Ngurah Oka, memberikan definisi sebagai berikut“Ilmu yang mengajarkan tindak dan usahayang untuk dalam persiapan, kerjasama, serta kedamaian ditengah masyarakat”. Dengan demikian termasuk dalam cakupan pengertian Retorika adalah: Seni berbicara-Kemahiran dan kelancaran berbicara-Kemampuan memproduksi gagasan-Kemampuan mensosialisasikan sehingga mampu mempengaruhi audience. Dari cakupan pengertian diatas, maka ada dua hal yang perlu ditarik dandiperhatikan, yaitu kemahiran atau seni dan ilmu. Retorika sebagai kemahiran atau seni sudah barang tentu mengandung unsur bakat (nativisme), kemudian retorika sebagai ilmuakan mengandung unsur pengalaman (empirisme), yang bias digali, dipelajari dan diinventarisasikan.Hanya sedikit perbedaan bagi mereka yang sudah mempunyai bakat akanberkembang lebih cepat, sedangkan bagi yang tidak mempunyai bakat akan berjalandengan lamban. Dari sini kemudian lahirlah suatu anggapan bahwa Retorika merupakan artistic science (ilmu pengetahuan yang mengandung seni), dan scientivicart (seni yang ilmiah). Sementara menurut yang lain, retorika (rhetoric) secara harfiyah artinya berpidato atau kepandaian berbicara Dan kini lebih dikenal dengan nama Public Speaking.  Dewasa ini retorika cenderung dipahami sebagai “omong kosong” atau “permainan kata-kata” (“words games”), juga bermakna propaganda (memengaruhi atau mengendalikan pemikiran-perilaku orang lain). Teknik propaganda “Words Games” terdiri dari Name Calling (pemberian julukan buruk, labelling theory), Glittering Generalities (kebalikan dari name calling, yakni penjulukan dengan label asosiatif bercitra baik), dan Eufemism (penghalusan kata untuk menghindari kesan buruk atau menyembunyikan fakta sesungguhnya). Menurut Kenneth Burke, bahwa setiap bentuk-bentuk komunikasi adalah sebuah drama. Karenanya seorang pembicara hendaknya mampu mendramatisir (membuat jama’ah merasa tertarik) terhadap pembicara, sedangkan menurut Walter Fisher bahwa setiap komunikasi adalah bentuk dari cerita (storytelling). Karenanya, jika kita mampu bercerita sesungguhnya kita punya potensi untuk berceramah dan untuk menjadi muballigh.

Gaya Bahasa Retorika
1.   Metafora (menerangkan sesuatu yang sebelumnya tidak dikenal dengan mengidentifikasikannya dengan sesuatu yang dapat disadari secara langsung, jelas dan dikenal, tamsil);
2.   Monopoli Semantik (penafsir tunggal yang memaksakan kehendak atas teks yang multi-interpretatif);
3.   Fantasy Themes (tema-tema yang dimunculkan oleh penggunaan kata/istilah bisa memukau khalayak);
4.   Labelling (penjulukan, audiens diarahkan untuk menyalahkan orang lain),
5.   Kreasi Citra (mencitrakan positif pada satu pihak, biasanya si subjek yang berbicara);
6.   Kata Topeng (kosakata untuk mengaburkan makna harfiahnya/realitas sesungguhnya);
7.   Kategorisasi (menyudutkan pihak lain atau skenario menghadapi musuh yang terlalu kuat, dengan memecah-belah kelompok lawan);
8.   Gobbledygook (menggunakan kata berbelit-belit,  abstrak dan tidak secara langsung menunjuk kepada tema, jawaban normatif);
9.  Apostrof (pengalihan amanat dengan menggunakan proses/kondisi/pihak lain yang tidak hadir sebagai kambing hitam yang bertanggung jawab kepada suatu masalah).

Retorika Dakwah
Adapun dakwah berasal dari bahasa Arab yang artinya ‘mengajak’ atau ‘menyeru’. Banyak sekali pengertian dakwah yang dikemukakan oleh para ahli dakwah, tapi pada prinsipnya dapat disimpulkan bahwa dakwah adalah aktivitas mengubah situasi dan kondisi yang tidak sesuai dengan Islam menjadi situasi dan kondisi yang sesuai dengan kehidupan Islam. Dengan demikian yang diinginkan oleh dakwah adalah terjadinya perubahan ke arah kehidupan yang lebih Islami. Dari definisi tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa retorika dakwah adalah ketrampilan menyampaikan ajaran Islam secara lisan guna memberikan pemahaman yang benar kepada kaum muslimin agar mereka dapat dengan mudah menerima seruan dakwah Islam yang karenanya pemahaman dan prilakunya dapat berubah menjadi lebih Islami. Atau retorika Dakwah dapat dimaknai pula sebagai pidato atau ceramah yang berisikan pesan dakwah, yakni ajakan ke jalan Tuhan (sabili rabbi) mengacu pada pengertian dakwah dalam QS. An-Nahl:125:
“Serulah oleh kalian (umat manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah, nasihat yang baik, dan berdebatlah dengan mereka secara baik-baik…”

Retorika (Dakwah) Islam
Retorika dakwah sendiri berarti berbicara soal ajaran Islam. Dalam hal ini, Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dalam bukunya, Retorika Islam (Khalifa, 2004), menyebutkan prinsip-prinsip retorika Islam sebagai berikut:

1. Dakwah Islam adalah kewajiban setiap Muslim.
2. Dakwah Rabbaniyah ke Jalan Allah.
3. Mengajak manusia dengan cara hikmah dan pelajaran yang baik.
4. Cara hikmah artinya berbicara kepada seseorang sesuai dengan bahasanya, ramah memperhatikan tingkatan pekerjaan dan kedudukan, serta gerakan bertahap.

Secara ideal, masih menurut Dr. Yusuf Al-Qaradhawi, karakteristik retorika Islam adalah sebagai berikut :.
1.  Menyeru kepada spiritual dan tidak meremehkan material.
2.  Memikat dengan Idealisme dan Mempedulikan Realita.
3.   Mengajak pada keseriusan dan konsistensi, dan tidak melupakan istirahat dan berhibur.
4.   Berorientasi futuristik dan tidak memungkiri masa lalu.
5.   Memudahkan dalam berfatwa dan menggembirakan dalam berdakwah.
6.   Menolak aksi teror yang terlarang dan mendukung jihad yang disyariatkan.

Pentingnya Retorika dalam Dakwah
Ceramah, pidato, atau khutbah merapakan salah satu bentuk kegiatan dakwah yang sangat sering dilakukan di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Bahkan khutbah pada hari Jumat adalah merupakan kegiatan wajib yang harus dijalankan saat melaksanakan sholat Jum’at. Agar ceramah atau khutbah dapat berlangsung dengan baik, memikat dan menyentuh akal dan hati para jamaah, maka pemahaman tentang retorika menjadi perkara yang penting. Dengan demikian, disamping penguasaan konsepsi Islam dan pengamalannya, keberhasilan dakwah juga sangat ditentukan oleh kemampuan komunikasi antara sang muballigh atau khatib dengan jama’ah yang menjadi obyek dakwah.. Menurut Syaikh Muhammad Abduh, ayat tersebut menunjukkan, dalam garis besarnya, umat yang dihadapi seorang da’i (objek dakwah) dapat dibagi atas tiga golongan, yang masing-masingnya dihadapi dengan cara yang berbeda-beda sesuai hadits: “Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar (takaran kemampuan) akal mereka”.
a.      Ada golongan cerdik-cendekiawan yang cinta kebenaran, berpikir kritis, dan cepat tanggap. Mereka ini harus dihadapi dengan hikmah, yakni dengan alasan-alasan, dalil dan hujjah yang dapat diterima oleh kekuatan akan mereka.
b.      Ada golongan awam, orang kebanyakan yang belum dapat berpikir kritis dan mendalam, belum dapat menangkap pengertian tinggi-tinggi. Mereka ini dipanggil dengan mau’idzatul hasanah, dengan ajaran dan didikan, yang baik-baik, dengan ajaran-ajaran yang mudah dipahami.
c.       Ada golongan yang tingkat kecerdasannya diantara kedua golongan tersebut. Mereka ini dipanggil dengan mujadalah billati hiya ahsan, yakni dengan bertukar pikiran, guna mendorong supaya berpikir secara sehat.

Berikut ini ada beberapa kiat agar ceramah yang pemakalah kutip dari beberapa sumber dengan menggunakan retorika berhasil:
1        Pahami dan kuasai pembahasan secara baik. Perlu setiap da’i menyiapkan kisi materi pembicaraan dan rujukan yang diperlukan agar ketika berbicara tidak kehilangan kontrol.
2        Amalkan ilmu yang disampaikan dan diajarkan. Beri contoh dari diri sendiri tentang apa yang hendak disampaikan, hal ini untuk menutup dzan (prasangka) orang lain bahwa kita “omong kosong”.
3        Pilih pembicaraan yang sesuai dengan keadaan dan kebutuhan, pandai melihat fenomena yang berkembang di tengah hadirin, juga latar belakang social cultural meraka. Hal ini agar lebih mendekati kebutuhan audiens dan membangkitkan spirit keagamaan mereka.
4        Sampaikan informasi segar sesuai dengan perkembangan yang berlangsung. Fenomena kekinian yang terjadi bisa menjadi informasi menarik bagi hadirin. karenanya perlu disampaikan sesuai kebutuhan dan bisa menjadi penambah materi yang disampaikan.
5        Gaya atau cara penyampaiannya hendaknya yang variatif, tekanan suara, turun naik nada, penggalan kalimat, hingga bunyi suara ( tenor, bariton, dsb), merupakan bagian dari retorika vang amat penting.
6        Diantara bagian-bagian retorika itu, sekali-kali perlu diselipkan humor untuk  lebih menekankan minat dan perhatian pendengar. Namun demikian, hindari jenis humor yang justru bertentangan dengan esensi dakwah. Janganlah humor yang “esek-esek”, walaupun memang humor jenis demikian sangat digemari orang banyak.
7        Dalam ceramah seringkali ada kalimat-kalimat yang amat penting untuk dipertegas kepada pendengar. Kalimat itu harus diberi penekanan dengan cara mengulang-ulang, karena dengan begitu jama’ah mendapat kejelasan yang memadai. Bahkan hal ini bisa dibantu dengan menggunakan gerakan tangan seperti menunjukkan atau memperlihatkan jumlah jari sebagai isyarat dari jumlah masalah yang menjadi pembahasan. Ini berarti diperlukan penggunaan bahasa badan untuk memperjelas, memudahkan pemahaman dan meningkatkan daya tarik ceramah agar lebih komunikatif.
8        Sertakan dalil dan argument yang kuat. Stateman atau pernyatan da’i, walaupun sudah menjadi hal umum yang dibenarkan agama, alangkah baiknya jika diberi penguat berupa dalil atau nash yang mendukung pernyataan itu. Argument juga penting untuk menekankan pernyataan sehingga audiens mencatatnya dalam hati dan benak mereka bahwa apa yang disampaikan itu benar adanya.
9        Disiplin dengan waktu yang telah disepakati. Sebaik-baik pembicaraan adalah yang pendek namun efektif, sedang seburuk-buruk pembicaraan adalah yang panjang bertele-tele tapi menyesatkan. Karena itu alangkah bijaknya da’i menepati waktu yang telah ditetapkan untuk berceramah baginya.
10    Dan yang tidak kalah pentingnya dari semua kiat di atas, adalah landasi dakwah kita ini semata-mata untuk mencari ridlo Allah SWT. Bukan karena mencari ketenaran, dipuji orang, atau hal-hal yang bersifat duniawi, namun semata-mata demi meninggikan kalimah Allah.



BAB III
KESIMPULAN
Tujuan Retorika dalam kaiatannya dengan Ilmu Dakwah yang paling urgen adalah “mempengaruhi audiens”. Ini karena dalam berdakwah itu sendiri dibutuhkan tekhnik-tekhnik yang mampu memberikan pengaruh efektif kepada khalayak masyarakat sebagai objek dakwah (al-mad’uu). Yang diantaranya dengan menggunakan retorika-retorika ampuh dan jitu untuk mempengaruhi orang lain agar mengiyakan apa yang dikatakannya dan mengikuti apa yang diserunya. Sebagaimana dakwah adalah sarana komunikasi menghubungkan, memberikan dan menyerahkan segala gagasan, cita cita dan rencana kepada orang lain dengan motif  menyebarkan kebenaran sejati. Uraian singkat diatas kiranya telah cukup untuk dijadikan bahan pegangan dan pelajaran dalam rangka memahami Retorika dihadapan umum, segaligus dapat disimpulkan bahwa :
a.  Kemahiran berbicara dihadapan umum dapat dipelajari sebagaimana ilmu pengetahuan asalkan disertai dengan latihan-latihan, walaupun unsur nativisme (bakat) ikut menunjang.
b. Semua pedoman diatas pada akhirnya kembali kepada para penutur itu sendiri untuk diolah, divariasikan denganberbagai cara sesuai dengan pengalaman-pengalamanyang diperolehnya.
c.  Kunci suksesnya terpantul kembali pada pribadi pembicara. Apabila pembicara adalah orang  yang telah Mempunyai reputasi baik, pandangannya, loyalitas, integritas dan semangatnya serta sifat sifat lain yang terpercaya maka jaminan kesuksesan pembicara untuk mempengaruhi orang lain atau mereka yang diajak berbicara. Sukses dalam mempengaruhi dengan jalan pendekatan persuasi agar yang diajak bicara, tertarik, faham kemudian  tergerak pada tindakan yang dikehendaki.
Semoga bermanfaat.

REFERENSI
v  http://www.scribd.com/doc/51773935/RETORIKA-DAKWAH
v  Dwi, Condro Triono, Ilmu retorika untuk mengguncang dunia, Irtikaz, Yogyakarta, 2009
v  http://ayok.wordpress.com/2006/12/20/retorika-dalam-berdakwah/
v  http://hadi-kelvin.blogspot.com/2008/10/retorika-dakwah_21.html?zx=c72bac36e70d87c2
v  http://bhasafm.com/2011/04/tehnik-dan-seni-berbicara-didepan-umum/
Oleh: http://justwanttomakemylifecount.blogspot.com/2012/02/makalah-retorika-dakwah.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Sample text