Mutiara Hikmah

icon

icon

Minggu, 08 Desember 2013

TARTIBUL ADILLAH

Ushul Fiqh
Tartibul Adillah




Tartibul Adillah[1]
Pembicaraan tentang ini akan dibahas selanjutnya:
1.      Yang dimaksud tartibul adillah yaitu: menjadikan seluruh dalil pada beberapa tingkatannya yang tepat, menurut suatu pendangan dengan beberapa pandangan lainnya.
2.      Adillah Syar’iyyah terbagi menjadi: sepakat terhadapnya dan perselisihan atasnya, qath’iyyah dan dhanniyyah, dan naqliyyah dan aqliyyah.
Dan dari kebaikan pengertian tentang ini adalah:
a)       Bahwasanya dalil yang telah disepakati adalah ada 4(empat), yaitu:
 1) Al Kitab
2) As Sunnah
3) Al Ijma’, dan
4) Qiyas.
b)       Bahwasanya dalil yang masih diperselisihkan adalah dikembalikan kepada dalil yang telah disepakati dari pandangan asalnya dan dalil tetapnya. Dengan sebab itu bisa diketahui.
c)       Bahwasanya dalil syar’iyyah, yaitu yang telah disepakati dan yang masih diperselisihkan adalah dikebalikan kepada dalil 4(empat) yang telah disepakati.
d)      Bahwasanya dalil yang 4(empat) adalah dikembalikan kepada al kitab dan as sunnah, dan semuanya dikembalikan kepada al kitab.
e)      Bahwasanya dalil yang 4(empat) telah disepakati dan tidak ada yang memperselisihkan, selalu dan tidak terpisah, semuanya adalah haq, dan yang haq tidak akan bertentangan tetapi membenarkan sebagian atas sebagian lainnya.
  1. Adillah Syar’iyyah dipandang dari wajibnya pengamalannya pada satu derajat atau tingkatan,  jika seluruhnya mewajibkan untuk mengikutinya dan berhujjah dengannnya.

Jumat, 29 November 2013

DAKWAH KEPADA KELUARGA



PRIORITAS DAKWAH KELUARGA SEBELUM MASYARAKAT UMUM
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasalllam memulai dakwah sirriyah (dakwah secara sembunyi), terutama kepada keluarga Nabi Muhammad SAW sendiri. ”Dan berilah peringatan kepada keluargamu terdekat.” – QS Asy-Syu’ara (26): 214.
Keluarga adalah yag paling berhak untuk di dakwahi dikarenakan mereka hidup di tengah-tengah kita dan yang paling tahu keadaan kita, dan juga berdasarkan dari ayat diatas Rasulullah tauladan kita juga diperintahkan dengan hal tersebut.
Wahyu pertama yang diterima Nabi di Gua Hira kemudian disusul dengan wahyu kedua, yang berbunyi, ”Hai orang yang berselimut, bangunlah dan berilah peringatan!” – QS Al-Mudatsir (74): 1-2. Dengan turunnya wahyu tersebut, maka mulailah dilakukan dakwah sirriyah (dakwah secara sembunyi), terutama kepada keluarganya sendiri. ”Dan berilah peringatan kepada keluargamu terdekat.” – QS Asy-Syu’ara (26): 214.
Menurut M. Yunan Yusuf dalam makalah berjudul Strategi Dakwah Rasulullah, Dari Kerabat Menuju Kesatuan Umat, dalam buku Kajian Tematik Al-Quran tentang Fiqih Ibadah, keluarga terdekat Rasulullah bila ditelurusi dari silsilah berawal dari Qushai. Qushai mempunyai tiga orang anak, masing-masing bernama Abdul Uzza, Abdul Manaf, dan Abdul Darr. Dari ketiga anak ini, silsilah Rasulullah berkaitan dengan Abdul Manaf, yang mempunyai empat anak. Yaitu Muthalib, Hasyim, Naufal, dan Abd Syams. Hasyim mempunyai seorang anak bernama Abdul Muthalib. Selanjutnya, Abdul Muthalib mempunyi sepuluh anak, tetapi yang disebut namanya hanya enam orang, yaitu Abdullah, Abbas, Abu Lahab, Abu Thalib, Haris, Hamzah. Abdullah adalah ayah Rasulullah.

Kamis, 28 November 2013

LELAH DALAM DAKWAH

 
 

          Terkadang kita merasa lelah dan putus asa ketika cobaan selalu mendera seakan tiada habisnya, ingatlah kawan semua itu adalah ujian untuk menentukan siapa yang terbaik diantara hamba-Nya. The True Fighting for Me and You All. La Tahzan Innallaha Ma'anaa. ( Q.S. At Taubah : 40 )


By:
Ca' Hur

Sabtu, 31 Agustus 2013

BIOGRAFI IMAM MUSLIM



IMAM MUSLIM

Penghimpun dan penyusun hadits terbaik kedua setelah Imam Bukhari adalah Imam Muslim. Nama lengkapnya ialah Imam Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim bin Kausyaz al-Qusyairi an-Naisaburi. Ia juga mengarang kitab As-Shahih (terkenal dengan Shahih Muslim). Ia salah seorang ulama terkemuka yang namanya tetap dikenal hingga kini. Ia dilahirkan di Naisabur pada tahun 206 H. menurut pendapat yang shahih sebagaimana dikemukakan oleh al-Hakim Abu Abdullah dalam kitabnya ‘Ulama’ul-Amsar.

Kehidupam Dan Perjalanannya Mencari Ilmu
Ia belajar hadits sejak masih dalam usia dini, yaitu mulaii tahun 218 H. Ia pergi ke Hijaz, Iraq, Syam, Mesir dan negara-negara lainnya.
Dalam lawatannya Imam Muslim banyak mengunjungi ulama-ulama kenamaan untuk berguru hadits kepada mereka. Di Khurasan, ia berguru kepada Yahya bin Yahya dan Ishak bin Rahawaih; di Ray ia berguru kepada Muhammad bin Mahran dan Abu ‘Ansan. Di Irak ia belajar hadits kepada Ahmad bin Hambal dan Abdullah bin Maslamah; di Hijaz belajar kepada Sa’id bin Mansur dan Abu Mas’Abuzar; di Mesir berguru kepada ‘Amr bin Sawad dan Harmalah bin Yahya, dan kepada ulama ahli hadits yang lain.
Muslim berkali-kali mengunjungi Baghdad untuk belajar kepada ulama-ulama ahli hadits, dan kunjungannya yang terakhir pada 259 H. di waktu Imam Bukhari datang ke Naisabur, Muslim sering datang kepadanya untuk berguru, sebab ia mengetahui jasa dan ilmunya. Dan ketika terjadi fitnah atau kesenjangan antara Bukhari dan Az-Zihli, ia bergabung kepada Bukhari, sehingga hal ini menjadi sebab terputusnya hubungan dengan Az-Zihli. Muslim dalam Shahihnya maupun dalam kitab lainnya, tidak memasukkan hadits-hadits yang diterima dari Az-Zihli padahal ia adalah gurunya. Hal serupa ia lakukan terhadap Bukhari. Ia tidak meriwayatkan hadits dalam Shahihnya, yang diterimanya dari Bukhari, padahal iapun sebagai gurunya. Nampaknya pada hemat Muslim, yang lebih baik adalah tidak memasukkan ke dalan Shahihnya hadits-hadits yang diterima dari kedua gurunya itu, dengan tetap mengakui mereka sebagai guru.

Senin, 22 Juli 2013

PELOPOR MAULUD NABI



Sejarah Munculnya Peringatan Maulud Nabi
Disebutkan para ahli sejarah bahwa kelompok yang pertama kali mengadakan maulid adalah kelompok Bathiniyah, mereka menamakan dirinya sebagai Bani Fatimiyah dan mengaku sebagai keturunan ahli bait (keturunan Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam). Disebutkan bahwa kelompok Batiniyah memiliki 6 peringatan maulid, yaitu maulid Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, maulid Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, maulid Fatimah, maulid Hasan, maulid Husain dan maulid penguasa mereka. Daulah Bathiniyah ini baru berkuasa pada awal abad ke-4 H. Oleh karena itu, para ulama sepakat bahwa maulid Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam baru muncul di zaman belakangan, setelah berakhirnya massa tiga abad yang paling utama dalam umat ini (al quruun al mufadholah). Artinya peringatan maulid ini belum pernah ada di zaman Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dan para sahabat, tabi’in dan para tabi’ tabi’in. Al Hafizh As Sakhawi mengatakan: “Peringatan maulid Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam belum pernah dinukil dari seorang pun ulama generasi terdahulu yang termasuk dalam tiga generasi utama dalam Islam. Namun peringatan ini terjadi setelah masa itu.”

Pada hakikatnya, tujuan utama daulah ini mengadakan peringatan maulid Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam adalah dalam rangka menyebarkan aqidah dan kesesatan mereka. Mereka mengambil simpati kaum muslimin dengan kedok cinta ahli bait Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam. (Dhahiratul Ihtifal bil Maulid An Nabawi, Abdul Karim Al Hamdan)

Rabu, 17 Juli 2013

BIOGRAFI IMAM BUKHARI






IMAM BUKHARI 

Tokoh Islam penghimpun dan penyusun hadits itu banyak, dan yang lebih terkenal di antaranya seperti yang disebut diatas. Adapun urutan pertama yang paling terkenal diantara enam tokoh tersebut di atas adalah Amirul-Mu’minin fil-Hadits (pemimpin orang mukmin dalam hadits), suatu gelar ahli hadits tertinggi. Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn al-Mughirah ibn Bardizbah. Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail, terkenal kemudian sebagai Imam Bukhari, lahir di Bukhara pada 13 Syawal 194 H (21 Juli 810 M), cucu seorang Persia bernama Bardizbah. Kakeknya, Bardizbah, adalah pemeluk Majusi, agama kaumnya. Kemudian putranya, al-Mughirah, memeluk Islam di bawah bimbingan al-Yaman al Ja’fi, gubernur Bukhara. Pada masa itu Wala dinisbahkan kepadanya. Kerana itulah ia dikatakan “al-Mughirah al-Jafi.”
Mengenai kakeknya, Ibrahim, tidak terdapat data yang menjelaskan. Sedangkan ayahnya, Ismail, seorang ulama besar ahli hadits. Ia belajar hadits dari Hammad ibn Zayd dan Imam Malik. Riwayat hidupnya telah dipaparkan oleh Ibn Hibban dalam kitab As-Siqat, begitu juga putranya, Imam Bukhari, membuat biografinya dalam at-Tarikh al-Kabir.
Ayah Bukhari disamping sebagai orang berilmu, ia juga sangat wara’ (menghindari yang subhat/meragukan dan haram) dan taqwa. Diceritakan, bahawa ketika menjelang wafatnya, ia berkata: “Dalam harta yang kumiliki tidak terdapat sedikitpun wang yang haram maupun yang subhat.” Dengan demikian, jelaslah bahawa Bukhari hidup dan terlahir dalam lingkungan keluarga yang berilmu, taat beragama dan wara’. Tidak hairan jika ia lahir dan mewarisi sifat-sifat mulia dari ayahnya itu.
Ia dilahirkan di Bukhara setelah salat Jum’at. Tak lama setelah bayi yang baru lahr itu membuka matanya, iapun kehilangan penglihatannya. Ayahnya sangat bersedih hati. Ibunya yang saleh menagis dan selalu berdo’a ke hadapan Tuhan, memohon agar bayinya bisa melihat. Kemudian dalam tidurnya perempuan itu bermimpi didatangi Nabi Ibrahim yang berkata:
“Wahai ibu, Allah telah menyembuhkan penyakit putramu dan kini ia sudah dapat melihat kembali, semua itu berkat do’amu yang tiada henti-hentinya.”
Ketika ia terbangun, penglihatan bayinya sudah normal. Ayahnya meninggal di waktu dia masih kecil dan meninggalkan banyak harta yang memungkinkan ia hidup dalam pertumbuhan dan perkembangan yang baik. Dia dirawat dan dididik oleh ibunya dengan tekun dan penuh perhatian.

RETORIKA DAKWAH (Persiapan)






Retorika Dakwah
(Persiapan)

*Semangat dalam menyampaikan materi
*Buat kesan pertama jama’ah terkesan

Retorika Dalam Praktek:

1.      Pentingnya Persiapan
 
Dalam menyampaikan materi didepan jama’ah sangat perlu diadakannya persiapan, dan menganggap bahwa audien adalah orang-orang yang alim. Setiap akan melakukan sesuatu kegiatan apapun perlu adanya persiapan, persiapan merupakan sesuatu yang amat penting. Dalam berceramah dan khutbah, persiapan menjadi lebih penting lagi bagi pemula atau siapa saja yang belum berpengalaman. Plato pernah mengatakan, ”jika seseorang berbicara didepan khalayak tanpa persiapan bagaikan telanjang didepan umum”.

Imam Jalaluddin Abdurrahman ibnu Abi bakar As suyuthi menyebutkan dalam kitabnya;

الفتح الكبير في ضم الزيادة إلى الجامع الصغير (3/ 23)
لِكُلِّ شَيْءٍ طَرِيقٌ وَطَرِيقُ الجَنَّةِ الْعِلْمُ عن ابن عمر

“setiap sesuatu itu ada caranya, dan cara menuju surga adalah ilmu”.(dari Ibnu Umar)
 

Sample text