Mutiara Hikmah

icon

icon
Tampilkan postingan dengan label DAKWAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DAKWAH. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Maret 2015

LEMAH-LEMBUT DALAM DAKWAH




Lemah-lembut Dalam Berda'wah
 
Hati manusia akan condong kepada orang yang bersikap lemah-lembut kepadanya. Oleh karena itulah, di antara kewajiban da’i atau mubaligh adalah memilih kalimat yang lembut dan tidak kasar, agar dakwah sampai kepada manusia. Jangan sampai manusia lari dari agama, padahal dakwah belum sampai kepada mereka.
Seorang da’i bertugas mengajak manusia kepada ketaatan, padahal kebanyakan hawa-nafsu manusia tidak menghendakinya; dia juga berkewajiban memperingatkan dari kemaksiatan, padahal kebanyakan hawa-nafsu manusia menyukainya. Maka jika seorang da’i berdakwah dengan kasar, merupakan perkara yang wajar banyak manusia akan menjauh dari dakwahnya.
Oleh karenanya, banyak bimbingan dari Allah dan RasulNya agar da’i bersikap lembut ketika berdakwah, sehingga dakwah akan sampai kepada mad’u (obyek dakwah) dengan baik.
Namun demikian, bukan berarti seorang da’i selalu bersikap lemah-lembut dalam segala keadaan. Bahkan pada keadaan-keadaan tertentu dia dituntut untuk bersikap tegas dan keras. Sikap lemah-lembut dan keras diletakkan pada tempatnya masing-masing, dan itulah hikmah yang perlu fahami dan dilakukan saat berdakwah.

DALIL LEMAH-LEMBUT DALAM DAKWAH
Banyak ayat dan hadits yang menunjukkan pentingnya sikap lembut dalam dakwah. Inilah diantaranya:
1-      Firman Allah Ta’ala kepada nabi Musa q dan nabi Harun q :
اذْهَبَآ إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى {43} فَقُولاَ لَهُ قَوْلاً لَّيِّنًا لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى
Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah malampaui batas;
maka berbicalah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut mudah-mudahan ia ingat atau takut". (QS. Thaha (20): 43-44)

Imam Al-Quthubi t menyatakan: “Jika (Nabi) Musa q (dan Harun q –pen) diperintahkan untuk mengatakan perkataan yang lemah-lembut kepada Fir’aun, maka orang yang (derajatnya) dibawahnya (Nabi Musa q ) lebih pantas meneladani hal itu di dalam pembicaraannya, dan di dalam perkataannya saat memerintahkan yang ma’ruf”. (Tafsir Al-Qurthubi 11/200)
Ketika kholifah Al-Makmun dinasehati dengan kasar oleh seseorang, beliau berkata: “Hai laki-laki, bersikaplah lemah-lembut, sesungguhnya Allah telah mengutus orang yang lebih baik daripada kamu (yaitu nabi Musa q ), kepada orang yang lebih buruk daripada aku (yaitu Fir’aun), dan Dia memerintahkannya dengan sikap lemah-lembut”. Kemudian beliau membaca ayat di atas! (Min Sifatid Da’iyah Al-Liin war Rifq, hal: 12, karya Syekh Dr.Fadhl Ilahi)

Jumat, 29 November 2013

DAKWAH KEPADA KELUARGA



PRIORITAS DAKWAH KELUARGA SEBELUM MASYARAKAT UMUM
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasalllam memulai dakwah sirriyah (dakwah secara sembunyi), terutama kepada keluarga Nabi Muhammad SAW sendiri. ”Dan berilah peringatan kepada keluargamu terdekat.” – QS Asy-Syu’ara (26): 214.
Keluarga adalah yag paling berhak untuk di dakwahi dikarenakan mereka hidup di tengah-tengah kita dan yang paling tahu keadaan kita, dan juga berdasarkan dari ayat diatas Rasulullah tauladan kita juga diperintahkan dengan hal tersebut.
Wahyu pertama yang diterima Nabi di Gua Hira kemudian disusul dengan wahyu kedua, yang berbunyi, ”Hai orang yang berselimut, bangunlah dan berilah peringatan!” – QS Al-Mudatsir (74): 1-2. Dengan turunnya wahyu tersebut, maka mulailah dilakukan dakwah sirriyah (dakwah secara sembunyi), terutama kepada keluarganya sendiri. ”Dan berilah peringatan kepada keluargamu terdekat.” – QS Asy-Syu’ara (26): 214.
Menurut M. Yunan Yusuf dalam makalah berjudul Strategi Dakwah Rasulullah, Dari Kerabat Menuju Kesatuan Umat, dalam buku Kajian Tematik Al-Quran tentang Fiqih Ibadah, keluarga terdekat Rasulullah bila ditelurusi dari silsilah berawal dari Qushai. Qushai mempunyai tiga orang anak, masing-masing bernama Abdul Uzza, Abdul Manaf, dan Abdul Darr. Dari ketiga anak ini, silsilah Rasulullah berkaitan dengan Abdul Manaf, yang mempunyai empat anak. Yaitu Muthalib, Hasyim, Naufal, dan Abd Syams. Hasyim mempunyai seorang anak bernama Abdul Muthalib. Selanjutnya, Abdul Muthalib mempunyi sepuluh anak, tetapi yang disebut namanya hanya enam orang, yaitu Abdullah, Abbas, Abu Lahab, Abu Thalib, Haris, Hamzah. Abdullah adalah ayah Rasulullah.

Rabu, 17 Juli 2013

RETORIKA DAKWAH (Persiapan)






Retorika Dakwah
(Persiapan)

*Semangat dalam menyampaikan materi
*Buat kesan pertama jama’ah terkesan

Retorika Dalam Praktek:

1.      Pentingnya Persiapan
 
Dalam menyampaikan materi didepan jama’ah sangat perlu diadakannya persiapan, dan menganggap bahwa audien adalah orang-orang yang alim. Setiap akan melakukan sesuatu kegiatan apapun perlu adanya persiapan, persiapan merupakan sesuatu yang amat penting. Dalam berceramah dan khutbah, persiapan menjadi lebih penting lagi bagi pemula atau siapa saja yang belum berpengalaman. Plato pernah mengatakan, ”jika seseorang berbicara didepan khalayak tanpa persiapan bagaikan telanjang didepan umum”.

Imam Jalaluddin Abdurrahman ibnu Abi bakar As suyuthi menyebutkan dalam kitabnya;

الفتح الكبير في ضم الزيادة إلى الجامع الصغير (3/ 23)
لِكُلِّ شَيْءٍ طَرِيقٌ وَطَرِيقُ الجَنَّةِ الْعِلْمُ عن ابن عمر

“setiap sesuatu itu ada caranya, dan cara menuju surga adalah ilmu”.(dari Ibnu Umar)

Selasa, 30 April 2013

KEBANGKITAN DAN DAKWAH



KEBANGKITAN DAN DAKWAH

Kebangkitan dan dakwah adalah sesuatu yang sangat penting dalam islam bagaikan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain, dengan dua hal tersebut ummat ini akan menuju perubahan yang lebih baik jika benar-benar bisa bangkit dan mendakwahkan ajarannya kepada seluru alam, sehingga hukum yang telah ditetapkan oleh Rabbil’izzati bisa diaplikasikan dalam kehidupan seluruh ummat manusia. Dengan begitu diharapkan bagi ummat ini untuk menuju derajat yang lebih tinggi dalam stratata kehidupan manusia baik di dunia maupun di akhirat, dalam hal ini kita akan membahas dulu tentang pengertian kebangkitan dan dakwah.
Pengertian kebangkitan (ash-shahwah) yang langsung terlintas di dalam benak kita adalah kata: shaha-yashhu; artinya bangun(Sadar tidak tidur)[1]. Melihat realita saat ini, keadaan umat adalah bagaikan orang yang sedang tidur, yang terlena dari kesadarannya(sebagaimana yang disebutkan syaikh ‘Utsamin dalam kitabnya”Ash Shahwah Al Islamiyah”).
Ash-shaha, artinya lenyap mabuknya. Orang Arab membandingkan mabuk dengan as-Shahwah, yakni antara berakal dan tidak berakal.[2] Di antara contohnya: dia ingin mengambilnya antara as-sukrah dan as-shahwah. Ini misalnya seorang pelajar yang merasa bodoh, sementara ia mengetahui.
Shaha dalam bahasa Arab – jika untuk menyifati manusia – juga diartikan dengan kesadaran, kesembuhan dan kebangunan. Hal itu diketahui dari lawan katanya, yaitu tidur atau mabuk. Dikatakan: Shaha min nawmih aw min sukrih (Dia bangkit dari tidurnya atau sadar dari mabuknya). Maknanya: bangkit/sadar.[3] Dengan kata lain, kesadarannya telah kembali yang sebelumnya lenyap dari dirinya sebagai akibat dari sesuatu yang alami, yaitu tidur, atau suatu rekayasa, yaitu mabuk.
Ash-Shahwah (kebangkitan) pada asalnya untuk menyatakan kekuatan kesadaran pada diri manusia yang diungkapkan dengan hati atau kesadaran atau akal[4], Sesuatu yang membuat limbung umat adalah sama dengan apa yang membuat limbung individu, yaitu hilangnya kesadaran baik jangka panjang maupun pendek akibat tidur dan terlenanya umat dari dalam diri umat sendiri atau dari luar akibat tidur yang dipaksakan kepadanya oleh pihak lain. Jadi ash-shahwah (kebangkitan) artinya adalah kembalinya kesadaran dan kembalinya kewaspadaan umat yang sebelumnya telah hilang.
Inilah pengertian etimologis dari kata bangkit dan kebangkitan. Adapun makna istilah kata kebangkitan (ash-shahwah) sebagaimana diketahui adalah kebangkitan dari keterpurukan dan keterlenaan serta dari ketiadaan pemahaman terhadap realita hakiki yang menjadi realita hidup umat. Hal itu akibat dari banyak faktor yang menutupi umat dari kebenaran; memalingkan umat dari memahami realita; dan kewaspadaan umat terhadap realita ini serta upaya umat untuk mengubah dan membebaskan diri darinya menuju realita yang lebih mulia.
Sedangkan makna dakwah adalah Secara bahasa perkataan da’wah berasal dari kata kerja دعا يدعو دعوة    (da’â – yad’û, da’watan), yang berarti mengajak, menyeru, memanggil.[5] Disebutkan juga dalam kamus al munjid dengan arti yang serupa yaitu  دعا يدعو دعوة   artinya memanggil/mengajak atau panggilan/ajakan.[6] Syaikh Abdurrahman ibnu Nashir As Sa’di menyebutkan dalam tafsirnya pada penafsiran dari surat Al Baqarah ayat 186, bahwa; Panggilan itu dibagi menjadi dua(2):
a.       Panggilan kepada ibadah
b.      Panggilan kepada masalah[7]
Dari dua pengertian dakwah yang disampikan oleh Syaikh Abdurrahman ibnu Nashir As Sa’di, tentu saja dakwah yang kita dimaksudkan adalah dakwah kepada ibadah. Yaitu mengajak manusia kepada ibadah kepada Allah Ta’ala saja. Dan dengan dakwah ini pula diharapkan bisa membangkitkan ummat yang sedang terpuruk dari berbagai segi kehidupannya, dari segi agama ummat ini sangat kurang dan dari segi harta juga masih banyak yang berada pada garis kemiskinan. Dan cara untuk membangkitkan mereka adalah dengan mendakwahkan ajaran agama ini sehingga ummat faham betul hakikat hidup dan mereka diciptakan oleh Allah Ta’ala, dengan kefahaman yang mereka miliki diharapkan menimbulkan kesadaran untuk bangkit dan turut andil dalam perjuangan dan dakwah ini.

Rabu, 10 April 2013

TAUJIHAT SHAHWAH ISLAMIYAH





Panduan Kebangkitan Islam Syaikh 'Utsaimin 73-81



ORIENTASI SYABABUSH SHAHWAH

Tidak Diperbolehkan Bagi Seseorang Berbicara Tentang Agama Tanpa Ilmu
73. Nasihat apa yang diberikan kepada kaum supaya mereka menegakkan dakwah Ilallah dengan mendatangi serta mengajaknya kemasjid, sebagian dari mereka tidak mengerti ilmu sedikitpun?
Adapun metode meng-ishlah yang tepat adalah melihat  dan mengikuti dengan media(perantara) yang sesuai selama media itu bukanlah sesuatu yang dilarang, karena media terbatas dengan dzatnya dan tidak disebut sebagai hukum, tetapi pada media itu adanya adalah ahkamul maqasid(maksud dari hukum) tersebut.
Adapun media yang terlarang tidaklah diperbolehkan mengikutinya, seperti; seseorang yang menjadikan menari dan menyanyi sebagai media untuk mengumpukan manusia, kemudian mengajak mereka kepada Allah, karena yang seperti itu adalah haram dan tidak bermanfaat, karena Allah tidak menjadikan obat bagi umat dari apa-apa yang diharamkannya.
Maka perantara dalam berdakwah kepada Allah adalah sesuatu yang diperbolehkan selama itu bukan perkara yang dilarang, karena media perantara pada batasan dzatnya bukanlah termasuk ibadah tetapi metode untuk mencapai tujuan yang dimaksud, seperti; mengunjungi masyrakat, membacakan Al Quran kepada meraka dan apa-apa yang mudah dari hadits-hadits Rosulullah dan mengeluarkan  meraka dengannya bersama mereka untuk mengajari dan mencerdaskan mereka maka hal ini adalah kebaikan tanpa diragukan lagi.
Dengan sebab itulah, tidak diperbolehkan seseorang berbicara tentang agama tanpa ilmu. Sebagaimana firman Allah;
قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ } [الأعراف: 33
33. Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui."(Q.S. Al A’raf: 33)
Juga firman Allah;
{وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا} [الإسراء: 36]
36. dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (Q.S. Al Isra’: 36)
Ibnu ‘Abbas menjelaskan bahwa [walaa taqfu] artinya [walaa taqul] (jangan berkata).[1]
Ibnu Katsir menerangkan ayat di atas berkata:
“Sesungguhnya Allah melarang perkataan tanpa ilmu, juga perkataan dengan dhan (persangkaan).”[2]
Itu semua adalah sangat sesuai, lebih di sukai dan sebagai peringatan, karena kebanyakan dari da’i mereka menyampaikan hadits-hadits yang tidak jelas asalnya dalam ceramah meraka. Diantaranya hadits dho’if, maupun hadits maudhu’, mereka berdakwah dengan begitu bertujuan memikat manusia dengan hadits-hadits tersebut, dan itu adalah termasuk kesalahan yang besar. Sedangkan masih banyak hadits-hadits shohih dari Rosul Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, juga dalil dari kitabullah, maka dari itu kita tinggalkan menggunakan hadits-hadits yang maudhu’ dan dho’if.[3]
Sebagai seorang da’i harus selalu jujur dalam menyampaikan risalah dakwah dengan cara menyampaikan yang sesuai dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah. Jujur adalah sifat yang harus dimiliki oleh semua orang terkhusus lagi bagi seorang da’i, dan Rasul-pun mewajibkan kepada ummatnya untuk selalu berlaku jujur sebagaimana sabdanya yang diriwayatkan dari ‘Abdullah ibnu Mas’ud;
وعن عبد الله بن مسعود قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : " عليكم بالصدق فإن الصدق يهدي إلى البر وإن البر يهدي إلى الجنة وما يزال الرجل يصدق ويتحرى الصدق حتى يكتب عند الله صديقا . وإياكم والكذب فإن الكذب يهدي إلى الفجور وإن الفجور يهدي إلى النار وما يزال الرجل يكذب ويتحرى الكذب حتى يكتب عند الله كذابا " . متفق عليه
“Wajib bagi kalian untuk bersikap jujur, kerana kejujuran akan membawa  kepada kebaikan, dan kebaikan itu akan membawa ke syurga. Apabila seseorang terus menerus bersikap jujur dan berusaha untuk sentiasa jujur maka di sisi Allah dia akan dicatat sebagai orang yang Siddiq. Dan jauhilah kedustaan, kerana kedustaan itu akan membawa kepada kefajiran[4], dan kefajiran akan menjerumuskan ke dalam neraka. Apabila seseorang terus menerus berdusta dan mempertahankan kedustaannya maka di sisi Allah dia akan dicatat sebagai seorang pendusta.”(Muttafaqun ‘Alaih).[5]

TELA'AH MAJALAH SABILI


TELA’AH MAJALAH SABILI


1.    PENDAHULUAN
Seiring dengan perkembangan zaman, media massa tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan masyarakat, kehadiran media masa memberikan kemudahan pada masyarakat dalam memperoleh informasi dengan mudah diakses melalui televisi, radio, internet, majalah, Koran, dll.
Secara garis besar, media masa dapat dibagi menjadi dua yaitu, media masa cetak (majalah, Koran, dll). dan media masa  eletronik (televisi, radio, internet). Media masa ini terus berkembang hingga saat ini, perkembangannya dapat kita lihat melalu banyaknya atau bertambahnya media masa sekarang ini. Salah satu media cetak yang mengalami perkembangan pada saat ini adalah majalah.
Perkembangan majalah dengan konsep Islami sangatlah menarik untuk dicermati, selain memberikan informasi kondisi Islam, juga merupakan sebagai media dakwah. Majalah Islami ini yang menyuguhkan informasi berdasarkan kaidah Islam tentunya dengan desain yang menarik.

2.    LATAR BELAKANG BERDIRI
Pada awal zaman 1980 an, muncullah gerakan Islam, Yang paling menonjol lahirnya kelompok-kelompok pengajian usroh (dirumah-rumah). Pengajian usroh tersebut dikembangkan di masjid-masjid hingga kemudian berganti nama menjadi gerakan tarbiyah.
Salah satu bentuk strategi dakwah atau penyebaran ide-ide dalam pergerakan ini dengan membuat media masa. kemudian pada pertengan zman 1980 an dibuatlah majalah baru dengan nama SABILI. Kata Sabili itu sendiri berasal dari kata arab yang artinya “jalanku”. Majalah ini secara gotong royong dibangun oleh aktivis muslim yang tergabung Tela’ah dan Amalia Islam (TAI)

Jumat, 15 Maret 2013

RETORIKA DAKWAH



Makalah "Retorika Dakwah"
BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Bahwa setiap bentuk-bentuk komunikasi adalah sebuah drama. Karenanya seorang pembicara hendaknya mampu mendramatisir (membuat jama’ah merasa tertarik) terhadap pembicara, sedangkan menurut Walter Fisher bahwa setiap komunikasi adalah bentuk dari cerita (storytelling). Karenanya, jika seseorang mampu bercerita sesungguhnya maka ia punya potensi untuk berceramah dan untuk menjadi muballigh. Sebagaimana dalam berdakwah itu sendiri dibutuhkan retorika-retorika yang dapat membuat dakwah seseorang lebih mengena, efisien dan efektif. Terutama dalam menyosialisasikan ajaran-ajaran Islam. Maka retorika jitu harus bias dikuasai oleh seseorang yang hendak berdakwah. Dalam kaitan antara retorika dan dakwah, di sini pemakalah akan mencoba membahas mengenai keduanya.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apakah yang dimaksud dengan retorika dakwah?
2.      Apa urgensi retorika dalam dakwah?
3.      Apa kiat-kiat yang dapat membantu seseorang dalam berdakwah dengan menggunakan retorika?

C.     TUJUAN PEMBAHASAN
1.      Mengetahui dan memahami retorika dakwah.
2.      Mengetahui urgensi retorika dakwah.
3.      Mengetahui kiat-kiat yang dapat membantu seseorang dalam berdakwah dengan memakai retorika.


URGENSI DAKWAH BAGI PARA DA'I

Urgensi Ilmu Dakwah Bagi Para Da'i


1. Mengapa seorang da’I perlu mengetahui ilmu dakwah ?
Pengrtian dakwah secara singkat adalah menyeru kepada Allah, yang maksudnya adalah menyeru kepada agama Allah yakni Agama Islam.[i] Sebagaimana orang yang melakukan seruan kepada agama disebut da’i. Dalam melakukan kegiatan dakwah tentunya seorang da’I harus dan dituntut untuk mempunyai ilmu, mengingat seorang juru dakwah harus memiliki kecakapan dan keahlian (ilmu) dalam rangka menyampaikan islam kepada umat manusia, mengajarkan, serta mengamalkannya dalam kehidupan nyata. Seperti halnya Nabi Muhammad menyeru umat manusia kepada islam telah dibekali dengan ilmu, keyakinan, serta dalil-dalil yang kuat sehingga mampu mengislamkan bangsa Arab yang terkenal keras itu atas izin Allah.. Firman Allah dalam surat yusuf ayat, 108 :

{قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ } [يوسف: 108]
“ Katakanlah, inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Mahasuci Allah dan aku bukan termasuk orang-orang yang musyrik’

Minggu, 24 Februari 2013

PROBLEMATIKA DA'WAH MASA KINI




Problematika Da’wah Masa Kini
Oleh: Abu Syuja' Al Ishlahy
 
            Dalam berda’wah selalu saja ada lika-liku perjalanan yang dihadapi, baik itu berupa problem yang harus diselesaikan maupun dukungan yang kurang kuat dalam menyokong da’wah tersebut.

          Persoalan yang kita hadapi sekarang adalah tantangan da’wah yang semakin hebat, baik yang bersifat internal mau­pun eksternal. Tantangan itu muncul dalam berbagai bentuk kegiatan masyarakat modern, seperti perilaku dalam menda­patkan hiburan (enter­tain­ment), kepariwisataan dan seni dalam arti luas, yang semakin mem­buka peluang munculnya kerawanan-kerawanan moral dan etika. Kerawanan moral dan etik itu muncul semakin transparan dalam bentuk kemaksiatan karena disokong oleh kemajuan alat-alat teknologi informasi mutakhir seperti siaran televisi, keping-keping VCD, jaringan Internet, dan sebagainya. Kemaksiatan itu senantiasa mengalami peningkatan kualitas dan kuantitas, seperti maraknya perjudian, minum minuman keras, dan tindakan kriminal, serta menjamurnya tempat-tempat hiburan, siang atau malam, yang semua itu diawali dengan penjualan dan pendangkalan budaya moral dan rasa malu. 

Minggu, 17 Februari 2013

MAKNA RAHMATAN LIL'ALAMIN

MAKNA RAHMATAN LIL ‘ALAMIN
(Telaah QS Al-Anbiya`(21):107)



MAKALAH PENELITIAN
Disusun untuk Menyelesaikan Tugas Perkuliahan
Mata Kuliah Reading Course









Oleh:
Abu Syuja' Al Ishlahy


SEKOLAH TINGGI ILMU DA’WAH(STID) MOHAMMAD NATSIR JAKARTA
  1434 H / 2013 M




MOTTO:


RASULULLAH (SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM) ADALAH RAHMAT BAGI SELURUH ALAM

{وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ} [الأنبياء: 107]

“ dan Tiadalah Kami mengutus kamu(Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”.( Q.S Al Anbiya’: 107)





Kata Pengantar
Bismillahirrahmanirrahiim

Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan nikmat beserta karunianya, memberi nikmat iman islam, sehingga kita bisa merasakan halawatal iman(maisnya iman), dan nikmat sehat beserta kesempatan kepada kita, sehingga kita bisa beraktifitas dengan penuh semangat maksimal.
Shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang telah mendakwahkan ajaran agama islam ini hingga sampai kepada kita, sehigga kita bisa membedakan yang haq dan yang bathil, kepada keluarga beliau yang thayyibiin ath thahiriin, dan para sahabatnya yang bergelar Radhiyallahu ‘Anhum, serta kepada orang-orang yang selalu mengikuti petunjuk beliau dengan ihsan sampai hari kiamat. Amma Ba’du.
Alhamdulillah, penulis ucapkan rasa syukur kepada Allah karena karya tulis ini bisa diselesaikan dengan pertolongan-Nya dan penuh dengan perjuangan, walaupun masih banyak sekali kekurangan yang mana hal itu adalah semata-mata karena kekurangan ilmu dari penulis sendiri. Maka tak lupa penulis ucapkan terima kasih kepada:
1.      Ust. Imam Taufiq. M.Pd.I yang dengan sabar mendidik dan membimbing kami dalam mengerjakan tugas reading course ini, sehingga karya ini bisa terselesaikannya.
2.      Abi wa Ummi(Almarhum) yang selalu menjadi inspirasi dalam membangkitkan semangat untuk menuntut ilmu dan selalu berjuang di medan dakwah ilallah ini.
3.      Saudara-saudaraku yang selalu membantu baik dari segi moril maupun materi.
4.      Dan tak lupa seluruh asatidzah juga teman-teman mahasiswa di Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah(STID) Mohammad Natsir, yang selalu membantu dengan memberi semangat dan dorongan dalam belajar di kampus dakwah ini, semoga semuanya dicatat sebagai mizanul hasahah dihadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Amiin.
Dan yang terakhir penulis berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semoga karya yang singkat ini bisa bermanfaat, khususnya bagi penulis sendiri, umumnya bagi pembaca yang budiman dan seluruh kaum muslimin. Amiin.


 Bekasi, 08 Januari 2013 M

       Abu Syuja' Al Ishlahy 




Daftar Isi

Halaman Judul......................................................................................................... 
Motto....................................................................................................................... 
Kata pengantar......................................................................................................... 
Daftar Isi.................................................................................................................. 
BAB I...................................................................................................................... 
Pendahuluan............................................................................................................. 
A. Latar Belakang Masalah............................................................................... 
...... B. Rumusan Masalah........................................................................................ 
C. Tujuan Penelitian.......................................................................................... 
...... D. Kegunaan Penelitian.................................................................................... 
E. Sumber Data................................................................................................
...... F. Sisitematika Penulisan.................................................................................. 
BAB II....................................................................................................................
Surat Al Anbiya’(21): 107.........................................................................................
A.Lafal dan Arti............................................................................................... 
...... B. Khithab (Arah Pembicaraan) Ayat............................................................... 
C. Makna Rahmatan Lil ’Alamin...................................................................... 
......      1. Dari Tinjauan Kamus...............................................................................
......      2. Dari Tinjauan Kitab Tafsir.......................................................................
a) Tafsir Rahmatan                                       ............................................ 
b) Tafsir Al ‘Alamin...................................................................................
BAB III................................................................................................................... 
Analisis.......................................................................................................................
A. Analisis Makna Rahmatan........................................................................... 
...... B. Analisis Makna Al ‘Alamin........................................................................... 
BAB IV................................................................................................................... 
Penutup......................................................................................................................
A. Kesimpulan.................................................................................................. 
...... B. Saran............................................................................................................. 
Daftar Pustaka......................................................................................................... 




 

Sample text