Mutiara Hikmah

icon

icon

Sabtu, 31 Agustus 2013

BIOGRAFI IMAM MUSLIM



IMAM MUSLIM

Penghimpun dan penyusun hadits terbaik kedua setelah Imam Bukhari adalah Imam Muslim. Nama lengkapnya ialah Imam Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim bin Kausyaz al-Qusyairi an-Naisaburi. Ia juga mengarang kitab As-Shahih (terkenal dengan Shahih Muslim). Ia salah seorang ulama terkemuka yang namanya tetap dikenal hingga kini. Ia dilahirkan di Naisabur pada tahun 206 H. menurut pendapat yang shahih sebagaimana dikemukakan oleh al-Hakim Abu Abdullah dalam kitabnya ‘Ulama’ul-Amsar.

Kehidupam Dan Perjalanannya Mencari Ilmu
Ia belajar hadits sejak masih dalam usia dini, yaitu mulaii tahun 218 H. Ia pergi ke Hijaz, Iraq, Syam, Mesir dan negara-negara lainnya.
Dalam lawatannya Imam Muslim banyak mengunjungi ulama-ulama kenamaan untuk berguru hadits kepada mereka. Di Khurasan, ia berguru kepada Yahya bin Yahya dan Ishak bin Rahawaih; di Ray ia berguru kepada Muhammad bin Mahran dan Abu ‘Ansan. Di Irak ia belajar hadits kepada Ahmad bin Hambal dan Abdullah bin Maslamah; di Hijaz belajar kepada Sa’id bin Mansur dan Abu Mas’Abuzar; di Mesir berguru kepada ‘Amr bin Sawad dan Harmalah bin Yahya, dan kepada ulama ahli hadits yang lain.
Muslim berkali-kali mengunjungi Baghdad untuk belajar kepada ulama-ulama ahli hadits, dan kunjungannya yang terakhir pada 259 H. di waktu Imam Bukhari datang ke Naisabur, Muslim sering datang kepadanya untuk berguru, sebab ia mengetahui jasa dan ilmunya. Dan ketika terjadi fitnah atau kesenjangan antara Bukhari dan Az-Zihli, ia bergabung kepada Bukhari, sehingga hal ini menjadi sebab terputusnya hubungan dengan Az-Zihli. Muslim dalam Shahihnya maupun dalam kitab lainnya, tidak memasukkan hadits-hadits yang diterima dari Az-Zihli padahal ia adalah gurunya. Hal serupa ia lakukan terhadap Bukhari. Ia tidak meriwayatkan hadits dalam Shahihnya, yang diterimanya dari Bukhari, padahal iapun sebagai gurunya. Nampaknya pada hemat Muslim, yang lebih baik adalah tidak memasukkan ke dalan Shahihnya hadits-hadits yang diterima dari kedua gurunya itu, dengan tetap mengakui mereka sebagai guru.

Senin, 22 Juli 2013

PELOPOR MAULUD NABI



Sejarah Munculnya Peringatan Maulud Nabi
Disebutkan para ahli sejarah bahwa kelompok yang pertama kali mengadakan maulid adalah kelompok Bathiniyah, mereka menamakan dirinya sebagai Bani Fatimiyah dan mengaku sebagai keturunan ahli bait (keturunan Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam). Disebutkan bahwa kelompok Batiniyah memiliki 6 peringatan maulid, yaitu maulid Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, maulid Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, maulid Fatimah, maulid Hasan, maulid Husain dan maulid penguasa mereka. Daulah Bathiniyah ini baru berkuasa pada awal abad ke-4 H. Oleh karena itu, para ulama sepakat bahwa maulid Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam baru muncul di zaman belakangan, setelah berakhirnya massa tiga abad yang paling utama dalam umat ini (al quruun al mufadholah). Artinya peringatan maulid ini belum pernah ada di zaman Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dan para sahabat, tabi’in dan para tabi’ tabi’in. Al Hafizh As Sakhawi mengatakan: “Peringatan maulid Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam belum pernah dinukil dari seorang pun ulama generasi terdahulu yang termasuk dalam tiga generasi utama dalam Islam. Namun peringatan ini terjadi setelah masa itu.”

Pada hakikatnya, tujuan utama daulah ini mengadakan peringatan maulid Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam adalah dalam rangka menyebarkan aqidah dan kesesatan mereka. Mereka mengambil simpati kaum muslimin dengan kedok cinta ahli bait Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam. (Dhahiratul Ihtifal bil Maulid An Nabawi, Abdul Karim Al Hamdan)

Rabu, 17 Juli 2013

BIOGRAFI IMAM BUKHARI






IMAM BUKHARI 

Tokoh Islam penghimpun dan penyusun hadits itu banyak, dan yang lebih terkenal di antaranya seperti yang disebut diatas. Adapun urutan pertama yang paling terkenal diantara enam tokoh tersebut di atas adalah Amirul-Mu’minin fil-Hadits (pemimpin orang mukmin dalam hadits), suatu gelar ahli hadits tertinggi. Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn al-Mughirah ibn Bardizbah. Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail, terkenal kemudian sebagai Imam Bukhari, lahir di Bukhara pada 13 Syawal 194 H (21 Juli 810 M), cucu seorang Persia bernama Bardizbah. Kakeknya, Bardizbah, adalah pemeluk Majusi, agama kaumnya. Kemudian putranya, al-Mughirah, memeluk Islam di bawah bimbingan al-Yaman al Ja’fi, gubernur Bukhara. Pada masa itu Wala dinisbahkan kepadanya. Kerana itulah ia dikatakan “al-Mughirah al-Jafi.”
Mengenai kakeknya, Ibrahim, tidak terdapat data yang menjelaskan. Sedangkan ayahnya, Ismail, seorang ulama besar ahli hadits. Ia belajar hadits dari Hammad ibn Zayd dan Imam Malik. Riwayat hidupnya telah dipaparkan oleh Ibn Hibban dalam kitab As-Siqat, begitu juga putranya, Imam Bukhari, membuat biografinya dalam at-Tarikh al-Kabir.
Ayah Bukhari disamping sebagai orang berilmu, ia juga sangat wara’ (menghindari yang subhat/meragukan dan haram) dan taqwa. Diceritakan, bahawa ketika menjelang wafatnya, ia berkata: “Dalam harta yang kumiliki tidak terdapat sedikitpun wang yang haram maupun yang subhat.” Dengan demikian, jelaslah bahawa Bukhari hidup dan terlahir dalam lingkungan keluarga yang berilmu, taat beragama dan wara’. Tidak hairan jika ia lahir dan mewarisi sifat-sifat mulia dari ayahnya itu.
Ia dilahirkan di Bukhara setelah salat Jum’at. Tak lama setelah bayi yang baru lahr itu membuka matanya, iapun kehilangan penglihatannya. Ayahnya sangat bersedih hati. Ibunya yang saleh menagis dan selalu berdo’a ke hadapan Tuhan, memohon agar bayinya bisa melihat. Kemudian dalam tidurnya perempuan itu bermimpi didatangi Nabi Ibrahim yang berkata:
“Wahai ibu, Allah telah menyembuhkan penyakit putramu dan kini ia sudah dapat melihat kembali, semua itu berkat do’amu yang tiada henti-hentinya.”
Ketika ia terbangun, penglihatan bayinya sudah normal. Ayahnya meninggal di waktu dia masih kecil dan meninggalkan banyak harta yang memungkinkan ia hidup dalam pertumbuhan dan perkembangan yang baik. Dia dirawat dan dididik oleh ibunya dengan tekun dan penuh perhatian.

RETORIKA DAKWAH (Persiapan)






Retorika Dakwah
(Persiapan)

*Semangat dalam menyampaikan materi
*Buat kesan pertama jama’ah terkesan

Retorika Dalam Praktek:

1.      Pentingnya Persiapan
 
Dalam menyampaikan materi didepan jama’ah sangat perlu diadakannya persiapan, dan menganggap bahwa audien adalah orang-orang yang alim. Setiap akan melakukan sesuatu kegiatan apapun perlu adanya persiapan, persiapan merupakan sesuatu yang amat penting. Dalam berceramah dan khutbah, persiapan menjadi lebih penting lagi bagi pemula atau siapa saja yang belum berpengalaman. Plato pernah mengatakan, ”jika seseorang berbicara didepan khalayak tanpa persiapan bagaikan telanjang didepan umum”.

Imam Jalaluddin Abdurrahman ibnu Abi bakar As suyuthi menyebutkan dalam kitabnya;

الفتح الكبير في ضم الزيادة إلى الجامع الصغير (3/ 23)
لِكُلِّ شَيْءٍ طَرِيقٌ وَطَرِيقُ الجَنَّةِ الْعِلْمُ عن ابن عمر

“setiap sesuatu itu ada caranya, dan cara menuju surga adalah ilmu”.(dari Ibnu Umar)

Jumat, 17 Mei 2013

IMAM AL GHAZALI


BIOGRAFI IMAM AL GHAZALI

“Siapa yang tak kenal dengan nama Imam Al Ghazali, yang namanya sudah mengudara dan terang benderang meng-udara dilangit bagai bintang gejora yang menerangi malam gelap gulita, jasanya kepada agama islam tak akan padam karena sinaran karyanya yang sudah menyebar menerangi seluruh alam”
a.         Kelahiran Imam Al Ghazali
Imam Al Ghazali nama lengkap beliau adalah Abu Hamid Muhammad Ibnu Muhammad Al Ghazali At-Thusi, yang terkenal dengan hujjatul Islam (argumentator islam), beliau sangat di hormati dan di segani oleh para ulama’ dan umat islam pada zamannya hingga sekarang, hal ini dikarenakan jasa beliau yang sangat besar terhadap islam, melalui dengan dakwah dan karyanya yang menyebar keseluruh penjuru dunia termasuk di indonesia. Beliau lahir pada tahun 450 H, di Ghazalah suatu kota kecil yang terlelak di Thus wilayah Khurasah yang waktu itu merupakan salah satu pusat ilmu pengetahuan didunia islam.[1]
Keluarga Imam Al Ghazali sangat sederhana, ayahnya adalah seorang pengrajin wol sekaligus sebagai pedagang hasil tenunannya, dan taat beragama, mempunyai semangat keagamaan yang tinggi, seperti terlihat pada ketertarikannya kepada ‘ulama dan mengharapkan anaknya menjadi ‘ulama yang selalu memberi nasehat kepada umat. Itulah sebabnya, ayahnya sebelum wafat menitipkan anaknya (Imam Al Ghazali) dan saudarnya (Ahmad), ketika itu masih kecil dititipkan pada teman ayahnya, seorang ahli tasawuf untuk mendapatkan bimbingan dan didikan.[2] Meskipun dilahirkan dikalangan keluarga yang sederhana, hal ini tidak menjadikan beliau malas namun justru menjadi penyemangat beliau dalam menuntut ilmu pengetahuan, sehingga kita dapat mempelajari karya-karyanya yang sangat banyak dalam hal keislaman dan ilmu lainnya.

Selasa, 30 April 2013

KEBANGKITAN DAN DAKWAH



KEBANGKITAN DAN DAKWAH

Kebangkitan dan dakwah adalah sesuatu yang sangat penting dalam islam bagaikan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain, dengan dua hal tersebut ummat ini akan menuju perubahan yang lebih baik jika benar-benar bisa bangkit dan mendakwahkan ajarannya kepada seluru alam, sehingga hukum yang telah ditetapkan oleh Rabbil’izzati bisa diaplikasikan dalam kehidupan seluruh ummat manusia. Dengan begitu diharapkan bagi ummat ini untuk menuju derajat yang lebih tinggi dalam stratata kehidupan manusia baik di dunia maupun di akhirat, dalam hal ini kita akan membahas dulu tentang pengertian kebangkitan dan dakwah.
Pengertian kebangkitan (ash-shahwah) yang langsung terlintas di dalam benak kita adalah kata: shaha-yashhu; artinya bangun(Sadar tidak tidur)[1]. Melihat realita saat ini, keadaan umat adalah bagaikan orang yang sedang tidur, yang terlena dari kesadarannya(sebagaimana yang disebutkan syaikh ‘Utsamin dalam kitabnya”Ash Shahwah Al Islamiyah”).
Ash-shaha, artinya lenyap mabuknya. Orang Arab membandingkan mabuk dengan as-Shahwah, yakni antara berakal dan tidak berakal.[2] Di antara contohnya: dia ingin mengambilnya antara as-sukrah dan as-shahwah. Ini misalnya seorang pelajar yang merasa bodoh, sementara ia mengetahui.
Shaha dalam bahasa Arab – jika untuk menyifati manusia – juga diartikan dengan kesadaran, kesembuhan dan kebangunan. Hal itu diketahui dari lawan katanya, yaitu tidur atau mabuk. Dikatakan: Shaha min nawmih aw min sukrih (Dia bangkit dari tidurnya atau sadar dari mabuknya). Maknanya: bangkit/sadar.[3] Dengan kata lain, kesadarannya telah kembali yang sebelumnya lenyap dari dirinya sebagai akibat dari sesuatu yang alami, yaitu tidur, atau suatu rekayasa, yaitu mabuk.
Ash-Shahwah (kebangkitan) pada asalnya untuk menyatakan kekuatan kesadaran pada diri manusia yang diungkapkan dengan hati atau kesadaran atau akal[4], Sesuatu yang membuat limbung umat adalah sama dengan apa yang membuat limbung individu, yaitu hilangnya kesadaran baik jangka panjang maupun pendek akibat tidur dan terlenanya umat dari dalam diri umat sendiri atau dari luar akibat tidur yang dipaksakan kepadanya oleh pihak lain. Jadi ash-shahwah (kebangkitan) artinya adalah kembalinya kesadaran dan kembalinya kewaspadaan umat yang sebelumnya telah hilang.
Inilah pengertian etimologis dari kata bangkit dan kebangkitan. Adapun makna istilah kata kebangkitan (ash-shahwah) sebagaimana diketahui adalah kebangkitan dari keterpurukan dan keterlenaan serta dari ketiadaan pemahaman terhadap realita hakiki yang menjadi realita hidup umat. Hal itu akibat dari banyak faktor yang menutupi umat dari kebenaran; memalingkan umat dari memahami realita; dan kewaspadaan umat terhadap realita ini serta upaya umat untuk mengubah dan membebaskan diri darinya menuju realita yang lebih mulia.
Sedangkan makna dakwah adalah Secara bahasa perkataan da’wah berasal dari kata kerja دعا يدعو دعوة    (da’â – yad’û, da’watan), yang berarti mengajak, menyeru, memanggil.[5] Disebutkan juga dalam kamus al munjid dengan arti yang serupa yaitu  دعا يدعو دعوة   artinya memanggil/mengajak atau panggilan/ajakan.[6] Syaikh Abdurrahman ibnu Nashir As Sa’di menyebutkan dalam tafsirnya pada penafsiran dari surat Al Baqarah ayat 186, bahwa; Panggilan itu dibagi menjadi dua(2):
a.       Panggilan kepada ibadah
b.      Panggilan kepada masalah[7]
Dari dua pengertian dakwah yang disampikan oleh Syaikh Abdurrahman ibnu Nashir As Sa’di, tentu saja dakwah yang kita dimaksudkan adalah dakwah kepada ibadah. Yaitu mengajak manusia kepada ibadah kepada Allah Ta’ala saja. Dan dengan dakwah ini pula diharapkan bisa membangkitkan ummat yang sedang terpuruk dari berbagai segi kehidupannya, dari segi agama ummat ini sangat kurang dan dari segi harta juga masih banyak yang berada pada garis kemiskinan. Dan cara untuk membangkitkan mereka adalah dengan mendakwahkan ajaran agama ini sehingga ummat faham betul hakikat hidup dan mereka diciptakan oleh Allah Ta’ala, dengan kefahaman yang mereka miliki diharapkan menimbulkan kesadaran untuk bangkit dan turut andil dalam perjuangan dan dakwah ini.

Selasa, 16 April 2013

AL-WALA' WAL BARA' MENURUT AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH




AL-WALA' WAL BARA'
MENURUT AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH

Salah satu dari prinsip ‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah, yaitu mencintai dan memberikan wala' (loyalitas) kepada kaum Mukminin, membenci kaum musyrikin dan orang-orang kafir serta berpaling (bara') dari mereka.[1]
Al-Wala' dalam bahasa Arab mempunyai beberapa arti, antara lain; mencintai, menolong, mengikuti dan mendekat kepada sesuatu. Selanjutnya, kata al-muwaalaah (لْمُوَالاَةُ) adalah lawan kata dari al-mu'aadaah(الْمُعَادَاةُ) atau al-‘adawaah(الْعَدَوَاةُ) yang berarti permusuhan. Dan kata al-wali (الْوَلِى) adalah lawan kata dari al-‘aduww (الْعَدُوُّ) yang berarti musuh.[2] Kata ini juga digunakan untuk makna memantau, mengikuti, dan berpaling. Jadi, ia merupakan kata yang mengandung dua arti yang saling berlawanan.
Dalam terminologi syari'at Islam, al-Wala' berarti penyesuaian diri seorang hamba terhadap apa yang dicintai dan diridhai Allah berupa perkataan, perbuatan, kepercayaan, dan orang yang melakukannya. Jadi ciri utama wali Allah adalah mencintai apa yang dicintai Allah dan membenci apa yang dibenci Allah, ia condong dan melakukan semua itu dengan penuh komitmen. Dan mencintai orang yang dicintai Allah, seperti seorang mukmin, serta membenci orang yang dibenci Allah, seperti orang kafir.[3]
Sedangkan kata al-bara' dalam bahasa Arab mempunyai banyak arti, antara lain menjauhi, membersihkan diri, melepaskan diri dan memusuhi. Kata bari-a (بَرِيءَ) berarti Bebas,[4] atau membebaskan diri dengan melaksanakan kewajibannya terhadap orang lain.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
بَرَاءَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِه.....
“(Inilah pernyataan) pemutusan hubungan dari Allah dan Rasul-Nya.... ” [At-Taubah: 1]
Maksudnya, membebaskan diri, menjauh, menganggap selesai dengan peringatan terhadapnya.[5]
Maka, Kesimpulan makna al-wala' adalah apa yang dicintai Allah, sedangkan Kesimpulan makna al-bara' adalah apa yang dibenci Allah. 

A. Definisi ‘Aqidah al-Wala' dan al-Bara'
Dari penjelasan diatas: ‘aqidah al-wala' wal-bara' dapat didefinisikan sebagai penyesuaian diri seorang hamba terhadap apa yang dicintai dan diridhai Allah serta apa yang dibenci dan dimurkai Allah, dalam hal perkataan, perbuatan, dan kepercayaan. Dari sini kemudian kaitan-kaitan al-wala' wal bara' dibagi menjadi empat:
 

Sample text