Mutiara Hikmah

icon

icon

Senin, 18 Maret 2013

HUKUM BAGI LAKI-LAKI MEMAKAI CELAK



Hukum Memakai Celak Bagi Laki-Laki
Celak biasanya berupa bubuk untuk memalit bulu mata atau disapukan di sekeliling mata. Telah diketahui banyak orang bahwa celak adalah perhiasan yang dipakai wanita untuk berhias. Walaupun terdapat perbedaan diantara para ulama tentang boleh-tidaknya wanita bercelak di depan lelaki non-mahram. Namun yang menjadi bahasan dalam artikel singkat ini adalah tentang bagaimana hukum memakai celak bagi laki-laki. Dalam artikel singkat ini hanya akan dibawakan beberapa hadits tentang celak dan fatwa para ulama abad ini tentang masalah tersebut.
HADITS-HADITS TENTANG MEMAKAI CELAK
Hadits 1:

اكْتَحِلُوا بِالْإِثْمِدِ فَإِنَّهُ يَجْلُو الْبَصَرَ وَيُنْبِتُ الشَّعْرَ

“Bercelaklah kalian dengan itsmid, karena dia bisa mencerahkan mata dan menumbuhkan rambut” (HR. At Tirmidzi no.1679 dalam Sunan-nya bab Maa jaa-a fil iktihaal, Ahmad no.15341 dalam Musnad-nya)
Status hadits:
At Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan gharib”. Al Mubarakfuri berkata dalam Tuhfatul Ahwadzi: “Dikeluarkan juga oleh Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban”.
Hadits 2:

عَلَيْكُمْ بِالْإِثْمِدِ عِنْدَ النَّوْمِ فَإِنَّهُ يَجْلُو الْبَصَرَ وَيُنْبِتُ الشَّعَرَ

“Bercelaklah memakai itsmid ketika hendak tidur, karena ia dapat mencerahkan pandangan dan menumbuhkan rambut” (HR. Ibnu Majah dalam Sunan-nya no.3846 bab Al Kahlu Bil Itsmid)
Status hadits:
Dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan Ibni Majah (2/263/2818).
Hadits 3:
Dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi bersabda:

وَإِنَّ خَيْرَ أَكْحَالِكُمُ الْإِثْمِدُ يَجْلُو الْبَصَرَ وَيُنْبِتُ الشَّعْرَ

“Celak yang paling baik bagi kalian adalah istmid, ia bisa mencerahkan pandangan dan menumbuhkan rambut” (HR. Abu Daud no.3380 dan 3539, Ibnu Majah no. 3488, Ahmad no. 2109)
Status Hadits:
Dalam Aunul Ma’bud dijelaskan bahwa Imam At Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan shahih”. Di shahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud (2/766/3426).
Hadits 4

عليكم بالإثمد ؛ فإنه منبتة للشعر ، مذهبة للقذى ، مصفاة للبصر

“Bercelaklah dengan itsmid. Karena ia menumbuhkan rambut, mengilangkan kotoran yang masuk ke mata, dan mencerahkan pandangan”
(HR. ‘Abu Ashim, Ath Thabrani. Lihat Aunul Ma’bud syarah hadits no. 1679)
Status hadits:

Dihasankan oleh Al Albani dalam Silsilah Ahaadits Shohihah (2/270/665)

Jumat, 15 Maret 2013

RETORIKA DAKWAH



Makalah "Retorika Dakwah"
BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Bahwa setiap bentuk-bentuk komunikasi adalah sebuah drama. Karenanya seorang pembicara hendaknya mampu mendramatisir (membuat jama’ah merasa tertarik) terhadap pembicara, sedangkan menurut Walter Fisher bahwa setiap komunikasi adalah bentuk dari cerita (storytelling). Karenanya, jika seseorang mampu bercerita sesungguhnya maka ia punya potensi untuk berceramah dan untuk menjadi muballigh. Sebagaimana dalam berdakwah itu sendiri dibutuhkan retorika-retorika yang dapat membuat dakwah seseorang lebih mengena, efisien dan efektif. Terutama dalam menyosialisasikan ajaran-ajaran Islam. Maka retorika jitu harus bias dikuasai oleh seseorang yang hendak berdakwah. Dalam kaitan antara retorika dan dakwah, di sini pemakalah akan mencoba membahas mengenai keduanya.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apakah yang dimaksud dengan retorika dakwah?
2.      Apa urgensi retorika dalam dakwah?
3.      Apa kiat-kiat yang dapat membantu seseorang dalam berdakwah dengan menggunakan retorika?

C.     TUJUAN PEMBAHASAN
1.      Mengetahui dan memahami retorika dakwah.
2.      Mengetahui urgensi retorika dakwah.
3.      Mengetahui kiat-kiat yang dapat membantu seseorang dalam berdakwah dengan memakai retorika.


URGENSI DAKWAH BAGI PARA DA'I

Urgensi Ilmu Dakwah Bagi Para Da'i


1. Mengapa seorang da’I perlu mengetahui ilmu dakwah ?
Pengrtian dakwah secara singkat adalah menyeru kepada Allah, yang maksudnya adalah menyeru kepada agama Allah yakni Agama Islam.[i] Sebagaimana orang yang melakukan seruan kepada agama disebut da’i. Dalam melakukan kegiatan dakwah tentunya seorang da’I harus dan dituntut untuk mempunyai ilmu, mengingat seorang juru dakwah harus memiliki kecakapan dan keahlian (ilmu) dalam rangka menyampaikan islam kepada umat manusia, mengajarkan, serta mengamalkannya dalam kehidupan nyata. Seperti halnya Nabi Muhammad menyeru umat manusia kepada islam telah dibekali dengan ilmu, keyakinan, serta dalil-dalil yang kuat sehingga mampu mengislamkan bangsa Arab yang terkenal keras itu atas izin Allah.. Firman Allah dalam surat yusuf ayat, 108 :

{قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ } [يوسف: 108]
“ Katakanlah, inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Mahasuci Allah dan aku bukan termasuk orang-orang yang musyrik’

Minggu, 24 Februari 2013

PROBLEMATIKA DA'WAH MASA KINI




Problematika Da’wah Masa Kini
Oleh: Abu Syuja' Al Ishlahy
 
            Dalam berda’wah selalu saja ada lika-liku perjalanan yang dihadapi, baik itu berupa problem yang harus diselesaikan maupun dukungan yang kurang kuat dalam menyokong da’wah tersebut.

          Persoalan yang kita hadapi sekarang adalah tantangan da’wah yang semakin hebat, baik yang bersifat internal mau­pun eksternal. Tantangan itu muncul dalam berbagai bentuk kegiatan masyarakat modern, seperti perilaku dalam menda­patkan hiburan (enter­tain­ment), kepariwisataan dan seni dalam arti luas, yang semakin mem­buka peluang munculnya kerawanan-kerawanan moral dan etika. Kerawanan moral dan etik itu muncul semakin transparan dalam bentuk kemaksiatan karena disokong oleh kemajuan alat-alat teknologi informasi mutakhir seperti siaran televisi, keping-keping VCD, jaringan Internet, dan sebagainya. Kemaksiatan itu senantiasa mengalami peningkatan kualitas dan kuantitas, seperti maraknya perjudian, minum minuman keras, dan tindakan kriminal, serta menjamurnya tempat-tempat hiburan, siang atau malam, yang semua itu diawali dengan penjualan dan pendangkalan budaya moral dan rasa malu. 

Minggu, 17 Februari 2013

MAKNA RAHMATAN LIL'ALAMIN

MAKNA RAHMATAN LIL ‘ALAMIN
(Telaah QS Al-Anbiya`(21):107)



MAKALAH PENELITIAN
Disusun untuk Menyelesaikan Tugas Perkuliahan
Mata Kuliah Reading Course









Oleh:
Abu Syuja' Al Ishlahy


SEKOLAH TINGGI ILMU DA’WAH(STID) MOHAMMAD NATSIR JAKARTA
  1434 H / 2013 M




MOTTO:


RASULULLAH (SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM) ADALAH RAHMAT BAGI SELURUH ALAM

{وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ} [الأنبياء: 107]

“ dan Tiadalah Kami mengutus kamu(Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”.( Q.S Al Anbiya’: 107)





Kata Pengantar
Bismillahirrahmanirrahiim

Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan nikmat beserta karunianya, memberi nikmat iman islam, sehingga kita bisa merasakan halawatal iman(maisnya iman), dan nikmat sehat beserta kesempatan kepada kita, sehingga kita bisa beraktifitas dengan penuh semangat maksimal.
Shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang telah mendakwahkan ajaran agama islam ini hingga sampai kepada kita, sehigga kita bisa membedakan yang haq dan yang bathil, kepada keluarga beliau yang thayyibiin ath thahiriin, dan para sahabatnya yang bergelar Radhiyallahu ‘Anhum, serta kepada orang-orang yang selalu mengikuti petunjuk beliau dengan ihsan sampai hari kiamat. Amma Ba’du.
Alhamdulillah, penulis ucapkan rasa syukur kepada Allah karena karya tulis ini bisa diselesaikan dengan pertolongan-Nya dan penuh dengan perjuangan, walaupun masih banyak sekali kekurangan yang mana hal itu adalah semata-mata karena kekurangan ilmu dari penulis sendiri. Maka tak lupa penulis ucapkan terima kasih kepada:
1.      Ust. Imam Taufiq. M.Pd.I yang dengan sabar mendidik dan membimbing kami dalam mengerjakan tugas reading course ini, sehingga karya ini bisa terselesaikannya.
2.      Abi wa Ummi(Almarhum) yang selalu menjadi inspirasi dalam membangkitkan semangat untuk menuntut ilmu dan selalu berjuang di medan dakwah ilallah ini.
3.      Saudara-saudaraku yang selalu membantu baik dari segi moril maupun materi.
4.      Dan tak lupa seluruh asatidzah juga teman-teman mahasiswa di Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah(STID) Mohammad Natsir, yang selalu membantu dengan memberi semangat dan dorongan dalam belajar di kampus dakwah ini, semoga semuanya dicatat sebagai mizanul hasahah dihadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Amiin.
Dan yang terakhir penulis berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semoga karya yang singkat ini bisa bermanfaat, khususnya bagi penulis sendiri, umumnya bagi pembaca yang budiman dan seluruh kaum muslimin. Amiin.


 Bekasi, 08 Januari 2013 M

       Abu Syuja' Al Ishlahy 




Daftar Isi

Halaman Judul......................................................................................................... 
Motto....................................................................................................................... 
Kata pengantar......................................................................................................... 
Daftar Isi.................................................................................................................. 
BAB I...................................................................................................................... 
Pendahuluan............................................................................................................. 
A. Latar Belakang Masalah............................................................................... 
...... B. Rumusan Masalah........................................................................................ 
C. Tujuan Penelitian.......................................................................................... 
...... D. Kegunaan Penelitian.................................................................................... 
E. Sumber Data................................................................................................
...... F. Sisitematika Penulisan.................................................................................. 
BAB II....................................................................................................................
Surat Al Anbiya’(21): 107.........................................................................................
A.Lafal dan Arti............................................................................................... 
...... B. Khithab (Arah Pembicaraan) Ayat............................................................... 
C. Makna Rahmatan Lil ’Alamin...................................................................... 
......      1. Dari Tinjauan Kamus...............................................................................
......      2. Dari Tinjauan Kitab Tafsir.......................................................................
a) Tafsir Rahmatan                                       ............................................ 
b) Tafsir Al ‘Alamin...................................................................................
BAB III................................................................................................................... 
Analisis.......................................................................................................................
A. Analisis Makna Rahmatan........................................................................... 
...... B. Analisis Makna Al ‘Alamin........................................................................... 
BAB IV................................................................................................................... 
Penutup......................................................................................................................
A. Kesimpulan.................................................................................................. 
...... B. Saran............................................................................................................. 
Daftar Pustaka......................................................................................................... 




SHALAT BERJAMA'AH


SHALAT BERJAMA’AH
Oleh: Abu Syuja' Al Ishlahy

A.    Pendahuluan
Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rasulillah wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’ain.
Sungguh prihatin melihat kondisi umat Islam saat ini. Jika kita sedikit memalingkan pandangan ke masjid-masjid, kita akan menyaksikan bahwa rumah Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang ada sangat sedikit sekali dihuni oleh jama’ah ketika mu’adzin mengumandangkan hayya ‘ala shalah.
            Maka, berlatar belakang inilah, dalam makalah yang ringkas ini kami berusaha memberikan sedikit penjelasan tentang shalat berjamaah, keutamaannya serta hukum  orang yang meninggalkan shalat ber jama’ah dan kami berusaha menghasung setiap orang yang membaca tulisan ini untuk melakukan shalat  berjama’ah. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala selalu memberi hidayah dan taufik-Nya kepada kita sekalian. Amiin.

B.     Problem Masyarakat dalam Memahami Makna Berjama’ah
Di era yang penuh fitnah ini banyak masyarakat yang salah dalam memahami makna jama’ah, sehingga menyebabkan salahnya dalam menyikapi hidup antar jama’ah. Ada diantaranya ta’asub dan ghuluw dengan jama’ahnya, ada pula yang meremehkan masalah jama’ah. Sehingga ketika memasuki persoalan shalat berjama’ah, kita sering dapati di beberapa daerah yang memiliki satu masjid, tetapi ketika menunaikan sholat, penduduk di dalamnya akan mengadakan shalat berjama’ah sendiri-sendiri sesuai jama’ah(kelompok) yang mereka ikuti. Kelompok A, hanya akan shalat setelah selesainya kelompok B menunaikan shalat berjama’ah, begitu juga sebaliknya. Dan itu di lakukan dalam satu masjid di satu daerah, dari sikap ta’asub pula yang menyebabkan banyaknya masyarakat yang berlomba-lomba dalam membangun masjid sampai-sampai dalam satu kampung ada tiga masjid yang semuanya dipakai shalat jum’at.

CONTOH ORGANISASI

QUDWATUL HASANAH(QUWAH)
“TELADAN YANG BAIK”
Oleh: Ibnu Abdul Qodir Al Ishlahy

A.    Latar Belakang
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam yang telah memberikan nikmat iman dan islam kepada kita, shalawat beserta salam kita haturkan kepada Nabi Muhammad Shallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabatnya yang telah mendakwahkan risalah islam sehingga kita bisa mengetahui antara yang haq dan bathil, serta kepada para orang-orang yang selalu istiqamah mengikuti jejak mereka sampai hari kiamat. Amma Ba’du.
Negara indonesia adalah negara yang terkenal dengan mayoritas penduduk muslimnya, bahkan sejarah membuktikan bahwa kaum muslimin lah yang mengusir penjajah berkat rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan penduduk mayoritas muslim indonesia di tumbuhi banyak sekali ormas-ormas islam yang bergerak dengan visi dan misi masing-masing. Maka saya memandang perlu mendirikan organisasi yang bergerak khusus di bidang dakwah dan bimbingan masyarakat kepada Allah, dengan harapan bisa terciptanya masyarakat islami yang mengamalkan Al Quran dan As Sunnah sesuai dengan pemahaman salaf ash shalih.
Organisasi ini turut berperan di masyarakat dalam membimbing dan memberikan contoh(teladan) kepada masyarakat tentang ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam dan lebih banyak berdakwah dengan bil hikmah dan mau’idhatil hasanah. Selain itu pula juga berperan dalam progam kaderisasi umat sebagai langkah kongkret dalam memperjuangkan agama islam ini.
 

Sample text